Qries

Geledah Rumah Karomani, KPK Amankan Uang Tunai Rp2,5 M Pecahan Rupiah, Dolar Singapura dan EuroKaromani,

Dua staf Universitas Lampung membawa mesin penghitung uang ke dalam rumah mewah Karomani yang digeledah KPK. (Foto: Tommy Saputra/detikSumut)
Dua staf Universitas Lampung membawa mesin penghitung uang ke dalam rumah mewah Karomani yang digeledah KPK. (Foto: Tommy Saputra/detikSumut)

radarcom.id – Hasil penggeledahan Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di rumah Rektor Universitas Lampung (Unila) non aktif Karomani dan beberapa pihak terkait lainnya pada Rabu (24/8) mengungkap fakta cukup mencengangkan. Penyidik KPK dari penggeledahan tersebut menemukan uang tunai sekitar Rp2,5 miliar.

Penggeledahan dilakukan dalam penyidikan kasus dugaan suap penerimaan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

“Mengenai jumlah uang ‘cash’ yang ditemukan pada proses penggeledahan di rumah kediaman tersangka KRM dimaksud dan juga pihak terkait lainnya, tim penyidik berhasil mengamankan uang tunai yang jumlah totalnya senilai Rp2,5 miliar,” kata Plt. Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis (25/8/2022).

Uang tunai yang berhasil diamankan KPK tersebut dalam bentuk pecahan rupiah, dolar Singapura, dan euro. Selain uang tunai, KPK juga mengamankan dokumen dan barang bukti elektronik dari penggeledahan tersebut.

“Kami akan analisis dan segera sita sebagai barang bukti yang nantinya akan dikonfirmasi kembali kepada para saksi maupun para tersangka yang kami periksa pada proses penyidikan ini,” ucap Ali Fikri.

Diketahui, KPK menetapkan empat tersangka kasus itu. Tiga tersangka selaku penerima suap ialah Karomani (KRM), Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi (HY), dan Ketua Senat Unila Muhammad Basri (MB). Sedangkan pemberi suap adalah Andi Desfiandi (AD) selaku pihak swasta.

Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan KRM yang menjabat sebagai Rektor Unila periode 2020-2024, memiliki wewenang terkait mekanisme Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) Tahun Akademik 2022.Selama proses Simanila berjalan, KPK menduga KRM aktif terlibat langsung dalam menentukan kelulusan dengan memerintahkan HY, Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat Unila Budi Sutomo, dan MB untuk menyeleksi secara “personal” terkait kesanggupan orang tua mahasiswa.

Apabila ingin dinyatakan lulus maka calon mahasiswa dapat “dibantu” dengan menyerahkan sejumlah uang, selain uang resmi yang dibayarkan sesuai mekanisme yang ditentukan ke pihak universitas.

Selain itu, KRM juga diduga memberikan peran dan tugas khusus bagi HY, MB, dan Budi Sutomo untuk mengumpulkan sejumlah uang yang disepakati dengan pihak orang tua calon mahasiswa baru. Besaran uang itu jumlahnya bervariasi mulai dari Rp100 juta sampai Rp350 juta untuk setiap orang tua peserta seleksi yang ingin diluluskan.

Seluruh uang yang dikumpulkan KRM melalui Mualimin dari orang tua calon mahasiswa itu berjumlah Rp603 juta dan telah digunakan untuk keperluan pribadi KRM sekitar Rp575 juta.

KPK juga menemukan adanya sejumlah uang yang diterima KRM melalui Budi Sutomo dan MB yang berasal dari pihak orang tua calon mahasiswa yang diluluskan KRM atas perintah KRM.

Uang tersebut telah dialihkan dalam bentuk menjadi tabungan deposito, emas batangan, dan masih tersimpan dalam bentuk uang tunai dengan total seluruhnya sekitar Rp4,4 miliar. (ant/rci)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.