Oleh: Dudin Shobaruddin
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Quran Abdullah bin Masud Online Natar, Lampung Seelatan
Sudah tidak terasa, kini kita berada di sepuluh terakhir bulan Rajab. Bulan ini hadir sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Islam, bulan yang sejak dahulu dimuliakan dan dihormati. Ia bukan sekadar penanda waktu menuju Ramadhan, tetapi momentum ruhiyah untuk menghentikan kelalaian, menata kembali iman, dan menghidupkan kesadaran sejarah umat. Di tengah keagungan Rajab, ingatan kaum Muslimin tak seharusnya terlepas dari satu tempat suci yang terus terluka: Masjid Al-Aqsa.
Bulan Rajab memiliki ikatan historis dan spiritual yang sangat kuat dengan Al-Aqsa. Dalam bulan inilah, menurut banyak riwayat, terjadi peristiwa agung Isra’ Mi‘raj, ketika Rasulullah ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa, lalu diangkat ke Sidratul Muntaha. Al-Aqsa menjadi titik temu langit dan bumi, tempat Rasulullah ﷺ mengimami salat dengan para nabi, sekaligus simbol kesatuan risalah ketauhidan. Maka, mengingat Rajab tanpa menghadirkan Masjid Al-Aqsa dalam kesadaran iman adalah kehilangan makna yang mendalam dalam lubuk hati umat Islam.
Namun realitas hari ini menunjukkan ironi yang menyakitkan. Masjid Al-Aqsa yang dimuliakan Allah justru berada dalam kondisi terjajah, dinistakan, dan terus berada di bawah ancaman kaum zionis. Pelanggaran kesucian, pembatasan ibadah, dan penindasan terhadap kaum Muslimin Palestina menjadi luka terbuka yang seakan tak kunjung sembuh dikarenakan berterusan tanpa mengenal koma. Rajab pun datang bukan hanya membawa kesucian, tetapi juga pertanyaan besar bagi umat: di manakah posisi Masjid Al-Aqsa dalam hati kita? Adakah kita mengingatnya? Menatapnya? Memperhatikannya? Tepuk dada tanya selera.
Rajab adalah bulan haram, bulan yang Allah larang terjadinya kezaliman. Tetapi di Masjid Al-Aqsa, kezaliman berlangsung nyaris setiap hari. Kontras ini seharusnya mengguncang nurani umat Islam. Jika Rajab adalah waktu untuk memperbanyak taubat dan amal shaleh, maka kepedulian terhadap Al-Aqsa adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Doa, solidaritas, dan kesadaran kolektif bukanlah sikap tambahan, melainkan konsekuensi iman.
Lebih dari sekadar isu politik, Masjid Al-Aqsa adalah persoalan akidah dan peradaban. Ia adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi, kiblat pertama kaum Muslimin, dan salah satu dari tiga masjid yang dianjurkan untuk diziarahi oleh umat Islam. Ketika Al-Aqsa terluka, sejatinya yang terluka adalah kehormatan umat Islam secara keseluruhan. Rajab mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada ritual personal, tetapi menuntut kepedulian sosial dan komitmen terhadap nasib umat dimanapun berada.
Rajab juga mengingatkan kita pada pelajaran sejarah. Al-Aqsa pernah dibebaskan bukan oleh umat yang lalai, tetapi oleh generasi yang mempersiapkan diri dengan iman, ilmu, dan persatuan yang kukuh. Pembebasan itu didahului oleh kebangkitan ruhiyah, perbaikan akhlak, dan kesadaran akan tanggung jawab kepemimpinan yang solid. Maka, Rajab hari ini seharusnya menjadi cermin: sejauh mana umat telah menyiapkan diri untuk menjaga dan membela simbol-simbol sucinya umat Islam?
Menghidupkan Rajab berarti menghidupkan doa untuk masjid Al-Aqsa, mengedukasi generasi tentang sejarah dan kedudukannya, serta menumbuhkan solidaritas nyata sesuai kemampuan masing-masing. Setidaknya, jangan biarkan masjid Al-Aqsa terhapus dari mimbar, majelis ilmu, dan sujud-sujud kita. Sebab lupa adalah awal dari kekalahan, sementara ingatan adalah benih kebangkitan.
Ketika Rajab mengingatkan umat pada Al-Aqsa yang terluka, sesungguhnya Allah sedang memanggil hati-hati yang beriman. Apakah Rajab akan berlalu sebagai rutinitas tahunan, atau menjadi titik balik kesadaran umat? Jawabannya terletak pada sejauh mana kita menjadikan Al-Aqsa hidup dalam iman, doa, dan perjuangan kita hari ini dan seterusnya. Semoga Masjid Al-Aqsa dan warga Palestina mendepatkan kemerdekaan secepatnya sehingga pendertitaan dan kesengsaraan mereka segera terobati. Aamiin. (*)

