Qries

KPK Perpanjang Penahanan Karomani dan Tiga Tersangka Lain

Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani (kedua kiri) memakai rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan pasca terjaring OTT, di gedung KPK, Jakarta, Minggu, 21 Agustus 2022. Dari OTT tersebut, KPK menyita barang bukti berupa uang tunai Rp414,5 juta, slip setoran deposito bank Rp800 juta, deposit box diduga berisi emas senilai Rp1,4 miliar dan atm serta tabungan sebesar Rp1,8 miliar. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani (kedua kiri) memakai rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan pasca terjaring OTT, di gedung KPK, Jakarta, Minggu, 21 Agustus 2022. Dari OTT tersebut, KPK menyita barang bukti berupa uang tunai Rp414,5 juta, slip setoran deposito bank Rp800 juta, deposit box diduga berisi emas senilai Rp1,4 miliar dan atm serta tabungan sebesar Rp1,8 miliar. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

radarcom.id – Komisi Pemberantasan Korupsi memperpanjang masa penahanan mantan Rektor Universitas Negeri Lampung atau Unila Karomani. Penahanannya diperpanjang pada 9 September sampai 18 Oktober 2022. “KPK telah memperpanjang masa penahanan para tersangka,” kata juru bicara KPK Ali Fikri, Senin,12 September 2022.

Ali mengatakan perpanjangan dilakukan untuk memberikan waktu kepada penyidik guna melengkapi alat bukti dan pemberkasan kasus suap penerimaan mahasiswa baru tersebut. Selain Karomani, KPK juga memperpanjang penahanan 3 tersangka lainnya yaitu Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi, Ketua Senat Unila Muhammad Basri dan Andi Desfiandi.

Karomani saat ini mendekam di Rumah Tahanan KPK di Gedung Merah Putih. Sementara, tiga tersangka lainnya mendekam di Rutan Pomdam Jaya Guntur.

YouTube player

Karomani dkk terjaring operasi tangkap tangan KPK pada Sabtu, 20 Agustus 2022 di Bandung. Dia kemudian ditetapkan menjadi tersangka penerima suap dan gratifikasi penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri Unila tahun 2022. Andi Desfiandi selaku swasta disangka menjadi salah satu pemberi suap itu.

Karomani cs disebut menerima suap dengan total sekitar Rp 5 miliar. KPK menduga Karomani dkk membanderol tarif jalan pintas masuk Unila ini dengan harga Rp 100 juta hingga Rp 350 juta. KPK menduga Karomani menerima uang lebih dari satu orang.

KPK pun berharap terbongkarnya kasus ini bisa mendorong reformasi dunia pendidikan yang antikorupsi. Lembaga antirasuah meminta kasus ini menjadi pelatuk untuk dunia pendidikan berbenah. (tmp/rci)

 

Sumber: tempo.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.