Cinta Wanita dan Profesi

  • Whatsapp

“.. Sesungguhnya, Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” QS. An Najm : 43)

Kehidupan itu tidak selalu rata dan mulus saja, dia bisa seperti air di lautan lepas, pasang naik dan pasang surutnya atau seperti naik roller coaster. Ada masanya kita berada di atas, semua keadaan seperti baik-baik saja, tidak ada masalah, gembira, dan jalan di depan seperti membentang mulus. Namun, kehidupan tidak hanya memberikan manis, kadang kita mengalami kepahitan.

Bacaan Lainnya

Jika mengalami hal seperti itu, sepertinya semua buntu, rasanya sedih selalu, apapun yang kita lakukan seperti menambah masalah, dan jalan di depan seperti kelabu. Keduanya tidak bisa kita tolak.

Dalam kesulitan pasti ada kemudahan, begitu Allah bersabda. Saat senang, tentu mudah bahkan tidak perlu bersusah payah untuk membuat diri bersemangat. Namun di titik terendah kita memerlukan inspirasi dan influence semangat untuk menghadapinya.

Pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah yang paling lama di dalam agama Islam. Akad suci yang diikrarkan oleh seorang suami memiliki arti tanggung jawab sehingga membuat hubungan itu menjadi sangat istimewa.

Seorang istri yang sholehah tidak akan pernah merasa khawatir menikah dengan laki-laki karena kekurangan harta. Namun, wanita muslimah tersebut lebih takut jika harus menjalani kehidupan rumah tangga bersama lelaki yang miskin ilmu serta tanggung jawab.

Cinta merupakan salah satu rasa terindah yang diberikan oleh sang Maha Pencipta. Namun, ingatlah Allah SWT akan menguji hamba-Nya dengan hal itu. Maka, jangan berlebihan menaruh hati ke seseorang agar tidak terlalu bersedih nantinya.

Profesi
Suatu pekerjaan yang dikerjakan sebagai sarana untuk mencari nafkah hidup sekaligus sebagai sarana untuk mengabdi kepada kepentingan orang lain (orang banyak) yang harus diiringi pula dengan keahlian, ketrampilan, profesionalisme, dan tanggung jawab.

Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan rukun Islam.

Bekerja menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis serta sosial. Dengan jalan bekerja, maka manusia bisa mendapatkan banyak kepuasan yang meliputi kebutuhan fisik, rasa tenang dan aman, kebutuhan sosial dan kebutuhan ego masing-masing. Sedangkan kepuasan di dalam bekerja juga bisa dinikmati sesudah selesai bekerja seperti liburan, menghidupi diri sendiri dan juga keluarga.

Jika dilihat secara hakiki, maka hukum bekerja di dalam Islam adalah wajib dan ibadah sebagai bukti pengabdian serta rasa syukur dalam memenuhi panggilan Ilahi supaya bisa menjadi yang terbaik sebab bumi sendiri diciptakan sebagai ujian untuk mereka yang memiliki etos paling baik.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan apa-apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, supaya Kami menguji mereka siapakah yang terbaik amalnya”. (Al-Kahfi : 7)

Bekerja dalam ajaran Islam tidak sekedar berlandaskan tujuan yang bersifat duniawi, namun lebih kepada bekerja untuk ibadah. Bekerja akan membuahkan hasil dan hasil itulah yang bisa memberikan makan, tempat tinggal, pakaian, menafkahi keluarga sekaligus menjalani bentuk ibadah lain dengan baik.

Apabila bekerja dianggap sebagai hal yang suci, maka begitu pun juga dengan harta benda yang didapatkan dari bekerja. Alat untuk memuaskan kebutuhan dan juga sumber daya manusia lewat proses kerja merupakan hak orang yang yang sudah bekerja dan harta dianggap menjadi satu bagian yang suci. Jaminan hak milik perorangan dengan fungsi sosial lewat institusi  zakat, shadaqah dan juga infaq menjadi sebuah dorongan kuat untuk lebih keras dalam bekerja yang pada dasarnya merupakan penghargaan Islam pada usaha manusia.

Dalam rumah tangga, pertengkaran sebenarnya hal yang biasa terjadi. Perbedaan pendapat terkadang muncul hingga menimbulkan pertengkaran suami istri. Acap kali, ketika salah satu pihak diambang toleransi, perselisihan terus terjadi hingga berujung perceraian.

Sebenarnya, perbedaan pendapat itu bisa diselesaikan dengan bersabar. Cara bersabar menghadapi masalah rumah tangga memang susah-susah gampang karena butuh pengendalian diri dan bijaksana dalam menghadapi masalah yang sedang kita hadapi.

Bersabar bisa mencegah konflik rumah tangga bertambah buruk dengan tidak memaksakan kehendak.

(Apriyan Sucipto, SH, MH, Pemerhati Sosial)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *