Terjadinya Penyakit Radang Usus Bisa Picu Terjadinya Stres dan Depresi

  • Whatsapp
Ilustrasi sakit perut. ©Shutterstock.com/Lusie Lia
Ilustrasi sakit perut. ©Shutterstock.com/Lusie Lia

radarcom.id – Pada masyarakat perkotaan saat ini, terdapat sejumlah masalah kesehatan yang rentan terjadi. Salah satunya adalah inflammatory bowel disease (IBD) atau penyakit radang usus.

Melansir merdeka.com, menurut dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi hepatologi RSCM-FKUI, Prof. Marcellus Simadibrata, penyakit menahun ini dapat disebabkan berbagai faktor seperti lingkungan, diet, obat-obatan, makanan, genetik, dan stres.

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Akibat pengobatan yang membutuhkan waktu lama dan menguras biaya banyak, IBD juga sangat berpotensi memicu masalah psikologi atau gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan dan depresi.

“Pasien IBD ini banyak mengalami hal berat yang memicu masalah psikis. Kualitas hidup menurun, jadi sulit bekerja bahkan beberapa pasien yang sering tidak masuk kerja akibat IBD akhirnya dipecat,” ujar Marcellus dalam seminar daring PT. Takeda beberapa waktu lalu.

Pasien tidak bisa masuk kerja karena mengalami diare yang terus-menerus. Bagi orang dewasa IBD menghambat produktivitas kerja, sedangkan bagi anak-anak penyakit ini dapat menghambat aktivitas belajar.

Walau banyak kasus IBD yang memicu gangguan psikologi, tapi sejauh ini Marcellus belum menemukan kasus bunuh diri akibat IBD.

“Kasus bunuh diri saya belum dapat data, tapi banyak berhubungan dengan stres dan depresi yang disebabkan IBD. Mungkin bisa saja (ada kasus bunuh diri) tapi saya belum dapat datanya.”

Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien

Marcellus menambahkan, untuk meningkatkan kualitas hidup pasien IBD maka diperlukan terapi yang komprehensif.

“Mulai dari pengobatan non farmakologi (tanpa obat) yakni dietnya harus hati-hati, jadi jangan sampai pasiennya malnutrisi dan jangan makan makanan yang memicu peradangannya jadi aktif.”

Edukasi terkait IBD juga sangat penting diberikan pada para pasien dan keluarga karena penyakit ini membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk pengobatannya, tambahnya.

“Pasien enggak sembuh-sembuh terus dia pindah dari dokter satu ke dokter yang baru karena dia tidak mengerti penyakitnya. Kita harus jelaskan bahwa penyakitnya memang progresif dan berulang serta kambuh-kambuhan,” terangnya.

Untuk mengurangi pembengkakan, maka dapat diberi obat anti inflamasi mulai dari yang ringan hingga yang berat. Ini tidak menghilangkan gejala tapi dapat memperbaiki mukosa (lapisan usus).

Marceluss juga mengatakan bahwa pasien sebaiknya konsumsi makanan sehat. Selain itu, perlu juga melakukan olahraga rutin untuk meningkatkan sistem imun tubuh. (merdeka.com/rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *