HTML Image as link Qries

Hitungan Detik, Pangeran Edward Syah Pernong Mengunci KO Guru Yudho di Jepang

Pangeran Edward Syah Pernong saat refleks mengunci Coach Yudho Jepang. Foto Istimewa

Suasana hari yang cerah, matahari terang bersinar pagi itu. Sinarnya yang hangat, menyinari langkah tegap beberapa Bhayangkara Indonesia yang tengah melakukan kunjungan studi banding ke Negeri Sakura, Jepang. Salah satunya adalah putera dari tanah Lampung yang menjabat Kapolres Metro Bekasi saat itu yakni Pangeran Edward Syah Pernong.

Cukup banyak rangkaian kegiatan yang ditugaskan para polisi pilihan itu di Jepang medio Maret 2005 saat itu. Diantaranya, Polri mengirimkan mereka untuk mengetahui beladiri ala Jepang.

banner 300600

Pagi itu, salah satu Coach Yudo di kepolisian Jepang memperkenalkan teknik beladiri untuk para anggota kepolisian Jepang. Namun, yang membuat tercengang, secara tak direncanakan Pangeran Edward Syah Pernong diminta maju oleh Coach Yudo tersebut, bertujuan sharing pengetahuan bela diri.

Tetapi apa yang terjadi, saat keduanya saling berdekatan, Sang Guru Yudo memegang tangan Pangeran Edward Syah Pernong kemudian menariknya. Namun, kesiapsiagaan yang tak pernah lepas dari Sai Batin Kepaksian Pernong itu membuatnya refleks menahan tarikan tangan itu, Pun Edward–sapaan akrabnya, tak ingin terjadi hal yang merugikan dirinya, sifat kesatriannya yakni kesiapsiagaan dan mawas diri langsung saja membalas tarikan tangan itu.

Hanya hitungan detik, Pangeran Edward Syah Pernong mengeluarkan guntingan, teknik menjatuhkan lawan, menyerang kuda-kuda Sang Guru Yudo hingga ia terjatuh terlentang. Sambil tetap memegang tangan sang guru Yudo, Pun Edward lalu memutar posisi Sang Guru Yudo menjadi terlungkup kemudian menguncinya hingga KO tak berkutik.

Akibatnya Sang Guru Yudo pun berteriak “ush.. ush..” atau “oke, oke, stop,,!” dan dilepas oleh Pun Edward. Sontak, semua yang ada di ruang pelatihan itu bernafas lega kemudian tertawa sambil bertepuk tangan. Moment lucu sekaligus menegangkan itu terekam dalam video dan foto oleh rekan Pangeran Edward Syah Pernong ketika bertugas di Polres Metro Bekasi.

Pangeran Edward Syah Penrong menerima penghargaan dari Presiden Soeharto di Istana Negara saat itu karena prestasinya yang gemilang. Foto Dok Istimewa

Aksi Pangeran Edward Syah Pernong tersebut bukanlah sebuah hal baru saat berada di Jepang kala itu. Sebab, sudah tertanam sejak Pun Edward kecil, menjadi Putera Mahkota, disiapkan dan digembleng menjadi sosok pengayom masyarakat. Sehingga ilmu bela diri dari berbagai guru diajarkan untuk Pun Edward.

Sebagai perwira polisi, Pun Edward dikenal moncer prestasinya di bidang reserse. Foto Istimewa

Kemampuan Pun Edward di bela diri kian terasah ketika menimba ilmu di Yogyakarta. Setelah di Yogyakarta, Pun Edward tekun mendalami Shorinji Kempo dan ditempa di Dojo Yogyakarta timur. Sebagai Kenshi Kempo membuat Pun Edward sangat percaya diri saat sekolah di Yogyakarta walau pun saat itu zaman gali gali atau preman Yogya, namun tidak pernah mundur kalau memang harus berhadapan di jalan kalau dirinya diganggu atau diremehkan para preman-preman saat itu.

Shorinji Kempo sangat membekas dan membentuk karakternya menjadi orang yang penyabar dan rendah hati. Pun Edward selalu menyelesaikan masalah dengan dialog dan menciptakan kedamaian. Sekitar tahun 1978 Pangeran Edward Syah Pernong pun mampu berprestasi di Yogyakarta sebagai juara 2 beregu.

Sebagai Kenshi Kempo, tentu tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan dengan hal-hal yang tidak bisa diprediksi akibatnya. Sensitifitas Kenshi Shorinji Kempo membuat Pun Edward segera meredam langkah dan balik membanting dan mengunci dengan kuncian favoritnya ‘URA KATAME’.

Polisi Bernyali 

Tak hanya kemampuan bela diri yang mumpuni, Pun Edward juga dikenal sebagai polisi bernyali tinggi. Tak heran, nyali Pun Edward mengantarkannya pada prestasi ketika bertugas di kepolisian. Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Kepaksian Pernong Lampung itu menegaskan nyali juga harus digunakan untuk hal kebaikan.

Shorinji Kempo sangat membekas dan membentuk karakternya menjadi orang yang penyabar dan rendah hati. Pun Edward selalu menyelesaikan masalah dengan dialog dan menciptakan kedamaian.

“Betul sekali, polisi itu saya katakan harus bernyali. Ada yang bilang, polisi harus punya Otot, Otak, dan Hati Nurani. Saya tegaskan: harus ditambah punya Nyali. Kalau punya otot tak punya nyali, maka tidak akan bisa bertindak, punya otak tak punya nyali tak bisa berkembang, punya hati nurani tak punya nyali, maka tak bisa menolong sesama dan mempertahankan prinsip kebenaran. Ingat Adinda, nyali itu tidak berarti ngegas dan pemarah, nyali itu harus bisa mendorong kita untuk memberikan pengayoman kepada masyarakat dan sesama untuk kebaikan,” tegasnya diwawancarai RADAR. (rci/rci)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *