Butuh Waktu 1 Bulan Hanya Untuk Uang Rp 300 Ribu

  • Whatsapp
Foto TSN

radarcom.id – Ali Uzi (44) warga Pekon Padang Haluan, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat. Pria paruh baya ini mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya akibat jatuh dari pohon melinjo.

“Sudah sepuluh tahun saya tidak bisa berjalan karena jatuh dari pohon melinjo ketika saya lagi mengambil buah melinjo untuk sayur,” ujarnya sambil terus bekerja merajut benang jala.

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Dia pun berpesan untuk berhati-hati ketika memanjat pohon melinjo karena pohonnya agak rapuh jangan sampai mengalami nasib serupa seperti dirinya.

“Dulu ketika saya habis jatuh hanya berobat tradisional (diurut-urut saja) maklum saja karna tidak ada biaya untuk ke dokter,” kata Ali Uzi.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ali Uzi dengan tekun membuat jala, jaring, itupun kalau ada pesanan dan untuk satu buh jala Ali bisa menyelesaikan dalam waktu satu bulan dan mendapat imbalan Rp 300 ribu.

“Kalau tidak ada pesanana ya terpaksa nganggur, mau bikin sendiri tidak ada modal,” ujar Ali sambil selonjoran di tempat tidurnya.

Dengan uang Rp 300 ribu sebulan ia mengatakan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya, apalagi akhir-akhir ini kakinya yang sebelah kanan, tidak bisa digerakkan lagi dan terkadang merasa sakit yang tak terhingga.

“Obat harus ada terus karna, sewaktu-waktu rasa sakit dikaki saya datang dengan tiba-tiba jadi, saya harus minum obat, dengan minum obot rasa sakitnya berangsur-angsur berkurang,” jelas Ali sambil menunduk.

Untuk memenuhi kebutuhannya Ali dibantu saudara-saudaranya dan tetangganya. Setiap hari saudaranya ada yang datang membawakan sayur dan menimbakan air untuk Ali Uzi mandi, maklum di rumahnya belum ada mesin air. Sedangkan untuk nasi dia bisa masak sendiri dengan menggunakan listrik.

“Kadang saya minta bantuan tetangga untuk menimbakan air buat mandi kalau saudara saya kebetulan tidak datang,” ujarnya

Ali mempunyai dua orang anak, kedua-duanya tidak tinggal bersamanya. Anak perempuan Ali bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan tinggal ditempat ia bekerjanya. Hanya sekali-sekali menengok. Sedang Anak laki-lakinya juga tingal ditempat lain.

“Anak saya yang perempuan kerja sebagai pembantu rumah tangga dan tinggal disana sedangkan yang laki-laki dan menantu saya juga tingal ditempat lain usaha,” terangnya sambil mengusap mukanya.

Tidak banyak lagi aktivitas yang bisa dikerjakan Ali Uzi, bahkan untuk sekedar keluar rumah saja iapun harus berjuang keras untuk menaiki kursi roda.

“Minta doanya supaya saya bisa sehat terus dan bisa bekerja sebagai pengrajin jala untuk memenuhi kebutuhan,” harapnya sambil menundukkan kepala. (tsn/rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *