Menu ✖

Mode Gelap
Sekdaprov Marindo Kukuhkan Tiga Pengurus Korpri Daerah, Perkuat Soliditas Sambut Pornas 2027 Gubernur Mirza Siapkan Tiga Langkah Perkuat Investasi, Bidik Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan MAKN Disambut Hangat Ketua MPR, Dorong Silaturahmi Akbar Raja-Raja Nusantara Calon Rektor Unila Dr. Budiyono Diundang Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Sampaikan Masukan Akademik RUU Perampasan Aset di Komisi III DPR RI Gubernur Mirza Bikin Kaget Rektor ITERA Soal Logam Tanah Jarang

Berita Utama · 25 Jul 2026 06:27 WIB ·

Demokrasi Sehat yang Menghargai Perbedaan Pandangan


 Demokrasi Sehat yang Menghargai Perbedaan Pandangan Perbesar

Oleh: Jamal

Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)

 

radarcom.id – Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga dari bagaimana kita menghargai perbedaan pandangan.

Belakangan ini, ruang publik kerap diwarnai dengan narasi yang mengkhawatirkan. Ada pihak yang ketika tidak sependapat dengan kritik justru menyuruh orang lain untuk pindah ke negara lain. Bahkan, tidak sedikit yang melontarkan sebutan-sebutan yang bernada menghina, seperti “londo ireng”, kepada jurnalis, wartawan, reporter, aktivis LSM, pengamat, akademisi, maupun masyarakat yang menyampaikan kritik.

 

Menurut saya, kondisi seperti ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa. Demokrasi membutuhkan ruang dialog yang sehat, bukan ruang yang dipenuhi caci maki, pelabelan, dan penghinaan. Kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehadiran pers, organisasi masyarakat sipil, akademisi, serta berbagai elemen masyarakat justru menjadi salah satu pilar yang membantu mengawal jalannya pemerintahan dan pembangunan agar tetap berada pada koridor kepentingan rakyat.

 

Sebagai Pengurus KNPI Lampung, saya memandang bahwa perbedaan pendapat harus dijawab dengan argumentasi, data, dan diskusi yang bermartabat. Apabila ada kritik yang dianggap keliru, bantahlah dengan fakta dan penjelasan yang objektif. Jangan sampai perbedaan pandangan berubah menjadi serangan terhadap identitas pribadi atau penghinaan yang dapat memperkeruh suasana.

 

Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika dalam ruang publik. Kebebasan berpendapat merupakan hak setiap warga negara, tetapi hak tersebut juga harus dijalankan dengan rasa tanggung jawab dan saling menghormati. Begitu pula dalam menanggapi kritik, setiap pihak hendaknya mengedepankan kedewasaan, bukan emosi yang berujung pada ujaran yang merendahkan.

 

Indonesia adalah negara yang dibangun di atas semangat persatuan dalam keberagaman. Oleh karena itu, mari kita jadikan kritik sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai alasan untuk saling memusuhi. Demokrasi akan semakin kuat apabila setiap perbedaan disikapi dengan kepala dingin, menghormati martabat sesama, dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.

 

Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ruang publik yang sehat, menjunjung tinggi etika, serta membangun budaya diskusi yang santun. Dengan demikian, perbedaan pendapat akan menjadi kekuatan untuk melahirkan solusi, bukan sumber perpecahan. (*)

Artikel ini telah dibaca 17 kali

Baca Lainnya

Sekdaprov Marindo Kukuhkan Tiga Pengurus Korpri Daerah, Perkuat Soliditas Sambut Pornas 2027

5 November 2026 - 21:34 WIB

Gubernur Mirza Siapkan Tiga Langkah Perkuat Investasi, Bidik Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

4 November 2026 - 16:34 WIB

MAKN Disambut Hangat Ketua MPR, Dorong Silaturahmi Akbar Raja-Raja Nusantara

4 November 2026 - 10:09 WIB

Calon Rektor Unila Dr. Budiyono Diundang Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Sampaikan Masukan Akademik RUU Perampasan Aset di Komisi III DPR RI

3 November 2026 - 18:24 WIB

Gubernur Mirza Bikin Kaget Rektor ITERA Soal Logam Tanah Jarang

3 November 2026 - 18:06 WIB

MAKN Silaturahmi dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani

3 November 2026 - 17:52 WIB

Trending di Berita Utama