Sampaikan Kebenaran, Empat Kepaksian Sekala Bekhak Beber Tujuh Poin Penting

  • Whatsapp
Foto Istimewa

radarcom.id – Empat Kepaksian Paksi Pak Sekala Bekhak merasa terpanggil untuk menyampaikan kebenaran dan meluruskan opini yang disampaikan ke publik selama ini terkait penggunaan atribut, acara dan kegiatan adat mengatasnamakan Sekala Bekhak.

Hal itu terungkap dalam silaturahmi empat Kepaksian Paksi Pak Sekala Bekhak ke kantor beberapa media massa di Bandar Lampung, Sabtu (5/12) yang langsung dipimpin oleh Juru Bicara Kepaksian Pernong Seem R. Canggu gelar Raja Duta Perbangsa.

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Rombongan terdiri dari puluhan orang yang merupakan perwakilan dari Paksi Pak Sekala Bekhak diantaranya Raja Paksi dan Raja Hidayat Kepaksian Bejalan Di Way, Dalom Pemangku Alam Kepaksian Belunguh, Batin Sangun Kepaksian Nyerupa dan Mufti Kepaksian serta beberapa Raja Kappung Batin dan Raja Jukkuan, panglima, wakil panglima, sekretariat gedung dalom, humas, hulubalang, puting beliung dan Muli Mekhanai Paksi dari Kepaksian Pernong.

“Ini dalam rangka kita menyampaikan kebenaran dan meluruskan opini yang berkembang di masyarakat. Ada Tujuh poin yang kami sampaikan,” terang Jubir Kepaksian Pernong Raja Duta Perbangsa.

Yang disampaikan Empat Paksi Pak Sekala Bekhak diantaranya mulai dari tulisan lamban gedung kuning pada rumah pribadi Ike Edwin yang terletak di Jalan Pangeran Haji Suhaimi Sukarame, Bandar Lampung. Menurut Empat Paksi Pak Sekala Bekhak hal itu sangat keliru dan menyalahi aturan tata titi yang ada di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bekhak. Sebab, rumah tersebut bukanlah istana adat/gedung dalom dari salah satu kepaksian.

Berikut tujuh poin penting yang disampaikan Empat Paksi Pak Sekala Bekhak:

1. Empat Paksi Pak Sekala Bekhak meminta masyarakat paham bahwasanya tulisan lamban gedung kuning pada rumah pribadi Ike Edwin yang terletak di Jalan Pangeran Haji Suhaimi Sukarame, Bandar Lampung, sangat keliru dan menyalahi aturan tata titi yang ada di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bekhak. Sebab, rumah tersebut bukanlah istana adat/gedung dalom dari salah satu kepaksian.

2. Simbol-simbol kebesaran adat seprti hejongan Dalom (singgasana sultan), Titi Kuya, Jembatan Agung (talang kuning) yang terpasang di rumah pribadi Ike Edwin hanya boleh dipergunakan oleh Sai Batin/sultan di Paksi Pak Sekala Bekhak. Dengan demikian, pemakaian simbol-simbol adat tersebut di rumah pribadi Ike Edwin bersifat ilegal dan diminta untuk tidak diulangi kembali.

3. Pemegang perangkat kebenaran adat seperti payung agung, tombak (payan), pedang yang sudah ditetapkan oleh pemilik adat dalam hal ini saibatin atau sultan secara turun temurun, tidak dapat dialihkan, sehingga penggunaan yang selama ini dilakukan di rumah pribadi Ike Edwin menyalahi ketentuan adat.

4. Saudara Ike Edwin dianugerahi gelar/adok oleh PYM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong yaitu Batin Perwira Negara. Namun, yang bersangkutan mempublikasikan gelar/adok yang menyimpang dari gelar/adok tersebut.

5. Struktur pemerintahan adat di Kepaksian Pernong, sultan dibantu oleh pemapah dalom, dan pemapah dalom dibantu perdana menteri dan perdana utama. Jadi, jabatan perdana menteri di Kepaksian Pernong tidak sama seperti jabatan jabatan perdana menteri di Inggris atau di Jepang. Jabatan perdana menteri Ike Edwin, hanya untuk Kepaksian Pernong bukan perdana menteri Paksi Pak Sekala Bekhak.

6. Sebagai bagian serta kerabat dari Kepaksian Pernong maka kediaman pribadi Ike Edwin sejatinya hanya digunakan untuk perhelatan adat yang dilakukan oleh Kepaksian Pernong, dan tidak digunakan oleh kepaksian yang lain.

7. Dampak dari kegiatan-kegiatan adat yang dilaksanakan di rumah pribadi Ike Edwin yang mengatasnamakan Paksi Pak Sekala Bekhak, dapat menimbulkan perpecahan antar paksi dan marga-marga adat yang berada di bawah naungan Paksi Pak Sekala Bekhak, dan telah melukai hati masyarakat adat Paksi Pak Sekala Bekhak.

Dilanjutkan Raja Duta Perbangsa, atas tujuh poin tersebut, Kepaksian Sekala Bekhak meminta agar lke Edwin secara sukarela menghapus tulisan Lamban Gedung Kuning yang tertera di rumah pribadinya. Kemudian, menurunkan logo-logo kebesaran dan perangkat adat Paksi Pak Sekala Brak yang telah melekat di kediamannya. Selain itu, juga tidak melaksanakan prosesi adat yang mengatasnamakan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, kecuali atas Titah atau restu dari Sultan. (rls/Iis)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *