Mencermati Sosok Tokoh Adat Harapan Masyarakat

  • Whatsapp
SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Kepaksian Pernong Yang Dipertuan Ke-23. Foto Istimewa

radarcom.id – Mencermati kuatnya menjaga tradisi adat dan budaya luhur Lampung tentu tak terlepas dari hadirnya sosok seorang tokoh adat yang benar-benar mampu menjadi perekat, penjaga dan panutan masyarakat adat dan masyarakat umumnya. Sebab, ketokohan seseorang tak bisa berdasarkan permintaan untuk diakui atau dilegitimasi. Juga tak bisa dengan kamuflase dan gimmick menokohkan diri dengan memperbanyak seremoni adat dan ornamental yang hampa tanpa terbangunnya masyarakat adat yang terpanggil peduli untuk mencintai dan melestarikan adat budaya Lampung.

Salah satu kearifan lokal yang sampai saat ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam menata hati dan menyulam rasa kasih sayang dan persatuan adalah acara “Anjau Silau“, Sambung Hati atau memelihara hubungan silaturahmi baik yang memang sudah terjalin maupun bentuk cara untuk memupuk rasa agar lebih terjalin rasa persaudaraan, maupun juga loyalitas terhadap saudara kerabat, sahabat, handai taulan maupun masyarakat sebagai bagian dari tatanan hidup suatu bangsa.

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Dari catatan redaksi, jika melihat tentang istilah sebagai tokoh, atau sosok yang mengaku tokoh tapi tidak mempunyai nilai legitimasi sedikit pun di tengah masyarakat, akan tetapi kalau dilihat sosok Raja dari Sekala Brak Kepaksian Pernong yakni SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 ini memang sangat berbeda.

Sebab, sangat terlihat sekali bagaimana SPDB ini memiliki kiprah, nilai dan bisa memberikan contoh yang baik untuk masyarakatnya. Sehingga jika ada persoalan di bawah, dia bisa turun dan memberikan solusi dan kehadirannya sangat terakui. Inilah sebenarnya yang diharapkan masyarakat kiprah seorang yang dinamakan bangsawan adalah dari fiil perbuatannya dari kiprah perbuatan.

Kehadiran seorang tokoh itu harus bisa memberikan nilai yang baik di tengah masyarakatnya. Artinya sosok  tokoh, Raja, bangsawan pemegang kearifan lokal harus ada kiprah dan sesuatu yang diperbuatnya untuk masyarakatnya. Bukan hanya tokoh yang datang dengan membanggakan embel-embel gelar, pangkat, membuat acara-acara dengan memanfaatkan sanggar, karena tidak jelas eksistensinya, dimana duduknya dan terakui atau tidaknya oleh masyarakatnya.

Sosok tokoh adalah sosok yang kuat ditataran grassroot , sosok yang memang menyayangi rakyat bukan karena pencitraan politik, artinya hadir nya seorang pemimpin adalah sosok yang ada hadir di hati rakyat dan bukan dirinya yang mengaku tokoh berusaha secara bombastis supaya bisa dianggap tokoh, tetapi masyarakat, rakyat lah yang mengatakan itu lah tokoh ikutannya. Itu lah tokoh yang dihargainya , bahkan bagi masyarakatnya harus jelas itulah tokoh junjungannya bukan tokoh yang tidak jelas kiprahnya yang tidak dirasakan kehadirannya.

Bukan pula tokoh yang memecah belah untuk menampilkan eksistensinya karena yang dibutuhkan saat ini adalah tokoh yang bisa memberikan nilai keistiqomahan dan nilai loyalitas, nilai kesetiaan terhadap kearifan lokal , nilai pemersatu dengan prinsip kesetiaan sehingga kehadirannya memang selalu dibutuhkan oleh masyarakat yang selalu menjaga kesetiaan terhadap adat dan tatanan adat sebagai keluhuran sebuah peradaban.

Foto-foto Istimewa

Anjau Silau dari SPDB Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 adalah salah satu contoh kecil dari satu jawaban tersebut , bagaimana seharusnya sosok tokoh adat untuk bisa berperan memupuk kesetiaan dalam menyulam kasih sayang bukan hanya dengan masyarakat adatnya bahkan bagi seluruh masyarakat adat Lampung yang sangat kokoh menjaga tata nilai kearifan masyarakat adat Lampung. (rci/rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *