Menu

Mode Gelap
SEPAK BOLA (DUNIA), DAN PEMBANGUNAN HUKUM KITA Pemprov Lampung Melalui Dinas Perindag Terus Penetrasi Pasar, Sudah Sasar 75 Titik Jaga Stabilitas Harga Bahan Pokok Lampung Masuk 5 Besar Nasional ADLGA 2026, Sekdaprov Marindo Divisitasi ASKOMPSI Berkat Pupuk Hayati Cair Besutan Gubernur Mirza, Kopi Lampung Berbuah Lebih Cepat dan Berkualitas PA GMNI Bengkulu Nilai Gaya Komunikasi Prasetyo Hadi Efektif Sampaikan Kebijakan Pemerintah

Berita Utama · 21 Jul 2026 12:06 WIB ·

Berkat Pupuk Hayati Cair Besutan Gubernur Mirza, Kopi Lampung Berbuah Lebih Cepat dan Berkualitas


 Gubernur Mirza saat meninjau percepatan hasil pertanian di Lampung Barat, beberapa waktu lalu. Foto dok Perbesar

Gubernur Mirza saat meninjau percepatan hasil pertanian di Lampung Barat, beberapa waktu lalu. Foto dok

Buah kopi terlihat lebih besar, kualitasnya lebih baik, serta pertumbuhan tanaman lebih optimal,” 

radarcom.id – Berbagai program strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung diantaranya meningkatkan hasil sektor pertanian mulai terasa dampak nyata untuk masyarakat.

Diantaranya adalah mulai diperluasnya penerapan Pupuk Hayati Cair (PHC) sebagai salah satu strategi meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan biaya produksi petani.

Ya, PHC besutan Gubernur Mirza, ternyata terbukti efektif meningkatkan hasil komoditas andalan Lampung diantaranya kopi.

Inovasi berbasis mikroorganisme lokal tersebut diklaim mampu mempercepat masa panen, meningkatkan kualitas hasil pertanian, hingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Upaya tersebut dibarengi dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui bimbingan teknis bagi para penyuluh dan pendamping pertanian agar penggunaan PHC dapat diterapkan lebih luas di tingkat petani.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan keberhasilan program PHC tidak hanya bergantung pada teknologinya, tetapi juga pada peran penyuluh yang menjadi ujung tombak pendampingan di lapangan.

“Program ini sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai dan manfaat Pupuk Hayati Cair dapat ditransfer kepada para pendamping dan penyuluh. Program ini tidak akan berhasil tanpa dukungan temanteman di lapangan yang bersentuhan langsung dengan petani,” kata Mirza.

Menurutnya, sektor pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi Lampung dengan kontribusi sekitar 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Tiga komoditas utama, yakni padi, jagung, dan singkong, menjadi sumber penghidupan sekitar lima juta penduduk Lampung.

Karena itu, peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani dinilai menjadi kunci menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satunya melalui pemanfaatan PHC yang mampu menekan penggunaan input produksi.

“Target kita seluruh petani teredukasi menggunakan bahan organik cair secara mandiri. Mereka bisa membuat sendiri, menggunakan sendiri, dan menikmati nilai tambah keuntungannya secara langsung,” ujarnya.

Komitmen tersebut mulai diterapkan pada sektor perkebunan. Saat meninjau Kebun Induk Hanakau milik UPTD Balai Benih dan Kebun Induk (BBKI) Dinas Perkebunan Provinsi Lampung di Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, Gubernur melihat langsung penerapan PHC pada tanaman kopi.

Di kebun percontohan tersebut, PHC dibuat dari bahan-bahan ramah lingkungan seperti limbah kelapa, limbah kedelai, dan air cucian beras yang difermentasi menggunakan mikroorganisme lokal.

Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan sejak 2025 pada lahan seluas dua hektare, penggunaan PHC menunjukkan hasil yang cukup signifikan dibandingkan tanaman yang tidak mendapat perlakuan serupa.

Salah satu dampak paling menonjol adalah percepatan masa produksi tanaman kopi. Jika umumnya tanaman kopi baru mulai menghasilkan pada usia sekitar tiga tahun, penerapan PHC mampu mempercepat masa berbuah menjadi sekitar 1,5 hingga dua tahun.

Selain mempercepat panen, tanaman yang menggunakan PHC juga menunjukkan pertumbuhan lebih baik, daun lebih hijau, pembungaan lebih cepat, serta ukuran buah yang lebih besar dengan kualitas yang lebih baik. Kondisi tanah pun dinilai menjadi lebih subur sehingga kebutuhan pupuk kimia dapat dikurangi.

“Buah kopi terlihat lebih besar, kualitasnya lebih baik, serta pertumbuhan tanaman lebih optimal,” ujar Mirza.

 

Sebagai bentuk dukungan kepada petani, Pemerintah Provinsi Lampung juga membagikan sampel PHC dalam kemasan botol agar dapat langsung diuji coba di lahan masing-masing.

 

Kebun Induk Hanakau sendiri menjadi pusat pengembangan benih kopi unggul di Lampung yang membudidayakan berbagai klon robusta nasional seperti BP 939, BP 936, BP 534, dan BP 436, serta sejumlah klon lokal potensial, di antaranya Kopi Bagio, Turun Ujung, Bodong, dan Tugu Sari. Di lokasi tersebut juga dikembangkan sekitar 200 batang kopi arabika sebagai uji adaptasi di dataran tinggi Sukau.

 

Pemerintah Provinsi Lampung berharap penerapan PHC tidak hanya meningkatkan produktivitas kopi, tetapi juga dapat diperluas ke berbagai komoditas strategis lainnya sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendukung target swasembada pangan nasional. (rci/rci)

 

Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

SEPAK BOLA (DUNIA), DAN PEMBANGUNAN HUKUM KITA

22 Juli 2026 - 11:42 WIB

Pemprov Lampung Melalui Dinas Perindag Terus Penetrasi Pasar, Sudah Sasar 75 Titik Jaga Stabilitas Harga Bahan Pokok

21 Juli 2026 - 14:50 WIB

Lampung Masuk 5 Besar Nasional ADLGA 2026, Sekdaprov Marindo Divisitasi ASKOMPSI

21 Juli 2026 - 13:32 WIB

PA GMNI Bengkulu Nilai Gaya Komunikasi Prasetyo Hadi Efektif Sampaikan Kebijakan Pemerintah

21 Juli 2026 - 09:40 WIB

Jawaban Gubernur Mirza Atas Pandangan Fraksi DPRD, APBD Harus Berdampak Nyata bagi Kesejahteraan Rakyat!

20 Juli 2026 - 19:03 WIB

Sekdaprov Lampung Lantik Tiga Pejabat, Tekankan Integritas dan Transformasi Birokrasi

20 Juli 2026 - 12:18 WIB

Trending di Berita Utama