Dibalik kemegahan dan kebesaran acara adat, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Kepaksian Pernong SPDB Pangeran Edward Syah Pernong tetap menjalankan perannya dalam keseharian bukan hanya sebagai pemimpin adat tetapi sosok yang dijunjung dan dicintai dan didukung oleh rakyatnya. Kehadiran Sultan meski di tengah masyarakat dalam suasana sederhana tetap menjadi dukungan, menjadi tempat berhimpun rasa hormat, kasih sayang masyarakat adat yang sudah diwariskan secara turun temurun dan itulah nilai adat Sekala Brak Kepaksian Pernong
radarcom.id — Di tengah derasnya arus modernisasi yang menggerus nilai-nilai tradisi di berbagai daerah, Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak tetap berdiri kokoh dan semakin eksis sebagai salah satu benteng utama pelestarian adat dan budaya Lampung.
Keunikan kerajaan adat ini bukan hanya terletak pada sejarah panjangnya, tetapi juga pada konsistensi masyarakat adat dalam menjalankan tata titi adat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan anggapan bahwa adat hanya dijalankan saat upacara besar atau seremoni tertentu, masyarakat adat Sai Batin di bawah naungan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak mempraktikkan adat dalam setiap aktivitas kehidupan. Tata titi adat telah menjadi sistem sosial yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun.




Di lingkungan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, keberadaan Sultan menjadi pusat pelaksanaan pemerintahan adat. Di mana Sultan berada, di situ pula tata adat ditegakkan. Kehadiran Sultan secara otomatis menghadirkan seluruh aturan, tata krama, dan penghormatan adat yang luhur tanpa harus menunggu adanya prosesi resmi.
Dalam sistem tersebut, Sultan menjalankan pemerintahan adat secara penuh berdasarkan ketentuan yang telah diwariskan oleh leluhur. Seluruh perangkat kerajaan, mulai dari pejabat adat, panglima perang, hulubalang, hingga masyarakat adat, menjalankan peran masing-masing dengan penuh penghormatan kepada Sultan sebagai pemegang otoritas tertinggi di tatanan adat.

Sultan Simbol Pemersatu Penjaga Marwah Adat
Ketaatan terhadap tata titi adat tampak dalam berbagai kesempatan. Sebagai contoh, ketika Sultan berkunjung ke wilayah Tanggamus maupun wilayah adat lainnya, masyarakat adat secara otomatis mempersiapkan seluruh perangkat penyambutan sesuai ketentuan adat. Payung kuning kebesaran kerajaan telah tersedia sebagai simbol kehormatan, sementara tempat duduk Sultan berupa kasur Sai Batin dipersiapkan sesuai aturan yang diwariskan secara turun-temurun. Bahkan alas jalan Sultan juga diatur dengan tata titi Adat yang sudah ditentukan.
Contoh lain yang memperlihatkan hidupnya adat di keseharian dapat dilihat saat Sultan Sekala Brak Kepaksian Pernong Yang Dipertuan Ke-23, Pangeran Brigjen Pol (Purn) Drs. H. Edward Syah Pernong, S.H., M.H., turun ke wilayah adat.
Dibalik kemegahan dan kebesaran acara adat, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Kepaksian Pernong SPDB Pangeran Edward Syah Pernong tetap menjalankan perannya dalam keseharian bukan hanya sebagai pemimpin adat. Tetapi sosok yang dijunjung dan dicintai dan didukung oleh rakyatnya.



Dalam berbagai kegiatan resmi dan tidak resmi, Sultan lebih banyak hadir di tengah masyarakat dengan berpakaian sederhana tanpa iring-iringan besar, tanpa kelengkapan adat yang harus diberangkatkan ratusan jumlahnya seperti tata titi kerajaan.
Namun dalam setiap langkahnya, adab dan tata laku masyarakat adat tetap terjaga. Sultan tetap dijaga sebagai Raja Yang Dipertuan didampingi oleh para kerabat dan dikawal para pendekar pilihan Pendekar Puting Beliung yang telah mengenyam pembelajaran silat di Tanah Datar Pagaruyung selama lebih dari dua tahun dalam aliran silat Kumango, Silat Lintau dan Silat Sitaralak.


Kehadiran Sultan meski di tengah masyarakat dalam suasana sederhana tetap menjadi dukungan, menjadi tempat berhimpun rasa hormat, kasih sayang masyarakat adat yang sudah diwariskan secara turun temurun dan itulah nilai adat Sekala Brak Kepaksian Pernong.
Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak juga memiliki legitimasi historis yang kuat. Keberadaannya bukan dibentuk untuk kepentingan pertunjukan budaya, bukan pula eksibisi adat, sanggar seni, atau organisasi kemasyarakatan yang mengusung simbol-simbol tradisi. Kerajaan ini memiliki sejarah panjang, keraton sebagai pusat kebudayaan, struktur pemerintahan adat yang masih berjalan, serta masyarakat adat yang memiliki garis keturunan dan ikatan genealogis yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Warisan tersebut menjadi fondasi yang menjaga keberlangsungan adat hingga saat ini. Nilai-nilai yang diwariskan para leluhur tetap hidup karena dipraktikkan oleh masyarakat, bukan hanya diceritakan sebagai bagian dari sejarah.
Di tengah tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, keberadaan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak menjadi contoh bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui festival atau seremoni tahunan. Budaya akan tetap lestari apabila menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setiap hari.
Karena itulah, Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak hingga kini tetap dikenal sebagai salah satu kerajaan adat di Nusantara yang masih eksis, solid, dan konsisten menjaga warisan leluhur. Eksistensinya bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Lampung, tetapi juga menjadi benteng pelestari adat dan budaya yang hidup, berakar kuat dalam sejarah, serta terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salam hanggum..
(rci/rci)








