Prediksi Terbaru Kapan Pandemi Corona Berakhir di Indonesia

  • Whatsapp

radarcom.id – Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health di Griffith University di Australia dr Dicky Budiman menyatakan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia akan ditentukan dalam kurun tiga bulan pertama, Januari hingga Maret.

Melansir cnbcindonesia.com, jika dalam tiga bulan itu pemerintah pusat dan daerah tidak melakukan perubahan strategi pengamanan, dan gagal, dia memproyeksikan gelombang pertama di Indonesia tidak kunjung usai.

Bacaan Lainnya

“Tidak bisa per wilayah, ini jadi tugas pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Tiga bulan pertama akan menentukan pola dan arah pandemi kita. Kalau kita gagal di tiga bulan ini ya lama kita. Makin lama gelombang pertama, begitu besar penduduk kita,” kata Dicky, Kamis (21/1/2021).

Dia mengingatkan pengendalian pandemi itu tidak dapat dilakukan secara parsial atau sektoral, melainkan harus terintegrasi dan merata antar daerah. Pengendalian pandemi pun tidak dapat hanya difokuskan di ibu kota semata, meski mencatatkan kasus paling banyak.

Integrasi penanganan menurutnya penting diterapkan di pulau Jawa karena paling padat penduduknya.

“Begitu besar penduduk kita, terutama di Jawa. Nanti semakin lama banyak korban kematian, bisa saja mencapai 500 kematian [per hari] dalam beberapa bulan ke depan kalau tidak mengubah strategi ini. Ini kan bukan sakit terus pulih seperti sedia kala,” katanya.

Dia menilai banyak kasus pulih pun dipertanyakan kualitas kesehatannya, artinya kualitas SDM ke depannya akan terpengaruh. Untuk itu prinsip mencegah harus dilakukan, sehingga dapat memutus rantai penularan dan tidak membiarkan ada infeksi yang lebih serius.

“Walau ada vaksin, tidak bisa mengejar kecepatan virus ini. Jadi sebelum vaksinasi selesai semuanya sudah banyak orang yang terinfeksi dan kena masalah kesehatan dan makin banyak yang meninggal. Akan membutuhkan waktu banyak untuk pemulihan dari sisi kesehatan dan sosial ekonomi kita,” ujar Dicky.

Kondisi ini menurutnya rawan, sehingga pemerintah harus tetap fokus pada 3T atau testing, tracing, dan treatment (pengetesan, pelacakan dan pengobatan) bukan hanya tergantung pada vaksin.

“Harus paralel, tidak bisa satu dia diprioritaskan lainnya diabaikan, 3T dan pembatasan mobilitas dan mencegah keramaian tidak bisa dihindari kalau ditunda kita mencari penyakit sendiri,” katanya. (cnbcindonesia/rci)

 

 

Lihat Artikel Asli

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *