Saatnya Mengakhiri Dikotomi Ilmu

  • Whatsapp

Oleh: Ir. Heri Budianto, M.T. (Dosen STSQABM)

Sebenarnya tidak ada pertentangan antara pendidikan agama dan dunia. Kedua ilmu tersebut saling melengkapi dan menguatkan.

Pengertian anak sholeh adalah anak yang taat dan bersungguh sungguh dalam menjalankan ibadah kepada Allah dilandasi keikhlasan (dipersembahkan hanya untuk Allah bukan mengharapkan balasan dunia). Ibadah sendiri adalah tunduk merendahkan dan menghinakan diri kepada dan di hadapan Allah.

Bacaan Lainnya

Agama Islam memerintahkan seluruh aktifitas muslim haruslah bernilai ibadah sebagaimana tujuannya utama diciptakan manusia “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah- Ku (QS. Al-Zariyat/51:56).

Jadi tidak boleh kita membatasi keahlian ilmu sebagai bekal ibadah hanya sebatas ubudiyah mahdha seperti sholat puasa, baca Qur’an haji dll. Ibadah hablun minallah lainnya tetapi harus juga mempunyai keahlian ilmu mengatur urusan urusan dunia dalam membina nilai ibadah hablun minannas.

Pemilahan seperti ini mendapat ancaman dari Allah “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada. Kecuali jika mereka melakukan hubungan baik kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan baik dengan manusia (hablum minan naas)” QS Ali Imran ayat 112.

Iniah yang dihadapi manusia sekarang berbagai multi krisis karena bidang bidang pengaturan ilmu ilmu dunia dikuasai saudara saudara kita non muslim atau jauh dari pemahaman agama. Adanya anggapan bahwa anak sholeh cukup dicetak dengan pendidikan agama sampai jadi ahli agama. Pelajaran ilmu dunia seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Sejarah, seni dll seakan bukan bagian dari ibadah. Padahal bidang bidang tersebut bagian dari ilmu ilmu yang dijelaskan Allah di Al Quran.

Akhirnya lahirlah genersai yang mengatur urusan dunia tidak lagi dikaitkan dengan Allah ( beribadah ) tetapi karena tuntutan profesi dunia semata kalaupun ibadah baru pada tataran retorika, karena ciri khas kalau pelayanan dunia bernilai ibadah orang yang dilayani akan merasakan tenang atau tenteram, timbul rasa saling mencintai karena Allah dan otomatis timbul rasa saling menyayangi karena problemnya diringankan oleh ilmu SDM yang memberi pelayanan (ASN, Akademisi, Peneliti, dll) Inilah fitrah ibadah.

Kita hanya melaksanakan kewajiban membagi apa apa yang telah dikaruniakan Allah berupa ilmu semata mata taatkepada Allah, masalah hak kita (penghargaan) kita cukupkan dari Allah saja baik didunia terlebih diakhirat kelak, karena Rezki yang halal dan berkah hak mutlak Allah membagi dan sudah disiapkan. Bukan sebaliknya mempersulit,memberatkan atau membisniskan pelayanan dimana rasa hormat manusia kepadanya hanya basa basi. Profesionalisme dihitung dengan pola materialistik, semakin besar bayaran semakin serius membantu atau membagikan ilmunya.

Sehingga ikatan hanya ikatan dunia/uang. Akibat memutus aktifitas dunia dengan Allah Kita juga sering menyaksikan dampak dari memilah syariat ibadah ini banyak yang rajin ibadah ibadah magdoh sunnah tetapi terlibat juga kepada kemaksyiatan seperti korupsi,fungli, bahkan prilaku amoral.

Jadi sebagaimana kita bangga memiliki anak yang hapal Al Quran dan ahli sholat mari kita juga bangga bila anak kita sukses dalam hal ilmu dunia seperti, Kedokteran, Teknologi, Hukum, Ekonomi, Keguruan dll. Tetapi sampaikan bahwa agar orang tuanya nanti bahagia dihadapan Allah gunakan ilmu ilmu tersebut ketika mendapat amanah pejabat atau dimasyarakat untuk dipersembahkan kepada Allah membantu masyarakat sehingga masyarakat merasa tenteram,bahagia, tercerahkan dan sejahtera dengan kehadirannya. Agar setelah kita dipanggil Allah amal amal kebaikan anak kita tetap terus mengalir menemani kita dialam kubur dan akhirat kelak (anak sholeh).

Sesuai dengan janji kita “Inna Sholati wanusuki wanahyaya wamamati lillahirabil alamin yang artinya Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Wallahu’alam

(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *