Soekarno dan Toserba Sarinah

  • Whatsapp

Oleh: Eko Sulistyo

Sejarawan Publik

Bacaan Lainnya

 

Penemuan relief era Presiden Soekarno di ruang mekanik di Gedung Sarinah, Jalan Tamrin, Jakarta Pusat, sempat viral dan menjadi perbincangan publik.

Penemuan ini seolah mengingatkan kembali akan gagasan Soekarno tentang pendirian pusat perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara saat itu. Relief itu juga menunjukkan kekhasan arsitektural bangunan peninggalan era Soekarno yang dipenuhi karya seni dengan tema perjuangan rakyat Indonesia sebagai bangsa merdeka.

Revitalisasi dan renovasi Sarinah yang dilakukan pemerintah, hendaknya dapat menyambungkan gagasan Soekarno dengan tantangan zaman yang berubah saat ini. Karena Sarinah bukan sekadar department store atau toko serba ada (toserba), tetapi memiliki nilai historis dan legasi kebangsaan yang digagas Soekarno. Dalam konteks zaman saat itu, pembangunan Sarinah adalah salah satu bentuk nyata dari konsepsi Trisakti yaitu kemandirian ekonomi.

Pendirian Sarinah untuk menggerakkan ekonomi yang dimotori para pelaku usaha dari Indonesia. Sarinah berfungsi sebagai pemberdayaan ekonomi anak bangsa, bukan sebagai tamu di rumah sendiri.

Barang yang boleh impor hanya 40 persen. Tidak boleh lebih. 60 persen mesti barang kita sendiri,” ujar Soekarno dalam amanatnya saat peresmian tiang pancang pembangunan Sarinah di atas tanah seluas 12.000 meter persegi pada 23 April 1963 (terakota.id, 22/12/2016).

Selain menjadi etalase produk dari berbagai daerah, Sarinah juga menjadi bagian dari politik soft diplomacy ala Soekarno yang dikenal sebagai pencinta seni dan produk kerajinan rakyat. Sementara pemberian nama Sarinah, adalah cara Soekarno untuk memberi pengakuan pada peran penting perempuan Indonesia pascakolonial. Sarinah diambil dari nama pengasuhnya di masa kecil, yang di bukunya, Sarinah: Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoeangan Republik Indonesia, Soekarno mengatakan mendapat pelajaran mencintai “orang kecil” dari Mbok Sarinah.

Karena itu rencana peresmian Gedung Sarinah akan dilakukan pada 22 Desember 1965, adalah bagian dari Perayaan Hari Ibu. Namun adanya kegaduhan politik pascaperistiwa 1965, peresemiannya diundur menjadi 15 Agustus 1966, bertepatan dengan rangkaian perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan.

Pampasan Perang
Sejarah pendirian Sarinah berkait dengan proses perjanjian pasca berakhirnya Perang Dunia (PD) II yang melahirkan pembentukan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat sejak 17 Agustus 1945. Pada 1951 Amerika Serikat sebagai pemimpin negara yang menang dalam Perang Dunia II memprakarsasi pertemuam di San Francisco untuk merundingkan Perjanjian Damai dan Pampasan Perang dengan Jepang. Peristiwa ini menghasilkan Perjanjian San Francisco, di mana Indonesia juga terlibat di dalamnya (historia.id, 13/8/2013).

Sebagai kelanjutan Perjanjian San Fransisco, pemerintah Indonesia, pada 1958, di bawah kabinet PM Djuanda, melakukan perundingan bilateral dengan pemerintah Jepang dengan fokus pada kesepakatan ganti-rugi perang. Sidang dipimpin oleh Nishijima Shigetada dan pihak Indonesia diwakili Ahmad Subardjo, Iwa Kusumasumantri, dan Hatta. Disepakati, kompensasi yang diterima berupa dana pampasan atau biaya ganti rugi perang senilai US$ 223,08 juta yang dibayarkan dalam bentuk sarana dan fasilitas serta pinjaman sebesar USD 80 juta. Kompensasi itu dibayarkan dalam kurun 12 tahun dengan pembayaran US$ 20 juta per tahun dan US$ 3,08 juta pada tahun terakhir.

Keputusan itu kemudian ditandatangani oleh Presiden Soekarno di kantor Kementerian Luar Negeri pada 1958. Perjanjian Damai dan Pampasan Perang disahkan dan diundangakan oleh DPR pada 13 Maret 1958. Dari dana ganti rugi perang inilah dibangun berbagai proyek infrastruktur megah di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, salah satunya adalah proyek pembangunan Sarinah.

Pembangunan Sarinah sendiri dilakukan setelah Soekarno mengundang tim survei dari Seibu Department Store dari Jepang, untuk meneliti kemungkinan didirikannya toserba di Indonesia. Tim survei ini memberikan kesimpulan bahwa dari sudut ekonomi maupun sosial, perlu didirikan toserba di Indonesia. Proyek pembangunan gedung Sarinah dipimpin dokter R Soeharto yang menggagas banyak hal penting dalam arsitektur pusat perbelanjaan pertama di Indonesia ini.

Tantangan Berubah
Beruntung, renovasi gedung Sarinah telah menyelamatkan salah satu artefak penanda pembangunan gedung pencakar langit pertama, sekaligus pusat perbelanjaan pertama di Jakarta. Dalam kenangan banyak orang, Sarinah tidak hanya pernah menjadi simbol perdagangan, tapi juga ikon dari identitas dan kemajuan bangsa. Bagi Soekarno, Sarinah menjadi simbol negara pascakolonial untuk berdiri sejajar dengan negara-negara yang sudah maju ekonominya.

Jika renovasi Sarinah ingin dikembalikan pada khitahnya, perlu dipikirkan relevansi masa kini dengan nilai-nilai legasi dari Soekarno. Kemunduran Sarinah di antaranya akibat pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama di Jakarta. Selain itu, juga harus dievaluasi berdasarkan lingkungan eksternal yang sudah berubah.

Setidaknya ada tiga strategi revitaliasasi Sarinah. Pertama, di era pemasaran digital saat ini, konsep Sarinah sebagai etalase produk-produk kebanggaan nasional sudah tidak bisa terkungkung dalam konsep “brick-and-mortar” (bata dan semen) atau toko bersifat bangunan semata. Sarinah perlu mengadopsi pemasaran digital sehingga perlu dibangun etalase platform pasar digital yang telah ada, digabungkan dengan sistem logistik yang sudah mumpuni seperti PT Pos Indonesia.

Etalase fisik pada gedung Sarinah adalah tempat pameran atau showroom. Sementara transaksi dapat dilakukan daring atau online. Ini juga akan mengatasi masalah stok barang di gedung Sarinah, jika kehabisan stok dapat diatasi dengan pengiriman barang.

Kedua, dengan pemasaran digital, Sarinah dapat mengintegrasikan lebih besar jaringan produsen produk-produk kebanggaan Indonesia untuk pemasaran global yang lebih terintegrasi. Sarinah dapat bekerja sama dengan platform anak bangsa seperti Tokopedia, Bukalapak, Blibli, dan Blanja, untuk mulai membuka aplikasi di negeri-negeri tujuan ekspor. Sarinah bisa memimpin kerja sama multiplatform antara platform anak bangsa dengan platform global.

Ketiga, pemasaran digital bukan sebatas etalase dan ketersediaan barang, namun juga tentang kisah atau narasi produk-produknya. Gudeg kalengan, misalnya, untuk dipasarkan secara global butuh kisah dari para produsennya, aspek kulturalnya sampai sejarah penciptaanya. Semoga penemuan relief itu menjadi semangat baru merevitalisasi Sarinah untuk kemajuan ekonomi bangsa. (*)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *