Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno membenarkan adanya daratan baru tersebut.
Menurutnya, daratan itu terbentuk dari material letusan yang terlontar saat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Iya, memang benar. Itu hasil dari letusan kemarin,” kata dia saat dihubungi awak media.
Ia memperkirakan luas daratan baru tersebut mencapai sekitar 30,3 hektare dan masih berada di kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
“Kurang lebih 30,3 hektare,” ujarnya.
Suwarno menjelaskan, pembentukan daratan baru itu mulai terlihat sejak erupsi yang terjadi pada Juli 2026. Menurutnya, daratan tersebut terbentuk secara bertahap dari akumulasi material letusan, bukan muncul secara tiba-tiba.
“Mulai dari letusan itu, dari bulan Juli. Enggak mungkin mendadak dapat segitu,” jelasnya.
Terkait anggapan masyarakat mengenai kemungkinan munculnya “cucu Krakatau” setelah terbentuknya daratan baru tersebut, Suwarno menyebut hal itu belum dapat dipastikan.
Ia mengatakan Gunung Anak Krakatau masih memiliki sistem saluran magma, namun pergerakan magma di dalam bumi belum bisa diketahui secara pasti.
“Namanya magma, dia mencari celah-celah yang lebih ringan akan keluar. Tapi kemungkinan besar masih di pipa utama di situ,” katanya.
Suwarno menambahkan, hingga saat ini belum ditemukan adanya aktivitas magma baru yang berkaitan dengan kemunculan daratan tersebut. Petugas masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Kalau masalah akan keluar cucunya belum kita ketahui,” pungkasnya. (rci/rci)








