Oleh: Dudin Shobaruddin
Dosen STQABM Al Fatah Muhajirun Natar Lampung Selatan
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah individual, tetapi juga bulan solidaritas sosial. Di dalamnya, Allah ﷻ mendidik hati orang-orang beriman agar tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merasakan denyut penderitaan saudara-saudaranya yang kurang bernasib baik. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, puasa diwajibkan agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Takwa itu bukan hanya hubungan vertikal kepada Allah, melainkan juga kepedulian horizontal kepada sesama manusia.
Setiap kali azan Maghrib berkumandang dan kita menyantap hidangan berbuka, sesungguhnya ada saudara-saudara kita yang mungkin tidak memiliki apa pun untuk dibuka. Ramadan mengajarkan empati yang nyata. Lapar yang kita rasakan sepanjang hari seharusnya melembutkan hati, menghidupkan rasa kasih, dan menggerakkan tangan untuk berbagi. Inilah makna terdalam dari solidaritas yang dibangun oleh Ramadan.
Di awal Ramadan ini, sebagaimana telah kita sampaikan, ujian Allah datang silih berganti. Banjir melanda beberapa daerah, tanah longsor merenggut rumah dan harta benda, bahkan ada yang kehilangan orang-orang tercinta. Musibah bukan sekadar berita yang kita baca di layar hp atau telivisi. Ia adalah kenyataan pahit yang sedang dirasakan oleh saudara-saudara kita. Rumah mereka terendam, ladang mereka rusak, pekerjaan mereka terhenti. Dalam kondisi seperti ini, Ramadan hadir sebagai momentum untuk memperkuat ukhuwah dan kepedulian.
Allah ﷻ telah mengatur sistem sosial yang indah melalui zakat, infak, dan sedekah. Zakat bukan sekadar kewajiban finansial, melainkan mekanisme ilahiah untuk memastikan tidak ada jurang yang terlalu dalam antara yang mampu dan yang tidak mampu. Ketika orang-orang beriman menunaikan zakat dan memperbanyak sedekah di bulan Ramadan, sesungguhnya mereka sedang membangun jembatan harapan bagi yang membutuhkan.
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam hal ini. Dalam hadis disebutkan bahwa beliau adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadan. Semangat inilah yang perlu kita hidupkan kembali. Jangan sampai Ramadan berlalu hanya dengan memperbanyak hidangan berbuka dan pakaian baru, sementara di sekitar kita ada yang bahkan kesulitan mendapatkan air bersih akibat banjir.
Solidaritas Ramadan bukan hanya soal memberi materi. Ia juga tentang doa, perhatian, dan kehadiran. Mengunjungi korban musibah, menyampaikan dukungan moral, atau sekadar menyebarkan informasi untuk menggalang bantuan adalah bagian dari amal saleh. Bahkan senyum dan kata-kata penguat pun bernilai sedekah.
Musibah banjir dan longsor yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa harta dan kenyamanan yang kita miliki bisa saja hilang dalam sekejap. Hari ini kita memberi, esok mungkin kita yang membutuhkan. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati dan menjauhkan kita dari kesombongan. Ramadan mendidik kita untuk tidak merasa aman dari ujian, sekaligus tidak putus asa ketika ujian datang.
Lebih dari itu, solidaritas Ramadan harus melahirkan gerakan kolektif. Masjid-masjid dapat menjadi pusat distribusi bantuan. Komunitas-komunitas dapat membentuk tim relawan. Keluarga-keluarga dapat menyisihkan sebagian rezekinya secara rutin sepanjang bulan. Jika setiap orang berkontribusi sesuai kemampuan, maka beban yang berat akan terasa ringan. Alhamdulillah tim Relawan Alfatah Rescue (UAR) terus bergerak dilokasi yang terkena Banjir seperti di Sumatra Utara dan Aceh Tamiang. Mereka terus datang silih berganti rombongan demi untuk menghidupkan solidaritas social.
Ramadan juga mengajarkan bahwa keberkahan bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada manfaatnya. Harta yang dibagikan di jalan Allah akan kembali dalam bentuk keberkahan, ketenangan, dan pahala yang berlipat ganda. Allah menjanjikan balasan yang besar bagi orang-orang yang bersedekah, terlebih di bulan yang mulia ini.
Akhirnya, marilah kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai Ramadan solidaritas. Jangan biarkan saudara-saudara kita yang terdampak banjir dan longsor merasa sendirian. Jadikan puasa kita bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga gerakan sosial. Semoga setiap rupiah yang kita keluarkan, setiap doa yang kita panjatkan, dan setiap langkah kebaikan yang kita lakukan menjadi saksi bahwa kita benar-benar memahami makna Ramadan.
Semoga Allah menerima puasa dan amal kita, mengangkat musibah dari negeri-negeri yang tertimpa bencana, dan menumbuhkan dalam hati kita kasih sayang yang tulus kepada fakir miskin dan mereka yang sedang diuji. Aamiin. (*)











