Menu

Mode Gelap
Juara KDI 2026 Intan Dapat Beasiswa, Bupati Lamtim: Harus Jadi Inspirasi Halalbihalal Djaro Boeang Jadi Momentum Rawat Ikatan Keluarga Ribuan Warga Padati Kodam Raden Inten, Pangdam Sambut Hangat Salat Id hingga Halal Bihalal Jelang Lebaran, Bupati Lamtim Sidak Pasar: Daging Sapi Tembus Rp150 Ribu/Kg Lampung Timur Mengaji, Khataman Al Qur’an 100 Kali Serentak di Seluruh Kecamatan

Uncategorized · 3 Jan 2026 04:58 WIB ·

Pandangan Gus Hilmy Tentang Libur Sekolah Saat Ramadhan


 Senator DIY Gus Hilmy. Foto Istimewa Perbesar

Senator DIY Gus Hilmy. Foto Istimewa

radarcom.id – Wacana libur penuh selama bulan Ramadhan menjadi perbincangan hangat. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag), seolah ingin melihat dan mendengar pendapat masyarakat secara random. Namun sepanjang Pemerintah mengeluarkan kebijakan, selalu dan pro dan kontra. Oleh sebab itu, penting ditekankan untuk menghormati kedua pendapat tersebut.

 

Hal itu disampaikan oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. Menurutnya, pendapat yang sudah beredar menjadi masukan penting bagi Pemerintah sebelum membuat keputusan. Dalam 12 bulan, ujar Gus Hilmy, 1 bulan untuk pembinaan spiritual dan karakter anak tidak menjadi masalah.

 

“Pro dan kontra biasa. Setiap kebijakan pasti keduanya itu muncul. Harus dihormati sebagai masukan bagi Kemenag dalam membuat keputusan. Kebijakan ini bagus dan perlu disambut baik karena mengajarkan esensi puasa kepada siswa. Dalam setahun, dalam 12 bulan, mari kita berikan satu bulan penuh untuk lebih menebalkan spiritual dan karakter anak. Anda punya selusin, diminta satu nggak papa, kan? Itu pun untuk kepentingan anak-anak,” ujar Senator dari DIY tersebut melalui keterangan tertulis pada Sabtu (3/1/2025).

 

Menurut pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut, kebijakan itu sebaiknya bersifat sunnah mu’akkadah atau anjuran penting untuk dilaksanakan di sekolah. Gus Hilmy menyoroti pendapat kontra umumnya datang dari masyarakat perkotaan.

 

“Kebijakan ini tentu tidak jadi masalah bagi pesantren dan masyarakat di desa, tapi di perkotaan, ini dilematis. Satu sisi ini kesempatan bagi keluarga dan pendidikan karakter anak, di sisi lain, orang tua khawatir tidak bisa mengawasi anaknya karena berbagai kesibukannya. Tapi sekali lagi, sebulan saja dari 12 bulan untuk bersama anak. Tinggal dibuat kesepakatan dengan anak atau cari formula yang tepat sesuai dengan parenting yang diikuti,” kata Gus Hilmy.

 

Untuk membantu orang tua, sekolah dapat membuat program sekolah pesantren sebagaimana pernah dilakukan pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

 

“Prinsipnya mengalihkan pembelajaran, yang semula diajarkan mata pelajaran, pada bulan Ramadhan diselenggarakan sekolah pesantren. Di masa Gus Dur dulu kan begitu. Di samping itu, siswa diberi tugas catatan kecil harian yang diserahkan kepada guru besok harinya. Ini menjadi dasar pemantauan guru atau dasar memberi nilai,” ucap Katib Syuriyah PBNU tersebut.

Mengapa mengadopsi konsep pesantren? Gus Hilmy menjelaskan bahwa metode pengajaran di pesantren telah teruji bertahun-tahun dengan kurikulum yang paten. Tidak hanya diajar, di pesantren menurut Gus Hilmy, juga diberikan teladan.

 

“Di pesantren tidak hanya diajari, tapi juga dibimbing dan diberi contoh langsung. Tidak hanya diomongi, tapi juga dilakoni atau dipraktikkan. Karena itu, pesantren punya garansi lebih besar dalam keberhasilan membentuk karakter anak didik,” ujarnya.

 

Libur Ramadhan, menurut Gus Hilmy, juga menguntungkan bagi guru untuk meningkatkan ibadah. Bagi sekolah-sekolah umum, usul Gus Hilmy, bisa bekerja sama dengan pesantren untuk merancang sekolah pesantren.

 

“Bahkan jika perlu, sekolah bisa mendorong para orang tua untuk memondokkan anaknya selama Ramadhan. Sekolah membantu memberikan alternatif pesantren. Di pesantren sendiri, siswa akan dikenalkan dengan cross cultural understanding atau memahami perbedaan budaya dan latar belakang santri lain, yang memungkinkannya lebih bisa toleran dan mampu beradaptasi terhadap perbedaan. Di situlah nanti orang tua akan merasakan perbedaan sikap anak kepada orang tua atau orang yang sepantasnya dihormati,” kata Gus Hilmy. (rls/Iis)

Artikel ini telah dibaca 6 kali

Baca Lainnya

Gus Hilmy Komentari Aksi Mahasiswa Papua di Jogja yang Bikin Rusuh: Masyarakat Jengah! Perguruan Tinggi Harus Berikan Ruang Diskusi!

2 Desember 2024 - 04:54 WIB

Trending di Uncategorized