radarcom.id – Menjelang pelaksanaan muktamar Jombang (27-31/08/2026), Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. menyampaikan seruan tegas dan terbuka kepada seluruh jajaran pengurus, kader, serta para peserta muktamar di berbagai tingkatan. Gus Hilmy mengingatkan agar NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar tetap tegak menjaga marwah, kemandirian, serta kedaulatannya.
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut mendorong pengurus NU di semua tingkatan diminta untuk tidak mudah diintervensi oleh kekuatan atau kepentingan politik maupun kelompok manapun.
“Siapapun yang mencoba mendikte, menekan, atau campur tangan dalam urusan internal organisasi harus disikapi sebagai musuh bersama yang ingin merecoki keutuhan NU. Musuh bersama harus dilawan bersama. Ini demi menjaga marwah organisasi dan kemandirian serta kedaulatan peserta muktamar,” tegas pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut melalui siaran tertulis kepada media, Rabu (26/8/26).
Gus Hilmy, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa para peserta muktamar adalah kader pemikir dan pejuang NU yang mewakili kepengurusannya di setiap tingkatan. Mereka, menurut Gus Hilmy, memiliki kedaulatan penuh atas pilihan nurani mereka.
“Para peserta muktamar adalah kader-kader yang merdeka. Maka, jadilah kader yang independen. Gunakan hak suara dan nalar organisasi berdasarkan kemaslahatan umat, baik kepentingan mereka di tingkat cabang atau wilayah, maupun kemaslahatan dalam pengertian NU secara keseluruhan di masa yang akan datang. Jangan sampai kita berpartisipasi karena tekanan pihak luar. Masa kita mau nuruti pihak yang mau merecoki dan memanfaatkan organisasi kita?” ungkap Gus Hilmy.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI tersebut juga merefleksikan sejarah berdirinya NU, khususnya melalui peristiwa penyerahan tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari melalui KH. As’ad Syamsul Arifin.
“Kita ingatkan kembali pesan historis pendirian NU yang sarat makna filosofis dan spiritual melalui tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Di antaranya kita maknai bahwa kepemimpinan NU diamanahkan dengan penuh kehati-hatian, ketulusan, dan syaja’ah atau keberanian. Keduanya adalah simbol kepemimpinan kiai yang kokoh dan sakral, bukan untuk mainan dan cengengesan, apalagi komoditas tawar-menawar politik pragmatis, dan tidak boleh diserahkan kepada pihak-pihak yang hendak mempermainkan masa depan NU demi kepentingan sesaat. Justru merekalah musuh kita bersama,” jelas Gus Hilmy.
Menurut Gus Hilmy, penyerahan kedua simbol tersebut juga disertai pesan al-‘asho liman ‘asho. Kalimat itu, lanjut Gus Hilmy, menunjukkan bahwa pemimpin NU harus memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam mencarikan jalan kemaslahatan untuk NU.
“Ungkapan al-‘asho liman ‘asho itu ditafsirkan bahwa pemimpin NU harus mempunyai atau menjadi jalan atas setiap permasalahan dan tantangan, sehingga NU dapat berjalan sesuai tujuan dan mandatnya. Jangan bermain-main dengan tongkat, karena simbol kepemimpinan. Yang main-main justru adalah yang pantas digetok, diingatkan karena khawatir akan dapat kualat. Apalagi sampai menjerumuskan NU dengan berdampingan pada pihak luar yang ingin mengintervensi kita,” pungkas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY tersebut.
Gus Hilmy mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk bersatu padu, mengawal jalannya muktamar dengan khidmat, bermartabat, dan suasana penuh gembira demi menyambut hari baru NU ke depan, di abad keduanya. Kita pastikan NU senantiasa hadir sebagai penjaga akhlakul karimah serta pilar utama kebangsaan yang mandiri.
“Muktamar ini harus kita jalani dengan khidmat, bermartabat, dan penuh suasana kegembiraan. Kita menyambut lembaran baru abad kedua sesuai dengan semangat tema kita, ‘Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.’ Tema ini adalah pernyataan sikap bahwa kita menolak segala intervensi demi menjadikan NU sebagai organisasi yang berdaya dan bermartabat,” pungkas Gus Hilmy. (rls/Iis)








