Menu ✖

Mode Gelap
Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Pendidikan Lampung Merata, Pemuda Lampung Berdaya Peringati Sumpah Pemuda, SMPN 1 Bandar Lampung Luncurkan Antologi Cerpen ARUNA II Hadiri Sekolah Legislatif Unila, Mukhlis Basri Ajak Mahasiswa Jaga Independensi dan Idealisme Demokrasi Pemprov Lampung Raih Mandaya Award 2026 sebagai Provinsi Terbaik dalam Penurunan Kemiskinan TKD Naik, Siapa yang Menentukan Prioritas?

Berita Utama · 28 Okt 2026 13:54 WIB ·

Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Pendidikan Lampung Merata, Pemuda Lampung Berdaya


 Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Pendidikan Lampung Merata, Pemuda Lampung Berdaya Perbesar

Oleh: Amiza Rezika, M.Pd.

Ketua Gerakan Ayo Kuliah (GAK) Lampung

 

Tanggal 28 Oktober setiap tahunnya kita kembali bicara tentang pemuda. Tentang semangat, kreativitas, keberanian dan harapan terhadap masa depan Indonesia. Namun di balik semua harapan itu, ada satu pertanyaan yang menurut saya luput kita bicarakan. apakah semua pemuda sudah punya kesempatan yang sama untuk berkembang?

 

Pertanyaan itu berangkat dari pengalaman saya sendiri. Saya lahir dan tumbuh di Desa Kembahang, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat. Saya tahu bagaimana rasanya tumbuh jauh dari pusat pendidikan dan informasi. Lampung Barat memang sudah keluar dari status daerah tertinggal. Itu tentu sebuah kemajuan. Namun keluar dari status tersebut bukan berarti semua persoalan langsung selesai. Ketika saya kemudian mendapat kesempatan kuliah S1 di Universitas Lampung dan melanjutkan S2 di Universitas Pendidikan Indonesia melalui beasiswa LPDP, perbedaan akses dan kesempatan itu semakin terasa.

 

Saya melihat bahwa kesempatan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan; ada faktor jarak, ekonomi keluarga, fasilitas sekolah, internet, informasi beasiswa, lingkungan dan berbagai faktor lain Bahkan satu hal yang sering kali terasa begitu mahal untuk seoarang anak daerah yaitu keberanian untuk bermimpi.

 

Anak yang sejak kecil tumbuh di lingkungan akademik tentu punya pengalaman berbeda dengan anak desa yang bahkan belum pernah melihat orang di sekitarnya kuliah. Masalah itu erlihat jelas dalam data-data.

Badan Pusat Statistik mencatat, pada tahun 2025 hanya 75,35 persen penduduk Lampung usia 16-18 tahun yang masih bersekolah. Artinya, sekitar seperempat anak pada usia tersebut sudah tidak berada dalam pendidikan.

Ketimpangan antarwilayah juga masih terlihat. Data BPS Provinsi Lampung menunjukkan rata-rata lama sekolah penduduk Lampung Barat pada 2025 berada di angka 8,57 tahun. Sementara Kota Metro sudah mencapai 11,19 tahun. Harapan lama sekolah Lampung Barat tercatat 12,31 tahun, sedangkan Metro mencapai 14,97 tahun. Angka-angka itu memberi pesan mendalam, bahwa tempat seseorang lahir masih cukup menentukan seberapa besar peluang pendidikannya.

 

Padahal pendidikan bukan hanya urusan ijazah. Bagi banyak keluarga di daerah, pendidikan adalah salah satu jalan untuk memperluas pilihan hidup. Itulah mengapa pemerataan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari ada atau tidaknya gedung sekolah. Kita perlu bicara tentang kualitas guru, fasilitas belajar, akses internet, informasi kuliah, beasiswa, pendampingan, sampai akses terhdap transportasi umum.

Bagi anak di kota, informasi tentang SNBT, KIP Kuliah, kampus atau beasiswa mungkin hanya berjarak satu pencarian di internet. Bagi sebagian anak di pelosok, informasi yang sama bisa terasa sangat jauh. Saya pernah berada di posisi itu. Karena itu saya percaya, kadang seorang anak tidak hanya membutuhkan biaya. Ia juga membutuhkan informasi, pendampingan, contoh dan seseorang yang selalu mengatakan bahwak kamu bisa.

 

Di saat yang sama, kita juga sering menaruh banyak tuntutan kepada pemuda. Pemuda diminta kreatif, diminta produktif, diminta menjauhi narkoba dan kriminalitas, diminta berpartisipasi dalam membangun desa dan diminta menjadi generasi emas Indonesia 2045.

Semua itu penting. Tetapi kita juga harus jujur mempertanyakan, ruang apa yang sudah diberikan kepada mereka untuk mereka bertumbuh? Masalah narkoba, kriminalitas, maupun kenakalan remaja tentu tidak bisa dijelaskan hanya dari satu faktor. Saya juga tidak ingin menyederhanakannya sebagai akibat rendahnya pendidikan. Namun saya percaya, ketika anak muda punya akses pendidikan yang baik, kegiatan yang sehat, komunitas, organisasi, olahraga, ruang kreativitas dan kesempatan mengembangkan diri, mereka punya lebih banyak pilihan dalam hidup. Pencegahan tidak boleh baru dimulai setelah masalah terjadi, pemberdayaan harus hadir lebih dahulu.

 

Lampung sebenarnya punya modal besar. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk usia 15-29 tahun di Lampung pada 2026 sekitar 2,21 juta orang. Jumlah itu hampir seperempat dari total penduduk provinsi. Dua juta lebih anak muda tentu bukan angka kecil. Sayangnya, dalam banyak kegiatan, pemuda masih sering ditempatkan hanya sebagai peserta. Datang ke seminar, mendengar sambutan, menerima program, lalu pulang.

Padahal pemuda seharusnya tidak hanya menjadi objek kebijakan, mereka perlu ikut menentukan kebijakan itu sendiri. Arah kebijakan Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun 2026 juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif pemuda, penguatan organisasi dan komunitas, serta peningkatan kualitas kepemimpinan dan kepeloporan pemuda. Artinya, ruang pemberdayaan harus semakin nyata.

 

Pemuda di Lampung Barat tentu tidak selalu punya kebutuhan yang sama dengan pemuda di Bandar Lampung. Anak muda dari keluarga petani juga menghadapi tantangan berbeda dengan mereka yang sejak kecil tumbuh dekat dengan dunia akademik. Karena itu, kebijakan kepemudaan tidak cukup dibuat dari meja kantor. Pemuda perlu didengar.

 

Menurut saya, pemerataan pendidikan dan pemberdayaan pemuda adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pendidikan memberi fondasi, pemberdayaan memberi ruang untuk menggunakan fondasi itu.

Pemuda membutuhkan sekolah yang baik, tetapi juga membutuhkan organisasi, komunitas, ruang berkarya, pelatihan, mentor, dan kesempatan mencoba. Tidak cukup hanya meminta mereka menjadi hebat, harus disediakan jalan agar mereka bisa menjadi hebat.

 

Semangat Sumpah Pemuda seharusnya mengingatkan kita bahwa pemuda bukan kelompok yang hanya menunggu masa depan. Mereka ikut menentukan masa depan itu.

Karena itu, pekerjaan rumah Lampung hari ini bukan sekadar mencetak lebih banyak sarjana atau menggelar lebih banyak kegiatan kepemudaan.

Pekerjaan rumah kita adalah memastikan bahwa anak yang lahir di Kembahang, Suoh, Pesisir Barat, Way Kanan atau pelosok Lampung lainnya punya kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan bermimpi.

 

Jangan sampai seorang anak mengubur cita-citanya hanya karena ia lahir terlalu jauh dari pusat kesempatan. Pendidikan harus semakin merata, pemuda harus semakin berdaya.

Sebab pada akhirnya, masa depan Lampung tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang kita punya. Tetapi oleh seberapa serius kita menyiapkan anak mudanya. (*)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Peringati Sumpah Pemuda, SMPN 1 Bandar Lampung Luncurkan Antologi Cerpen ARUNA II

28 Oktober 2026 - 11:26 WIB

Hadiri Sekolah Legislatif Unila, Mukhlis Basri Ajak Mahasiswa Jaga Independensi dan Idealisme Demokrasi

27 Oktober 2026 - 21:03 WIB

Pemprov Lampung Raih Mandaya Award 2026 sebagai Provinsi Terbaik dalam Penurunan Kemiskinan

27 Oktober 2026 - 19:43 WIB

TKD Naik, Siapa yang Menentukan Prioritas?

27 Oktober 2026 - 19:39 WIB

Bunda Literasi Lampung Didampingi Ny. Agnesia Marindo Hadiri Pembukaan Pameran Kayu Ara 

23 Oktober 2026 - 22:07 WIB

Ketua MPR RI Ahmad Muzani Apresiasi Prestasi SMA YP Unila, Dorong Jadi Laboratorium Pendidikan Indonesia

23 Oktober 2026 - 16:35 WIB

Trending di Berita Utama