Oleh: Dudin Shobaruddin
Dosen STQABM Al Fatah Muhajirun Natar Lampung Selatan
Bulan Ramadan adalah bulan yang paling mulia dalam kalender Islam. Di dalamnya, Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 185, Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai hudan linnas—petunjuk bagi seluruh manusia. Peristiwa agung ini bermula ketika wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad ﷺ di Gua Hira melalui perantaraan Malaikat Jibril, sebagaimana direkam dalam surah Al-‘Alaq ayat 1–5.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca untuk mendapatkan pahala. Ia adalah risalah, surat cinta dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bayangkan jika kita menerima sepucuk surat dari seseorang yang sangat kita cintai. Tentu surat itu akan kita baca berulang-ulang. Kita renungi setiap katanya, kita pahami maksudnya, bahkan kita simpan dengan penuh perhatian. Tidak mungkin kita membiarkannya tergeletak tanpa dibuka, apalagi tidak peduli dengan isi pesannya.
Demikianlah seharusnya sikap kita terhadap Al-Qur’an. Ia adalah surat dari Rabb semesta alam. Setiap ayatnya berbicara tentang kehidupan kita: tentang tauhid, ibadah, akhlak, muamalah, bahkan tentang masa depan umat manusia. Tentang kebaikan dunia dan akheratnya. Namun sering kali kita memperlakukannya hanya sebagai bacaan ritual, bukan sebagai pedoman hidup yang benar-benar dipahami dan diamalkan.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaharui hubungan kita dengan Al-Qur’an. Tidak cukup hanya dengan memperbanyak tilawah, tetapi juga memperdalam dan tadabbur maknanya. Membaca dengan hati, merenungkan makna, lalu bertanya pada diri sendiri: pesan apa yang Allah ingin sampaikan kepadaku hari ini? Apakah tentang kesabaran? Tentang kejujuran? Tentang persatuan umat? Atau tentang taubat dan kembali kepada-Nya?
Ketika kita menerima surat dari orang yang kita cintai, kita tidak hanya membaca, tetapi juga meresponsnya. Kita membalas dengan sikap, perhatian, dan tindakan nyata. Begitu pula Al-Qur’an. Ia menuntut respons dalam bentuk amal. Jika ia memerintahkan shalat, maka kita tegakkan shalat. Jika ia menyeru kepada persaudaraan, maka kita jaga tegakan ukhuwah. Jika ia melarang kezaliman, maka kita tinggalkan segala bentuk ketidakadilan.
Al-Qur’an juga mengajarkan cara berdiplomasi dalam kehidupan. Bahasa Al-Qur’an penuh hikmah dan kelembutan, namun tegas dalam prinsip. Ia mengajarkan dialog yang santun, argumentasi yang rasional, serta pendekatan yang penuh kasih sayang. Dalam berdakwah, Allah memerintahkan agar dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik. Ini menunjukkan bahwa pesan Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk disampaikan dengan cara yang bijaksana kepada sesama manusia.
Di tengah dunia yang penuh konflik dan perpecahan, Al-Qur’an hadir sebagai penyejuk dan pemersatu. Ia mengingatkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada harta atau jabatan, tetapi pada ketakwaan. Ia mengajarkan bahwa umat ini akan kuat jika bersatu dan lemah jika terpecah. Semua pesan itu terangkum dalam risalah agung yang diturunkan di bulan Ramadan.
Maka sungguh merugi jika bulan yang mulia ini berlalu tanpa kita semakin dekat dengan Al-Qur’an. Jangan sampai kita hanya sibuk dengan hidangan berbuka dan pakaian hari raya, sementara surat cinta dari Allah dibiarkan tanpa perhatian. Jadikan Ramadan sebagai momentum untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati, guru kehidupan, dan cahaya dalam setiap Langkah perjalanan.
Akhirnya, mari kita tanyakan pada diri kita: sudahkah kita benar-benar membaca surat dari Allah dengan penuh kesungguhan? Sudahkah kita memahami maksud dan pesannya? Dan sudahkah kita meresponsnya dengan amal nyata?
Bulan diturunkannya Al-Qur’an adalah bulan untuk kembali. Kembali membaca, memahami, dan mengamalkan. Karena Al-Qur’an bukan hanya kitab untuk disimpan di rak, tetapi risalah hidup yang harus dihidupkan dalam jiwa dan peradaban umat. Mumpung di awal Ramadan mari kita azaman niat untuk membaca setiap hari dengan minimal 1 juz atau lebih banyak lagi tergantung kepada keazaman dan kemampuan maksimal masing masing. (*)











