radarcom.id – Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Jalur laut strategis ini tidak ditutup sepenuhnya, tetapi berada di bawah kebijakan akses selektif yang dikendalikan Teheran.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan besar terkait negara mana saja yang masih memperoleh izin melintas, sekaligus memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.
Sebagai penghubung utama antara Teluk Persia dan Laut Arab, Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam rantai pasok energi global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur ini setiap hari.
Ketika ketegangan meningkat di kawasan tersebut, harga minyak global langsung merespons dengan lonjakan signifikan. Kondisi ini menegaskan besarnya pengaruh Selat Hormuz terhadap perekonomian internasional, terutama bagi negara pengimpor energi.
Pemerintah Iran menegaskan jalur ini tetap terbuka, tetapi hanya untuk kapal dari negara yang tidak dianggap bermusuhan. Kapal-kapal yang ingin melintas wajib melakukan koordinasi dengan otoritas maritim Iran serta memenuhi sejumlah persyaratan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengendalian wilayah sekaligus respons atas tekanan geopolitik yang terus meningkat. Di sisi lain, parlemen Iran tengah merancang kebijakan baru berupa biaya transit bernilai jutaan dolar untuk setiap kapal.
Jika diterapkan, aturan ini berpotensi mengubah sistem pelayaran internasional secara signifikan.
Daftar Negara yang Masih Diizinkan Melintas
Berikut ini sejumlah negara yang kapalnya masih memperoleh akses di Selat Hormuz:
1. China
China tetap menjadi pengguna utama jalur ini. Kapal kargo miliknya berhasil melintas setelah memperoleh izin resmi, didukung hubungan ekonomi kuat terutama di sektor energi.
2. India
India memperoleh pengecualian akses. Kapal tanker berbendera India dapat melintas setelah melalui koordinasi diplomatik yang intens, sejalan dengan kebutuhan energi yang besar.
3. Pakistan
Akses bagi Pakistan bersifat terbatas. Sebagian kapal diizinkan melintas, sementara lainnya ditolak akibat tidak memenuhi prosedur yang ditetapkan.
4. Bangladesh
Bangladesh termasuk negara yang diizinkan melintas. Kebijakan ini mencerminkan pendekatan Iran terhadap negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
5. Irak
Sebagai negara tetangga, Irak tetap memperoleh akses. Faktor kedekatan geografis serta kepentingan stabilitas energi kawasan menjadi pertimbangan utama.
6. Thailand
Thailand berhasil mengirim kapal tanker yang melintas setelah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak Iran.
7. Turki
Salah satu kapal Turki berhasil melewati selat setelah memperoleh izin resmi. Namun, sebagian kapal lainnya masih menunggu kepastian akses.
8. Jepang
Meskipun belum ada kapal yang melintas, Iran memberikan sinyal positif terkait peluang akses bagi kapal Jepang setelah proses koordinasi selesai.
Dampak Pembatasan terhadap Pelayaran Global
Pembatasan akses di Selat Hormuz berdampak langsung pada aktivitas pelayaran internasional. Sejumlah efek yang mulai terasa, antara lain:
- Penurunan signifikan volume pelayaran global.
- Gangguan distribusi energi lintas negara.
- Kenaikan biaya logistik dan asuransi kapal.
- Peningkatan risiko keamanan bagi kapal komersial.
- Ketidakjelasan terkait definisi negara musuh turut meningkatkan kekhawatiran pelaku industri pelayaran, terutama dalam aspek keselamatan dan kepastian operasional.
Rencana penerapan biaya transit oleh Iran berpotensi membawa implikasi besar terhadap ekonomi dunia. Biaya distribusi energi diperkirakan meningkat, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga komoditas global.
Selain itu, kebijakan ini membuka peluang negosiasi baru antarnegara pengguna jalur Selat Hormuz, sekaligus mempertegas pengaruh geopolitik dalam menentukan akses terhadap jalur perdagangan strategis.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian global berkat perannya yang sangat vital dalam distribusi energi. Kebijakan akses selektif yang diterapkan Iran menunjukkan kuatnya pengaruh politik terhadap jalur pelayaran internasional. (rci/beritasatu)











