Menu

Mode Gelap
Di Balik Laporan yang Wajar  Hantu Kurs Dolar Sekdaprov Marindo Kurniawan Terima Silaturahmi Pendekar Banten Tegaskan Komitmen Bela Bangsa dan Dukung Pembangunan Akhirnya, Dadan Ditahan Dorong Percepatan Pembahasan RUU Pemilu, Senator Gus Hilmy: Perlu ada Perspektif Daerah

Berita Utama · 5 Jun 2026 06:53 WIB ·

Hantu Kurs Dolar


 Ahmadie Thaha. Foto dok Perbesar

Ahmadie Thaha. Foto dok

Oleh Ahmadie Thaha*

Ketika media-media asing seperti Al-Jazeera, Yahoo, France24 ikut memberitakan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS, yang bangun sesungguhnya bukan hanya pasar. Ada hantu lama yang ikut terbangun: ingatan kolektif bangsa terhadap 1998.

Di grup WhatsApp, di warung kopi, sampai di kolom komentar media sosial, hantu krisis moneter kembali dipanggil dari alam kuburnya. Seolah-olah angka Rp18.000, apalagi nanti Rp20.000, adalah lonceng yang otomatis membangunkan arwah reformasi.

Logikanya sederhana, bahkan terlalu sederhana. Jika kejatuhan rupiah ikut menjatuhkan Soeharto pada 1998 maka kejatuhan rupiah hari ini pun diyakini sebagian orang dapat menyeret Prabowo-Gibran ke nasib yang sama. Kurs dolar pun menjelma menjadi hantu.

Masalahnya, sejarah bukan mesin fotokopi. Ia lebih mirip cucu yang mewarisi wajah kakeknya, tetapi tidak selalu mewarisi nasibnya.

Saya coba membuat tujuh atau delapan perbandingan antara kedua rezim dan era, sehingga saya dan moga-moga Anda mempunyai cermin yang lebih utuh.

 

Perbandingan pertama adalah soal kurs itu sendiri. Tahun 1998 rupiah bukan sekadar tergelincir. Ia seperti truk rem blong yang meluncur dari puncak gunung menuju jurang. Dari sekitar Rp2.500 per dolar, kurs menghantam Rp16.800.

Itu berarti kala itu dolar naik sekitar 572 persen. Setiap utang dolar berubah dari anak kucing menjadi harimau lapar yang menerkam pemiliknya sendiri.

Hari ini, dari kisaran Rp15.500 menuju Rp18.000, pelemahannya sekitar 16 persen. Sepuluh hari lalu, The Economist menyebut penurunan 11 persen. Jika suatu saat rupiah mencapai Rp20.000 per dolar, pelemahannya akan berada di kisaran 29 persen dibanding level Rp15.500.

 

Ini jelas buruk. Tetapi membandingkannya dengan 1998 sama seperti menyamakan hujan deras dengan tsunami.

Perbandingan kedua adalah cadangan devisa. Menjelang krisis 1998, Indonesia memasuki badai hanya dengan payung kecil yang hampir patah. Cadangan devisa ketika itu sekitar dua puluh miliar dolar. Hari ini payung itu telah berubah menjadi atap baja dengan cadangan devisa di atas seratus empat puluh miliar dolar. Hujan tetap bisa membasahi pakaian, tapi tidak otomatis menghanyutkan seluruh rumah.

Perbandingan ketiga adalah utang luar negeri swasta. Pada dekade 1990-an, banyak perusahaan Indonesia berpesta dengan pinjaman dolar. Musik terdengar merdu, lampu menyala terang, dan semua orang merasa kaya. Masalahnya, pesta itu dibayar dengan kartu kredit yang tagihannya baru datang saat dolar meledak.

 

Ketika kurs melonjak 572 persen, banyak perusahaan mendadak sadar bahwa mereka sedang berdansa di lantai yang ternyata rapuh. Hari ini risiko itu masih ada, tetapi aturan lindung nilai dan pengawasan jauh lebih ketat dibanding masa lalu.

Perbandingan keempat adalah situasi perbankan. Pada 1998, banyak bank ibarat rumah kayu yang diam-diam sudah dimakan rayap selama bertahun-tahun. Dari luar tampak megah. Begitu badai datang, satu demi satu roboh seperti kartu domino. Hari ini sistem perbankan Indonesia jauh lebih tebal dindingnya. Belum tentu kebal terhadap badai, tetapi setidaknya tidak lagi terbuat dari papan lapuk.

Perbandingan kelima adalah pertumbuhan ekonomi. Tahun 1998 ekonomi Indonesia terjun sampai minus sekitar 13 persen. Itu bukan perlambatan. Itu pesawat yang kehilangan kedua mesinnya sekaligus. Hari ini ekonomi masih tumbuh positif. Memang ada turbulensi, tetapi pesawatnya masih terbang. Penumpang boleh cemas, tetapi belum saatnya berebut parasut.

 

Perbandingan keenam adalah dampaknya terhadap rakyat. Pada 1998, PHK menyapu berbagai sektor seperti kebakaran hutan di musim kemarau. Pabrik tutup, usaha gulung tikar, dan jutaan orang kehilangan sumber penghidupan. Hari ini tekanan ekonomi memang terasa, ada PHK pula, tetapi apinya belum menjalar menjadi kebakaran nasional yang menghanguskan seluruh kawasan.

Perbandingan ketujuh adalah politik. Inilah bagian yang paling sering disederhanakan. Banyak orang mengira Soeharto jatuh karena dolar mencapai Rp16.800.

Itu seperti menyalahkan korek api atas kebakaran hutan. Korek api memang memantik api, tetapi yang membuat hutan menjadi lautan bara adalah tumpukan ranting kering yang menumpuk selama puluhan tahun.

 

Soeharto jatuh ketika krisis kurs bertemu krisis perbankan, krisis ekonomi, perpecahan elite, gerakan mahasiswa, dan hilangnya legitimasi politik. Kurs dolar hanyalah pemicu. Yang merobohkan bangunan adalah fondasi yang sudah retak jauh sebelumnya.

Oleh karena itu, menyamakan Rp18.000 hari ini dengan Rp16.800 tahun 1998 adalah cara tercepat untuk terlihat paham sejarah tanpa harus mempelajarinya.

Semacam kemalasan berpikir yang dibungkus kenangan sejarah.

 

Namun jangan buru-buru merasa aman. Ada satu hal yang justru lebih berbahaya sekarang. Namanya kepercayaan. Dan seperti rupiah, kepercayaan juga bisa mengalami depresiasi.

Bedanya, Bank Indonesia punya cadangan devisa. Tidak ada bank sentral yang memiliki cadangan kepercayaan.

Pada 1998 semua orang tahu rumah sedang terbakar. Tidak ada yang sibuk berdebat apakah api itu benar-benar ada. Hari ini bahayanya lebih rumit. Pasar modern tidak menunggu rumah roboh. Investor tidak menunggu atap jatuh ke kepala. Mereka pergi begitu mencium bau asap dari kejauhan.

 

Oleh karena itu, persoalan terbesar bukanlah apakah kurs menyentuh Rp18.000 atau bahkan Rp20.000. Persoalan sesungguhnya adalah apakah pemerintah masih mampu meyakinkan publik bahwa mereka memegang peta ketika kapal mulai memasuki perairan yang bergelombang.

Cadangan devisa bisa dihitung. Rasio perbankan bisa diukur. Pertumbuhan ekonomi bisa diumumkan setiap triwulan. Tetapi kepercayaan tidak pernah lahir dari tabel statistik.

Sejarah menunjukkan bahwa negara jarang terguncang oleh satu angka. Negara biasanya mulai limbung ketika angka-angka buruk bertemu dengan kepercayaan yang mulai keropos.

 

Dan jika rupiah adalah mata uang ekonomi, kepercayaan adalah mata uang politik. Bedanya, rupiah yang jatuh masih bisa dibeli kembali oleh bank sentral. Rupiah yang jatuh masih bisa diintervensi. Kepercayaan yang jatuh sering kali hanya bisa dikenang.***

*Ahmadie Thaha ialah penulis dan kolumnis

Mantan wartawan Tempo dan Republika, penulis dan penerjemah buku-buku Islam, kini mengasuh di Ma’had Tadabbur al-Qur’an.

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi

 

 

Sumber: orbitbaru.com

Artikel ini telah dibaca 265 kali

Baca Lainnya

Di Balik Laporan yang Wajar 

5 Juni 2026 - 17:36 WIB

Sekdaprov Marindo Kurniawan Terima Silaturahmi Pendekar Banten Tegaskan Komitmen Bela Bangsa dan Dukung Pembangunan

4 Juni 2026 - 06:59 WIB

Akhirnya, Dadan Ditahan

3 Juni 2026 - 06:56 WIB

Dorong Percepatan Pembahasan RUU Pemilu, Senator Gus Hilmy: Perlu ada Perspektif Daerah

2 Juni 2026 - 17:07 WIB

TATA KELOLA EKSPORT SDA DALAM OPTIK POLITIK HUKUM

1 Juni 2026 - 13:19 WIB

DPW PKS Lampung Salurkan 17.400 Paket Daging Qurban, Wujudkan Semangat Berbagi hingga Pelosok Daerah

30 Mei 2026 - 20:08 WIB

Trending di Berita Utama