“Bebai Maghing: Nikmatnya Sampai ke Hati”

  • Whatsapp

Minggu,  26  September 2021 ini menjadi spesial karena sang istri tercinta (Yulia KW) berinisiatif membuat kudapan spesial khas Lampung.

Ada dua kudapan yang dibuat, Pertama adalah kopi lahhang (air nira gula aren). Kedua adalah “bebai maghing”  atau bahasa kami di Tulang Bawang Barat adalah “Berebus”.

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Secara harfiah, “bebai maghing” berarti “wanita malas”.

Sungguh kudapan yang spesial ini membuat saya ingin berbagi kepada sahabat tentang lezatnya kuliner Lampung.

Bebai maghing atau juga dikenal dengan sebutan “berebus” merupakan salah satu kue khas Lampung yang sangat dikenal.  Secara harfiah, “bebai maghing” berarti “wanita sakit”. Ada juga yang menyebut makanan ini dengan sebutan “biak injak”, yang berarti “berat atau susah bangun”.

Berebus merupakan makanan kecil yang sering disajikan pada acara  hajatan dan pertemuan keluarga, juga di saat santai misalnya sebagai teman minum kopi dan teh di pagi atau sore hari. Makanan ini terbuat dari campuran pisang, gula, dan ketan. Menjelanfg hajatan, masyarakan biasanya membuat Bebai Maghing untu bersama kerabat dan tetangga,  sebagai wujud kerukunan, kebersamaan, dan gotong-royong. Bagi anda yang kangen atau belum pernah  makan Bebai Maghing, lanjutkan membaca ya.

Kue “bebai maghing” atau “biak injak” ini memang pembuatannya tidak terlalu sulit. Rasanya yang nikmat sungguh akan membuat anda “biak minjak” sudah untuk bangun dan terus memakannya. Apalagi kalau ditemani segelas kopi lahhang “air nira aren” sambil bermalas-malasan menikmati libur CORONA.
Untuk membuat kue ini kiat cukup menyedialan Ketan hitam atau putih, pisang raja/rejang yg sdh matang,  kelapa parut, gula  (sesuai selera) dan garam sedikit, daun pisang.

Caranya cukup kita rendam sebentar kemudian dicampur pisang dan parutan kelapa agar gurih (Informasi dari istri). Tambahkan gula secukupnya dan aduk hingga rata. Selanjutnya bungkus dengan daun pisang dan rebus seperti kita merebus ketupat.
Untuk mendapatkan rasa yang spesial, sang istri menambahlan parutan kelapa pada adonan.

Setelah matang didinginkan dan siap dimasak. Wow ! Dang lupo BAHAGIA, geh.

Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya memberikan sebuah pantun pendek untuk kita semua.

Hari Sabtu kak ghadu liwat
Hari Minggu hampir teliyu
Lapah gham lurusken niat
Guai lampung wawai selalu

Dr. Eng. Admi Syarif

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *