Menu ✖

Mode Gelap
MAKN Disambut Hangat Ketua MPR, Dorong Silaturahmi Akbar Raja-Raja Nusantara Calon Rektor Unila Dr. Budiyono Diundang Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Sampaikan Masukan Akademik RUU Perampasan Aset di Komisi III DPR RI Gubernur Mirza Bikin Kaget Rektor ITERA Soal Logam Tanah Jarang MAKN Silaturahmi dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani I Komang Koheri Resmi Dilantik Jadi Bupati Lampung Tengah Definitif

Berita Utama · 15 Okt 2026 12:42 WIB ·

Kebakaran TN Way Kambas Lampung Ancam Habitat Liar


 Kebakaran TN Way Kambas sepanjang 2026 tercatat 21 kejadian dengan luas sekitar 7.000 hektare. Dampak terhadap habitat satwa liar perlu terus dipantau.(DOK. TNWK ) Perbesar

Kebakaran TN Way Kambas sepanjang 2026 tercatat 21 kejadian dengan luas sekitar 7.000 hektare. Dampak terhadap habitat satwa liar perlu terus dipantau.(DOK. TNWK )

radarcom.id – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, tidak cukup dinilai dari luas vegetasi yang terbakar atau jumlah satwa yang ditemukan mati.

Kebakaran juga dapat merusak tempat berlindung, mengurangi sumber pakan, dan mengganggu jalur pergerakan satwa liar yang hidup di kawasan konservasi tersebut.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia, Dr. Daryono, mengatakan, perlindungan satwa harus menjadi bagian utama dari penanganan kebakaran di kawasan konservasi.

“Kebakaran kawasan konservasi memiliki dampak yang lebih kompleks dibandingkan sekadar hilangnya vegetasi,” kata Daryono dikutip dari Kompas.com, Rabu (14/10/2026).

Dampak Tidak Selalu Terlihat Setelah Api Padam

TNWK merupakan habitat berbagai satwa liar, termasuk gajah Sumatra, badak Sumatra, dan harimau Sumatra. Ketika kebakaran terjadi, satwa dapat kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung, bahkan mengalami gangguan pada jalur pergerakannya.

Daryono menjelaskan, satwa yang kehilangan habitat atau terganggu oleh kebakaran berpotensi berpindah menuju kawasan lain, termasuk wilayah yang berdekatan dengan permukiman.

Karena itu, tidak ditemukannya bangkai satwa di lokasi bekas kebakaran tidak serta-merta membuktikan bahwa tidak ada dampak ekologis. “Tidak ditemukannya satwa mati bukan berarti tidak ada dampak ekologis,” ujarnya.

Menurut Daryono, perubahan perilaku satwa, kerusakan habitat, dan gangguan koridor pergerakan juga perlu diperiksa untuk mengetahui dampak kebakaran secara lebih menyeluruh.

Peta Kebakaran Perlu Dipadukan dengan Habitat Satwa Daryono menyarankan agar peta lokasi kebakaran diintegrasikan dengan peta habitat dan jalur pergerakan satwa. Dengan demikian, petugas dapat mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan perlindungan lebih dahulu.

(rci/rci)

 

Sumber: Kompas.com

 

Artikel ini telah dibaca 51 kali

Baca Lainnya

MAKN Disambut Hangat Ketua MPR, Dorong Silaturahmi Akbar Raja-Raja Nusantara

4 November 2026 - 10:09 WIB

Calon Rektor Unila Dr. Budiyono Diundang Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Sampaikan Masukan Akademik RUU Perampasan Aset di Komisi III DPR RI

3 November 2026 - 18:24 WIB

Gubernur Mirza Bikin Kaget Rektor ITERA Soal Logam Tanah Jarang

3 November 2026 - 18:06 WIB

MAKN Silaturahmi dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani

3 November 2026 - 17:52 WIB

I Komang Koheri Resmi Dilantik Jadi Bupati Lampung Tengah Definitif

3 November 2026 - 17:08 WIB

Batin Wulan Didampingi Ny. Agnesia Marindo Canangkan Desa Tapis di Pekon Margosari Pringsewu 

2 November 2026 - 21:38 WIB

Trending di Berita Utama