Pilu, Harap-Harap Cemas Menanti Setabung Nyawa Penyambung Napas

  • Whatsapp
Mengantre Berjam-jam Demi Oksigen di Brasil. ©2021 REUTERS/Bruno Kelly
Mengantre Berjam-jam Demi Oksigen di Brasil. ©2021 REUTERS/Bruno Kelly

radarcom.id – Kelangkaan gas oksigen dan penuhnya Rumah Sakit menambah kepiluan warga Brazil dan berjuang melawan Covid-19. Berikut kisah kelangkaan tabung gas oksigen di Brazil seperti dikutip dari merdeka.com.

Perempuan paruh baya itu berkali-kali mengusap air matanya saat berbicara di telepon dengan keluarganya. Wajahnya yang berkacamata putih tampak cemas. Dia sudah menanti cukup lama menunggu giliran untuk mendapatkan setabung oksigen yang bisa menyelamatkan keluarganya yang sedang dirawat di rumah sakit Brasil karena Covid-19. Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda kapan dia bisa membawa pulang oksigen.

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Seorang warga Brasil lainnya sampai tertidur sambil duduk tertunduk memegang tabung oksigen kosong berwarna hijau. Di sisi lain, puluhan warga lainnya berdesakan di bawah tenda menunggu penuh cemas, sembari memegang tabung oksigen panjang berwarna hijau.

Belakangan ini oksigen menjadi cukup langka di Brasil, salah satu negara yang paling parah dihantam pandemi.

©2021 REUTERS/Bruno Kelly

Di Manaus, Brasil utara, penduduk tak bisa lagi bergantung pada pemerintah untuk menyelamatkan nyawa orang terkasih mereka yang terinfeksi Covid-19.
Alih-alih membawa keluarga mereka ke rumah sakit, para keluarga ini rela menunggu dan mengantre sampai 12 jam di bawah sengatan sinar matahari untuk membeli sendiri persediaan oksigen.

“Setiap orang di sini punya anggota keluarga yang dirawat di rumah. Mereka lebih suka merawat mereka di rumah daripada membiarkan mereka mati di rumah sakit,” kata seorang warga, Fernando Marcelino, yang sedang menunggu di pasar oksigen, dikutip dari France 24, Kamis (21/1).

Di negara bagian Amazonas itu, yang beribu kota Manaus, gelombang kedua virus corona menghantam, dan sistem kesehatan berada pada titik paling berat.

Kelangkaan oksigen memperparah krisis kesehatan masyarakat di Manaus, yang menjadi salah satu wilayah di Brasil yang paling parah terdampak gelombang pertama pandemi.

Penyakit itu telah menewaskan lebih dari 210.000 orang di seluruh negeri.

Situasi yang memburuk diyakini karena varian baru virus corona yang terdeteksi baru-baru ini di Amazonas. Varian baru ini disebut lebih menular dibandingkan virus sebelumnya.

Negara bagian Amazonas adalah yang kedua dari 27 negara bagian Brasil yang paling terdampak. Wilayah ini mencatat 149 kasus kematian per 100.000 penduduk. Di Manaus, kota berpenduduk 2,2 juta jiwa, angka kematian melonjak dari 142 menjadi 187 dalam beberapa hari terakhir.

Warga mengecam pemerintah pusat karena lemah dan lambannya mereka menghadapi krisis ini. Pemerintah saat ini tengah mencoba meningkatkan pengiriman oksigen ke Amazonas, yang terhubung dengan sebagian besar wilayah lainnya melalui jalur lalu lintas udara dan sungai.

©2021 AFP/MARCIO JAMES

Pemerintah juga membantu mengevakuasi pasien ke negara bagian lain untuk diobati.

“Oksigen sudah sampai, tapi kami tidak tahu seberapa lama itu akan bertahan,” ujar Marcelino, yang memakai dua lapis masker, sarung tangan, dan kaca mata goggle.

Marcelino yang seorang pendeta ini menemukan ada perusahaan di zona industri di kota itu yang menjual oksigen menggunakan tabung silinder seharga sekitar 300-600 real Brasil atau sekitar Rp 800.000 sampai Rp 1,6 juta, tergantung ukurannya.

Puluhan mobil mengantre, menunggu untuk membeli tabung oksigen.

Seorang pria 37 tahun yang tak mau menyebutkan namanya menunjukkan sebuah video kepada AFP. Video itu direkam sebuah rumah sakit umum tempat seorang anggota keluarganya dirawat.

“Lihat, ini tidak manusiawi,” ujarnya, memperlihatkan deretan ranjang di koridor rumah sakit.

‘Anda hanya Bisa Menangis’

“Sabtu adalah momen terburuk karena oksigen habis,” ujar Roberto Freitas.

Freitas menunggu dengan putus asa selama dua hari, mencoba mengamankan persediaan oksigen untuk ayah mertua adiknya.

Seorang karyawan di balai kota menyarankan agar dia menyewa truk berpendingin yang digunakan untuk menyimpan jenazah.

“Anda tidak tahu harus berpikir apa lagi, hanya memikirkan yang terburuk, Anda hanya bisa menangis,” ujar karyawan 32 tahun ini.

Setelah berhasil mendapatkan sebuah tabung, dia mengetahui dari tetangganya tentang sebuah perusahaan yang memasok oksigen dan ikut mengantre sejak menjelang subuh.

Freitas juga mengkhawatirkan ayahnya. Ayahnya mulai menunjukkan gejala virus corona tapi Freitas tak mau membawanya ke rumah sakit.

Dia belajar bagaimana memasang oksigen dari internet dan melalui obrolan dengan kawannya yang seorang dokter.

“Kami berubah menjadi dokter,” guraunya.

Takut Dirawat di Rumah Sakit

Bahkan tenaga kesehatan pun takut dirawat di rumah sakit.

Salah seorang perawat, Luciana Leal (26), menunggu sepanjang hari membawa tabung oksigennya, masih memakai seragam birunya.

Dia sangat ingin mengeluarkan rekannya dari pusat perawatan utama Covid-19 di Manaus.

“Dia mulai menunjukkan gejala selama sepekan ini. Kami ingin merawatnya di rumah tapi kami kehabisan oksigen dan kami harus membawanya ke rumah sakit,” ujarnya.

“Kami takut tertular infeksi lain, lebih aman di rumah karena banyak bakteri dan jamur di rumah sakit.”

Seperti yang lainnya, Leal mengantre di sekitar pembatas besi yang dijaga polisi.

Pada malam hari, antrean pertama berhasil membawa tabung yang telah terisi oksigen. Antrean yang lain masih menunggu, tak bergerak.

Penerapan jam malam untuk memperlambat penyebaran virus dimulai pada pukul 19.00, setelah itu mereka yang melanggar akan dikenai denda.

Namun, beberapa orang tak peduli, termasuk Fabio Costa, warga yang baru tiba siang hari.

“Yang membuat saya takut adalah tidak membawa pulang oksigen hari ini.” (mdk/rci)

 

Sumber: merdeka.com

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *