Oleh: Dudin Shobaruddin
Dosen STQABM Al Fatah Muhajirun Natar Lampung Selatan
Setiap kali bulan suci tiba, kaum Muslimin di seluruh dunia saling menyapa dengan ucapan, “Ramadan Mubarak.” Ucapan ini terdengar sederhana, namun sesungguhnya mengandung doa dan harapan yang sangat dalam. Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan keberkahan—bulan di mana Allah melimpahkan kebaikan yang melimpah dan mencukupi kebutuhan hidup hamba-Nya, baik secara ruhani maupun jasmani.
Kata “Mubarak” berasal dari akar kata Arab Baraka, barakah, yang berarti tetapnya kebaikan dan bertambahnya manfaat. Berkah bukan sekadar banyak, tetapi cukup dan membawa ketenangan. Sesuatu yang diberkahi mungkin tampak sedikit secara angka, namun terasa cukup, bermanfaat, dan menenangkan hati. Inilah hakikat keberkahan yang kita doakan setiap kali mengucapkan “Ramadan Mubarak” — semoga Ramadan yang kita jalani dipenuhi kebaikan yang menetap dan memberi manfaat dalam kehidupan kita.
Allah ﷻ menjadikan Ramadan sebagai bulan penuh berkah. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Di bulan ini pahala dilipatgandakan, pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Semua itu adalah bentuk keberkahan Ilahi yang luar biasa. Keberkahan waktu, keberkahan amal, dan keberkahan rezeki.
Keberkahan Ramadan juga mengajarkan kita tentang makna kecukupan. Ketika berpuasa, kita menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga terbenam matahari. Secara lahiriah kita mengurangi konsumsi, tetapi secara batin kita justru merasakan kelimpahan makna. Kita belajar bahwa hidup bukan sekadar memenuhi keinginan, melainkan mengendalikan kebutuhan. Puasa melatih kita untuk beradaptasi dengan keterbatasan dan menyadari bahwa keperluan sejati manusia bukan hanya materi, tetapi juga ketenangan jiwa.
Di sinilah makna berkah sebagai “mencukupi keperluan kehidupan.” Banyak orang memiliki harta melimpah tetapi merasa kurang. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana namun penuh ketenteraman. Keberkahan menjadikan yang sedikit terasa cukup. Ramadan mendidik kita untuk menemukan rasa cukup itu melalui ibadah, doa, dan kedekatan kepada Allah. Ketika hati dekat dengan-Nya, keperluan hidup terasa terpenuhi, meski secara materi mungkin tidak berlebihan.
Keberkahan Ramadan juga tampak dalam kehidupan sosial. Bulan ini mendorong kita untuk berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketika seseorang memberi, hartanya tidak berkurang dalam makna hakiki; justru bertambah dalam keberkahan. Memberi makan orang berbuka, membantu fakir miskin, atau meringankan beban saudara yang tertimpa musibah adalah wujud nyata keberkahan yang meluas. Ramadan mengajarkan bahwa keberkahan sejati hadir ketika kebaikan dirasakan bersama.
Selain itu, keberkahan Ramadan terletak pada waktu yang terasa lebih produktif. Banyak orang mampu membaca Al-Qur’an lebih banyak, bangun malam untuk qiyam, memperbanyak doa, dan memperbaiki diri. Waktu yang sama—dua puluh empat jam sehari—namun terasa lebih bernilai. Inilah salah satu tanda keberkahan: waktu yang singkat menghasilkan amal yang besar.
Ucapan “Ramadan Mubarak” seharusnya bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat. Pengingat bahwa kita sedang memasuki bulan yang dipenuhi limpahan kebaikan. Pengingat bahwa kita perlu membuka hati untuk menerima dan menjaga keberkahan itu. Sebab berkah bukan hanya diberikan, tetapi juga dijaga melalui ketaatan dan keikhlasan.
Maka ketika kita mengucapkan “Ramadan Mubarak,” sejatinya kita sedang berdoa: semoga Ramadan ini membawa kebaikan yang menetap dalam hidup kita. Semoga ibadah kita diterima, dosa-dosa diampuni, rezeki dicukupkan, dan hati ditenangkan. Semoga kita mampu beradaptasi dengan latihan spiritual Ramadan sehingga setelah bulan ini berlalu, keberkahan itu tetap menyertai hari-hari kita.
Akhirnya, Ramadan adalah madrasah keberkahan. Ia mengajarkan makna cukup, makna syukur, dan makna berbagi. Bila kita memahami hakikat “Mubarak,” maka Ramadan tidak akan berlalu begitu saja. Ia akan meninggalkan jejak kebaikan yang terus tumbuh dalam kehidupan kita—mencukupi keperluan lahir dan batin, serta menuntun kita menuju derajat takwa. (*)

