radarcom.id – Angkon Muakhi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menjadi adik Sultan Sekala Brak Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Pangeran Edward Syah Pernong ditandai dengan dianugerahkan Pusaka Bindung Langit.
Terungkap, menurut Pun Edward–sapaan akrab Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Kepaksian Pernong, sedianya pusaka adat yang sudah ada sejak Abad 17 ini akan diturunkan untuk Putra Mahkota Kepaksian Pernong Pangeran Alprinse Syah Pernong. Namun, pusaka peninggalan Pangeran Ringgau gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-18 itu ternyata sampai di tangan Gubernur Mirza.

Penyerahan Pusaka Tongkat Bindung Langit kepada Gubernur Mirza. Foto dok Pemprov Lampung


“Pusaka ini rencananya akan diturunkan untuk Pangeran Alprinse, tetapi dia masih sangat muda, baru lulus SMA. Tanpa ada rencana apapun, dan dalam waktu singkat, kita gelar Angkon Muakhi setelah sebelumnya bertemu di Keratuan Melinting Lampung Timur. Ternyata, Adinda Mirza juga memiliki buyut dengan nama Bindung Langit, ini adalah sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa,” kata Pun Edward kepada radarcom.id.
Gubernur Mirza Dinilai Sangat Peduli Pelestarian Adat Budaya Lampung
Pun Edward menegaskan, sosok Gubernur Mirza adalah pemimpin daerah yang sangat peduli pelestarian adat dan budaya Lampung. Dalam pengamatannya, Gubernur Mirza benar-benar meletakkan pondasi yang kuat dalam pelestarian adat dan budaya, bukan pencitraan, apalagi hanya eksibisi.
“Adinda Mirza saya nilai punya kemauan kuat, keinginan besar agar adat budaya Lampung ini terus lestari. Sehingga, ayo saya angkat menjadi adik Sai Batin, kita bersama-sama melestarikan adat dan budaya Lampung ini,” terang Pun Edward.
Mantan Kapolda Lampung yang dikenal memiliki reputasi tingkat nasional sebagai tokoh Polri bidang Reserse ini, banyak program Gubernur Mirza yang menurutnya cukup fundamental. Seperti pelestarian desa adat atau desa wisata budaya, pelestarian Bahasa Lampung, Kamis Beradat dan lainnya.
“Saya rasa ini sangat bagus. Program Adinda Mirza dalam pelestarian adat dan budaya Lampung ini cukup fundamental. Saya melihat bukan hanya seremonial, pencitraan politik, atau hanya eksibisi. Saya sebut, Mirza harus menancapkan tiang pancang yang kokoh dalam pelestarian adat budaya Lampung. Jangan membangun pondasi diatas pasir yang akan roboh dan tidak menyisakan apapun. Adinda Mirza saya harapkan akan meninggalkan legacy pelestarian adat dan budaya Lampung di masa yang akan datang,” pungkasnya. (rci/rci)








