Jelang Larangan Mudik, Penumpang Bus AKAP Naik 62,7 Persen

  • Whatsapp
Ilustrasi--Sejumlah bus antar kota antar provinsi berjajar di terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Foto : Suara.com

radarcom.id –¬†Penumpang layanan Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di empat terminal yang dikelola Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) meningkat jelang pemberlakuan larangan mudik pada 6-17 Mei mendatang.
Terminal tersebut adalah Terminal Jatijajar, Depok; Terimal Baranangsiang, Bogor; Terminal Poris Plawad, Tangerang dan Terminal Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Kepala BPTJ Polana B Pramesti mengatakan kenaikan tertinggi terjadi di Terminal Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Sepanjang Januari-Maret saja, rata-rata penumpang AKAP per hari di terminal tersebut mencapai 38 orang.

“Untuk April ini meningkat meningkat sebesar 62,7 persen dengan melayani penumpang sekitar 61 orang rata-rata per harinya,” ungkap Polana dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (3/5) dikutip dari cnnindonesia.com.

Sementara di Terminal Baranangsiang Bogor, jumlah penumpang AKAP tercatat naik sebesar 3,2 persen

“Mulai Januari sampai dengan Maret rata-rata per hari Terminal Baranangsiang melayani penumpang sekitar 203 orang. Pada April ini tercatat melayani sebanyak 209 penumpang per hari,” ujar Polana.

Untuk pengguna layanan AKAP di Terminal Poris Plawad Tangerang, kata Polana, peningkatan mencapai sekitar 25,4 persen. “Apabila dari Januari sampai dengan Maret rata-rata setiap hari melayani penumpang sekitar 446 orang, maka sepanjang April rata-rata setiap hari melayani sejumlah 559 penumpang,” imbuh Polana.

Selanjutnya, untuk Terminal Jatijajar Depok, tercatat penumpang AKAP mencapai sekitar 324 orang per hari pada Januari hingga Maret. Sementara pada April, setidaknya rata-rata per hari terdapat pengguna layanan angkutan AKAP di terminal ini sekitar 501 penumpang.

“Dengan demikian kenaikan penumpang yang berangkat melalui Terminal Jatijajar tercatat kurang lebih sebesar 54,7 persen,” jelas Polana.

Menjelang masa peniadaan mudik, Polana menyampaikan bahwa secara acak dilakukan tes GeNose- C19 kepada para calon penumpang yang hendak memanfaatkan layanan melalui terminal-terminal yang berada di bawah pengelolaan BPTJ.

Ia juga memerintahkan seluruh Kepala Satuan Pelayanan Terminal yang berada di bawah pengelolaan BPTJ untuk melakukan komunikasi dengan baik kepada seluruh operator bus terkait dengan pelaksanaan tes GeNose tersebut.

Layanan AKAP dan AKDP Akan Dihentikan Sementara

Sementara itu, terhitung mulai 6 sampai dengan. 17 Mei 2021 layanan Bus AKAP dan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) di Terminal Bus yang berada di Jabodetabek untuk sementara waktu akan dihentikan.

Menurut Polana langkah ini merupakan tindak lanjut dari terbitnya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 13 Tahun 2021 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Idul Fitri Tahun 1442 H Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Pemberhentian sementara layanan AKAP dan AKDP ini baik di terminal yang berada dibawah pengelolaan BPTJ maupun yang berada di bawah pengelolaan Pemerintah Daerah,” jelas Polana.

Untuk mengakomodir masyarakat yang secara mendesak harus melakukan perjalanan keluar Jabodetabek dan non mudik sebagaimana yang dikecualikan dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 13 Tahun 2021, Polana menyampaikan Terminal Terpadu Pulo Gebang dan Terminal Tipe A Kalideres, Jakarta dipersiapkan untuk tetap membuka layanan AKAP.

Ia melanjutkan, meski layanan AKAP dan AKDP pada Terminal Bus di Jabodetabek akan dihentikan sementara, namun bukan berarti aktifitas terminal tersebut akan berhenti total.

Menurut Polana operasional terminal bus di Jabodetabek tetap berlangsung untuk melayani angkutan TransJabodetabek. Contoh layanan TransJabodetabek misalnya bus dengan rute dari Terminal Poris Plawad Tangerang menuju Bekasi, meski lintas wilayah propinsi namun masih dalam wilayah aglomerasi Jabodetabek

‘Penghentian operasional layanan tidak berlaku bagi angkutan perkotaan antar lintas wilayah di Jabodetabek atau sering disebut TransJabodetabek,” pungkasnya. (cnnindonesia/rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *