Qries

Empat Fakultas Unila Digeledah KPK

Ali Fikri Jubir KPK
Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

radarcom.id – Pengusutan kasus dugaan suap penerimaan mahasiswa baru Universitas Lampung terus didalami Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penggeledahan dilakukan KPK di empat fakultas di Unila dilakukan, Rabu (14/9/2022).

Hasil penggeledahan itu, KPK menemukan beberapa dokumen terkait penerimaan mahasiswa baru dan bukti elektronik dari penggeledahan di empat fakultas Unila, Kota Bandarlampung.

Menurut Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri di Jakarta, Kamis (15/9/2022), menyebutkan keempat fakultas yang digeledah pada Rabu (14/9) itu adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dan Fakultas Pertanian (FP).

“Rabu (14/9), tim penyidik KPK telah selesai melakukan penggeledahan di beberapa fakultas di Unila, yaitu Fakultas MIPA, FISIP, FEB, dan Pertanian. Dari lokasi dimaksud, tim penyidik menemukan beberapa dokumen terkait penerimaan mahasiswa baru Unila dan juga bukti elektronik,” kata Ali Fikri di Jakarta, Kamis.

Penggeledahan tersebut dilakukan dalam penyidikan kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru Unila tahun 2022 yang menjerat mantan rektor Unila Karomani sebagai tersangka. “Berikutnya akan dianalisis dan segera disita sebagai barang bukti dalam perkara ini,” tambahnya mengutip Antara.

Diketahui, KPK juga menetapkan Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi (HY) dan Ketua Senat Unila Muhammad Basri (MB) selaku tersangka penerima suap. Sementara itu, tersangka selaku pemberi suap ialah Andi Desfiandi (AD) sebagai pihak swasta. Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan saat menjabat sebagai Rektor Unila periode 2020-2024, tersangka Karomani memiliki wewenang terkait mekanisme Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) Tahun Akademik 2022.

Selama proses Simanila berjalan, KPK menduga tersangka Karomani aktif terlibat langsung dalam menentukan kelulusan, dengan memerintahkan tersangka HY, tersangka MB, serta Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Unila Budi Sutomo untuk menyeleksi secara “personal” terkait kesanggupan orang tua calon mahasiswa. (ant/rci)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.