Pelantikan KAFEGAMA Lampung Membawa Pencerahan, Dorong Implementasi Ekonomi Sirkular

  • Whatsapp

radarcom.id – Pelantikan Pengurus Daerah Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) Provinsi Lampung, Sabtu (27/11) di Student Centre FEB Universitas Lampung membawa pencerahan. Diantaranya terungkap dalam Talkshow bertema “Mendorong Implementasi Ekonomi Sirkular di Provinsi Lampung” yang menghadirkan sejumlah narasumber kompeten.

Bertindak selaku keynote speaker Ketua Umum PP KAFEGAMA pusat Perry Warjiyo, Ph.D., yang juga Gubernur Bank Indonesia (BI), dengan narasumber diantaranya Gubernur Lampung Ir. H. Arinal Djunaidi, Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.Sc. (akademisi Unila), drh. Willy Sugiono (Great Giant Pnneaple Lampung), Hendri Saparini, Ph.D., (Core Indonesia) dan moderator Putri Swastika, Ph.D. (IAIN Metro).

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Ketua Pengurus Daerah KAFEGAMA Lampung Dr. H. Fauzi  yang dilantik bersama jajaran pengurus mengatakan bahwa hadirnya KAFEGAMA di Provinsi Lampung  wadah berkumpulnya para alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, yang terdiri dari berbagai ragam profesi.

Wakil Bupati Pringsewu itu meneruskan, banyak hal yang bisa dilakukan melalui organisasi KAFEGAMA. “Saya mengajak seluruh pengurus dan anggota KAFEGAMA untuk menciptakan kebersamaan dan terus berbuat yang terbaik serta berbakti tanpa henti dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan pengalaman dan ilmu yang dimiliki para alumni ini akan dapat memberikan manfaat bagi semuanya,” tegasnya.

Ketua KAFEGAMA Lampung Dr. H. Fauzi
Jajaran Pengurus Daerah KAFEGAMA Lampung usai dilantik, Sabtu (27/11).

Sementara itu, dalam talkshow mendorong implementasi ekonomi sirkular di Lampung terungkap dari narasumber Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Unila Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.Sc. Menurut Dewan Komisioner dan Ekonom Senior INDEF ini yang menghadirkan materi berjudul “Implementasi Ekonomi Sirkular dalam Pencapaian SDGs Lampung” mengupas tiga prinsip penting ekonomi sirkular

Pertama, “Merancang” limbah atau mengolah ulang sistem agar tidak menghasilkan limbah. Hal ini dicapai dengan desain produk atau layanan yang tahan lama, menggunakan bahan daur ulang dan bahan terbarukan;

Kedua, memisahkan residu biologis (sumber daya sisa yang tidak beracun dan dapat dengan aman dikembalikan ke biosfer sering organik seperti kertas dan kayu) untuk dikembalikan kembali ke biosfer, sedangkan resiu bahan teknis (tidak cocok untuk sistem biosfer seperti logam dan plastik) dipakai lagi. Partisipasi kita sampai ke tingkat rumah tangga amat dibutuhkan, misalnya pemilahan sampah, pengomposan sampah hijau dan sampah lain untuk didaur ulang;

Ketiga, menggunakan energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara dan bahan bakar fosil lainnya dan mengurangi kerugian dan kerentanan terhadap kegagalan dengan memproduksi secara lokal.

Prof Bustanul juga memaparkan tiga strategi transisi menuju ekonomi sirkular.

“Konsumsi lebih sedikit. Mengurangi kantong plastik adalah contoh umum. Saat ini 127 negara telah meneraplam bentuk larangan atau pajak untuk mengatur penggunaan kantong plastik. Kenya sering dijadikan contoh, karena 80% penduduk telah berhenti menggunakan kantong plastik sejak ada larangan pada tahun 2017,”

“Konsumsi lebih baik. Berhenti membeli barang tertentu dan beralih ke model sirkular seperti platform berbagi (sharing platform). Layanan streaming contoh konsumsi yang lebih baik, mengurangi produksi dan konsumsi CD dan DVD fisik. Gaya hidup tidak berkurang, hanya menjadi lebih baik dan bertanggungjawab. Perusahaan dituntut berinovasi,”

“Perubahan Sistemik. Dalam ekonomi sirkular, produk harus dirancang untuk bertahan lama, beberapa bagian komponen atau bahan dapat digunakan kembali. Oleh karena itu, harus ada perubahan besar untuk memberi insentif atau mewajibkan penggunaan bahan sekunder atau bahan daur ulang, misalnya dengan mengenakan pajak pada produk bahan asli. Inggris memberlakukan pajak kemasan plastik dengan kandungan ulang kurang 30%. Korea Selatan mewajibkan sampah daur ulang dan melarang membuang sampah pangan di lahan tempat pembuangan akhir (TPA). Hasilnya, 95% sampah didaur ulang menjadi kompos, pakan ternak, biogas dan bahan bakar padat,” tuturnya.

Selain itu, juga dibahas kapasitas produksi dan keberlanjutan menurun. Menurut dia, sistem produksi pertanian rentan terhadap gangguan ketersediaan air, sehingga konservasi sumberdaya air menjadi hampir mutlak, dll. Peningkatan kapasitas produksi harus dilakukan, termasuk percepatan perubahan teknologi pertanian;

Keberlanjutan pertanian pangan terancam, terjadi land fatigue di beberapa tempat.  Langkah: Investasi untuk penyehatan tanah, manajemen irigasi, pola tanam ramah lingkungan, sistem rotasi tanaman, tumpang sari, plus strateginya.

Prof Bustanul menutup materi dengan opsi perubahan kebijakan ke depan.

“Pertama, Adaptasi ekonomi sirkular untuk pembangunan pertanian berkelanjutan: Peningkatan produktivitas dan efisiensi, melalui pemuliaan, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, peningkatan kapasitas R&D, kebijakan ketahanan pangan, integrasi pembangunan pedesaan dan penciptaan lapangan kerja,”

“Kedua, Pengembangan climate-smart agriculture, bioteknologi modern, digitasilisasi rantai nilai, mitigasi risiko ekologis, banjir besar, kekurangan air. Ketiga, sistem rantai nilai digital memerlukan tokoh champion yang mampu merajut networks, menghubungkan stakeholders dalam inclusive closed loop system. Keempat, Investasi modal manusia: Trisula pendidikan, pelatihan, penyuluhan pertanian untuk menggapai perubahan teknologi yang berubah amat cepat dan terakhir, Transdisipliner: Risiko ekologi dan ketahanan pangan mencakup dimensi biofisik, sosial ekonomi, kesehatan dari perubahan lingkungan global,” terangnya.

Pemaparan Ekonomi Sirkular PT GGP

Sementara itu, drh. Willy Sugiono dari PT Great Giant Pinneaple Lampung memberikan pemaparan mengenai ekonomi sirlukar berjudul “Zero Waste Management: Best Practices PT Greant Giant Pinneaple. Dipaparkan oleh Corporate Affairs Director PT GGP ini, memaparkan langkah yang sudah ditempuh perusahaan dalam sirkular ekonomi.

Menurut dia, ekonomi sirkular atau circular economy adalah sebuah alternatif untuk ekonomi linier tradisional, dimana pelaku ekonomi menjaga agar sumber daya dapat dipakai selama mungkin. Hal tersebut dilakukan untuk menggali nilai maksimum dari penggunaan, kemudian memulihkan dan meregenerasi produk dan bahan pada setiap akhir umur layanan. Konsep ekonomi sirkular dalam sektor industri dapat di aplikasikan dengan menggunakan pendekatan 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, dan Repair).

“Pada Tahap ini kami mencoba menyeimbangkan antara area bisnis dan masyarakat sekitar atau community . Salah satunya dari buah yang belum memenuhi standar untuk dijual di pasar seperti halnya pisang. Melalui Kerjasama dengan komunitas masyarakat lokal, buah tersebut diolah Kembali menjadi keripik pisang. Seperti yang kita tahu juga bahwa lampung dikenal sebagai penghasil keripik pisang . Selain itu juga limbah domestik yang kami hasilkan juga kami gunakan dan olah menjadi pakan untuk maggot,” terangnya.

Bromelain Enzyme (BE)

Enzim Bromelain (BE) memproduksi produk bromelain olahan dengan mengekstraksi batang nanas yang dipanen dari perkebunan kami. Dengan pabriknya yang berlokasi di Lampung, BE mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2011 dengan tujuan untuk memproduksi produk bromelain olahan untuk ekspor ke Eropa, Amerika Serikat, Asia Pasifik dan wilayah lainnya. Pada tahun 2013, PT Bromelain Enzyme memproduksi sekitar 60 ton bromelain yang menguasai 21 persen pasar dunia.

Biogas

Biogas merupakan bahan bakar gas (biofuel) dan bahan bakar yang dapat diperbaharui (renewable fuel) yang dihasilkan secara anaerobic digestion atau fermentasi anaerob dari bahan organik dengan bantuan bakteri metana seperti Methanobacterium sp. Proses pembuatan biogas dilakukan secara fermentasi yaitu proses terbentuknya gas metana dalam kondisi anaerob dengan bantuan bakteri anaerob di dalam suatu digester sehingga akan dihasilkan gas metana (CH 4 ) dan gas karbon dioksida (CO 2 ) yang volumenya lebih besar dari gas hidrogen (H 2), gas nitrogen (N 2 ) dan gas hydrogen sulfida (H 2 S). “Dari produksi biogas, GGP bisa mengurangi penggunaan batubara sekitar 30 persen,” ungkapnya.

Liquid Organiz Biofertilizer (LOB)

Liquid Organiz Biofertilizer (LOB) merupakan pupuk cair yang mengandung mikroba, fitohormon dan bakteri yang baik bagi tanah lahan pertanian, yang berfungsi untuk mengembalikan unsur hara tanah dan menyuburkan tanaman serta menyehatkannya agar lebih tahan terhadap hama, penyakit dan kondisi cuaca ekstrim.

“LOB Nanas adalah komoditas hortikultura yang sangat potensial dan penting di dunia. Produksinya mencapai 20% produksi buah tropika dunia,” terangnya.

Kompos

Kompos atau Pupuk Kompos adalah salah satu pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik (tanaman maupun hewan). Mulai tahun 2013, PT Great Giant Pineapple (PT GGP) membuat kebijakan baru yaitu dengan mengaplikasikan effluent sapi pada lahan eks chopper sebelum tanam untuk meningkatkan unsur hara pada tanah dan aktivitas mikrobiologi tanah serta memperbaiki struktur tanah, karena diperkirakan stabilitas agregat akan meningkat. Eks chopper adalah proses pencacahan menggunakan chopper untuk mempercepat proses penguraian sisa tanaman nanas sehingga dapat mengurangi proses evaporasi dan splash erotion akibat curah hujan yang tinggi. (rci/rci)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *