Soal Rencana Taman Gajah Menjadi Masjid, Nizwar Affandi Punya Pandangan Berbeda, Seperti Apa?

Lampung Elephant Park. Foto Istimewa

radarcom.id – Publik Lampung belakangan dihebohkan dengan rencana perubahan Taman Gajah (Elephant Park) dan Lapangan Merah Enggal, Bandar Lampung menjadi Masjid Agung Aburizal Bakrie. Sejumlah pihak pun memberikan tanggapan diantaranya Pengamat Pembangunan dan Kebijakan Publik Nizwar Affandi.

“Masjid Agung Al Furqon sudah beberapa dekade menjadi landmark Kota Bandar Lampung seperti Masjid Agung di Bandung, Semarang dan lainnya. Dibandingkan dengan kota besar lainnya, Kota Bandar Lampung justru tidak memiliki ruang publik terbuka yang sering disebut alun-alun,” terang Nizwar Affandi menjawab pertanyaan media ini, Rabu (19/1).

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Sambung mantan Presiden BEM Unila ini, kalau memang Bakrie ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat dan menjadi landmark baru di Bandar Lampung, akan lebih baik jika membangun ruang publik terbuka yang luas.

“Tentu tidak harus seperti Central Park di New York seluas 340 hektar atau Garden By The Bay di Singapore yang luasnya 101 hektar. Seperseratusnya saja 1 sampai 3 hektar sudah sangat luar biasa,” ujarnya.

Namun begitu, kata Nizwar Affandi, tetapi tentu Aburizal Bakrie harus membebaskan sendiri lahannya dengan cara membeli baru dihibahkan kepada pemda. “Bakrie ya harus membebaskan sendiri lahannya dengan cara membeli baru dihibahkan kepada pemda, bukan cari gampang hanya ingin menggunakan tanah milik TNI dan pemda kemudian membebankan kepada pemda memberikan tanah penggantinya di kawasan Kota Baru,” ungkapnya.

Lebih Pas di Kalianda Atau Menggala

Pun jika tetap ingin membangun masjid, imbuh Nizwar, maka bisa di Kalianda atau Menggala mungkin lebih tepat dari sisi kesejarahan keluarga Bakrie di Lampung. “Itupun mungkin akan lebih patut disematkan nama almarhum Achmad Bakrie ketimbang diberi nama anaknya Aburizal Bakrie,”

“Achmad Bakrie lebih banyak meninggalkan tapak sejarah di Lampung karena memang hampir separuh hidupnya masih sempat tinggal di Lampung, almarhum meninggalkan banyak kenangan baik pada ingatan kolektif publik terutama melalui aktivitas Yayasan Achmad Bakrie yang didirikan tahun 1981. Sampai akhir hayatnya, almarhum juga tidak pernah sekalipun menjadi pergunjingan publik apalagi menyebabkan kegaduhan di dunia maya karena potongan video liburan yang viral,” tuntasnya. (rls/rci)

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *