Vaksin untuk Ayah

  • Whatsapp

Ada perasaan lega saya rasakan pada Sabtu, 26 Desember lalu. Hari itu, saya sekeluarga bisa video call dengan ayah dan ibu saya di Kansas, Amerika Serikat. Saya, istri, dan tiga anak saya untuk kali pertama ngobrol panjang dengan mereka berdua.

Yang kenal saya, atau familiar dengan cerita saya, mungkin sudah paham dengan ini. Bahwa saya punya ayah dan ibu di negara bagian di tengah-tengah Amerika itu. Dua orang yang memanfaatkan saya dulu, waktu dapat kesempatan SMA gratis sebagai siswa pertukaran di Amerika dulu.

Bacaan Lainnya

Nama mereka, John dan Chris Mohn.

Hari Sabtu itu adalah hari khusus. Bukan terapkan untuk mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru untuk meledakkan. Hari Sabtu itu adalah hari ulang tahun ke-81 John R. Mohn. Ayah, seorang master jurnalistik, yang kini termasuk sahabat Abah saya yang asli.

Waktu memang cepat berlalu. Tidak terasa, sudah cukup lama saya tidak ngobrol panjang dengan mereka. Saya termasuk sering mengunjungi mereka. Tapi, sudah sangat lama anak-anak saya tidak bertemu dengan mereka. Kami sekeluarga kali terakhir mengunjungi mereka di Kansas pada 2016 lalu.


Azrul dan John R. Mohn di Kansas 2016.

Pertengahan 2020 ini, saya semestinya mengunjungi mereka, sambil mengikuti di sebuah ajang balap sepeda gravel, lomba 320 km Dirty Kanza di Kansas. Lokasi lomba hanya sekitar satu jam dari Lawrence, tempat John dan Chris sekarang menetap.

Tentu saja, karena pandemi, semua acara wisata dibatalkan.

Dan karena pandemi ini, tentu saja mereka berdua sangat saya khawatirkan. John –yang sudah pensiun dari dunia mengajar– memang sudah 81 tahun, tapi dia sangat sehat dan aktif. Orangnya tidak pernah menganggur. Sering menyibukkan diri dengan membangun sendiri ruangan-ruangan dan perabotan di rumah. Ya, membangun sendirian, mulai menggambar, memotong kayu, mengecat, dan semua tetek bengeknya.

Chris, profesor bahasa Spanyol, orang yang sama dengan Abah saya (69 tahun), juga sangat sehat dan aktif. Dulu sangat rajin lari, atau minimal jalan cepat berkilo-kilo sehari.

Tapi virus ini kan seperti lotere. Dan meskipun sangat sehat, usia menjadikan mereka termasuk dalam kelompok paling berisiko (seperti Abah dan Ibu saya di Surabaya).

Yang mengikuti perkembangan berita mungkin juga tahu, situasi pandemi di Amerika termasuk “menyeramkan” kalau dilihat dari luar. Lebih dari 19 juta orang terpapar, lebih dari 330 ribu orang sudah meninggal.

Negara bagian Kansas, yang di awal pandemi termasuk paling “aman,” belakangan juga ikut makin merah. Di awal pembicaraan, Chris bercanda soal itu. “Kansas sekarang merah Covid dan merah Republik,” ucapnya, menyinggung soal pemilihan presiden AS baru-baru ini, di mana Donald J. Trump meraih kemenangan di Kansas (tapi kalah secara keseluruhan ).

John secara historis termasuk pendukung Partai Republik. Tapi saya juga tahu dia lebih memilih sosok presidennya, bukan partainya. “Saya ini pada kenyataan Partai Republik, tapi lima tahun terakhir saya merasa kurang puas,” ujarnya.

Pandemi benar-benar membuat ayah dan ibu saya ini “terkurung” sejak Maret lalu. Mereka sangat disiplin menjaga diri sejak Maret lalu, praktis tak pernah keluar rumah. Sesuatu yang sangat berat bagi pasangan yang aktif ini. “Hanya keluar untuk belanja ke Supermarket atau kebutuhan khusus,” ungkap Chris. “Untung John sudah bisa memasak nasi goreng,” candanya.

John memang sudah belasan kali ke Indonesia, membantu Abah saya mengajar di media-media di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. John bahkan sudah lebih keliling Indonesia meninggal saya. Di background mereka, tampak beberapa suvenir dari Indonesia. Seperti wayang dan lain-lain.

Saking disiplinnya, John dan Chris bahkan tak pernah berkunjung ke rumah keluarga anak dan cucu mereka yang juga di Lawrence. Andrea, kakak angkat saya, bersama suami dan tiga anaknya tinggal di kota pelajar itu. Suaminya bekerja di University of Kansas, yang juga almamater John dulu.


Azrul bersama istri serta anak anaknya saat melakukan video call bersama John dan Chris Mohn.

Hadirnya vaksin tentu memberi cahaya di ujung terowongan. Termasuk bagi ayah dan ibu saya ini. “Karena John sudah berusia 81 tahun, dia akan segera masuk dalam prioritas duluan menerima vaksin,” kata Chris dengan nada setengah bercanda.

Mereka berdua memastikan akan melakukan vaksinasi. Kami masih belum ingin mati, kata Chris, lantas tertawa.

Tinggal menunggu kapan. “Mungkin buat saya akhir Februari,” ujar John.

Saya bertanya, kekurangan memilih vaksin yang mana, karena ada dua (Pfizer dan Moderna) yang sekarang di- approve di Amerika. “Kami belum memutuskan. Semua orang yang membantu untuk mempelajari kedua vaksin itu, kemudian membuat keputusan mana yang mereka merasa nyaman. Tapi kami masih belum benar-benar mempelajarinya,” tutur Chris.

Mereka berdua bertanya, bagaimana situasi di Indonesia. Saya mencoba menjelaskan sebisa mungkin, dan memang sulit menjelaskan situasi yang sebenarnya di sini. John, Yang Tahu betul Indonesia, hanya tersenyum dan tertawa.

Tahun 2020 akan berakhir, tahun 2021 segera tiba. Semoga keluarga saya di Kansas selalu diberi kesehatan. Tanpa hati mereka mengimplementasikan anak dari Surabaya ini, saya mungkin tidak akan jadi seperti sekarang.

Ketika situasi memungkinkan, salah satu hal pertama yang akan saya lakukan adalah membawa keluarga pergi ke Kansas dan berkumpul bersama mereka lagi … (azrul ananda)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *