Kecerdasan Politik Zaiful Bokhari Menangkap Keresahan Nelayan Sungai Sekampung

  • Whatsapp

Oleh: Krista Riyanto

Penulis Tinggal di Jakarta

Bacaan Lainnya

 

Belakangan ini, warga nelayan di sungai (way) Sekampung, Lampung Timur resah setelah ikan-ikan tangkapan mereka di sungai itu mati mendadak.

 

Ikan-ikan yang mati itu kuat dugaan setelah air sungai berubah dari jernih mejadi  hitam pekat. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung mendapat data bahwa sungai Sekampung telah tercemar limbah industri dari salah satu perusahaan di kawasan Tanjungbintang, Lampung Selatan.

Keresahan nelayan yang kehilangan ikan tangkapannya di sungai Sekampung ini disikapi secara tegas oleh calon bupati petahana Lampung Timur, Zaiful Bokhari.

Dia berjanji akan memidanakan perusahaan yang terbukti mencemari sungai Sekampung. Baginya, sungai Sekampung adalah urat nadi ekonomi bagi nelayan.

Janji Zaiful yang akan memidanakan perusahaan pencemar sungai Sekampung ini punya makna besar di tengah kompetisi politik di Lampung Timur yang sedang dia jalani.

Makna itu bisa dilihat dari banyaknya pembaca yang mencermati berita di media Jurnallampung.id yang berjudul “Calon Bupati Zaiful Bokhari akan Ambil Langkah Hukum Kepada Pencemar Sungai Sekampung” edisi Kamis, 12 November 2020.

Dengan pernyataan tegas itu, warga nelayan sungai Sekampung dicoba  ditarik suaranya oleh Zaiful. Keresahan yang dihadapi nelayan mendapat sambutan dan perlindungan dari seorang figur politik bernama Zaiful.

Di sini, Zaiful akan memiliki daya pikat di kalangan nelayan sekaligus menjauhkan mereka dari daya tarik pesaingnya, Dawam Rahardjo – Azwar Hadi dan Yusran Amirullah – Benny Kisworo.

Manuver politik sederhana ini sekaligus meneguhkan Zaiful bahwa dia adalah figur yang peka terhadap keresahan warganya. Sekaligus peneguhan bahwa dia adalah figur pemimpin yang berani menghadapi kekuatan besar yang telah merugikan masyarakat.

Sudah banyak orang tahu bahwa industri yang mencemari lingkungan sungai ini adalah milik pengusaha kuat yang seolah-olah nyaris tidak pernah “tersentuh”. Semua persoalan kejahatan lingkungan ini tidak pernah disentuh sanksi oleh pihak berkait dan berwenang.

Tetapi, Zaiful tampil sebagai pembeda. Dia terlihat berani melawan kekuatan besar yang menjadi pencemar sungai Sekampung. Dia sudah tahu akan berhadapan dengan siapa bila langkah hukum yang dia tempuh berjalan nanti.

 

Zaiful bukan lagi figur “kaleng-kaleng”. Dia terkesan tidak sudi berkompromi dengan kelompok yang yang merugikan kepentingan nelayan tradisional sungai Sekampung ini.

Ketegasannya ini telah memberi keuntungan politik kepadanya. Suara nelayan sungai Sekampung bisa saja ditumpahkan kepada Zaiful, karena mereka merasa mendapat pembelaan. Sebuah hukum dalam politik bahwa siapa yang membela maka dia akan juga dibela.

Tentu mereka juga kelak akan menagih janji kepada Zaiful bila dia terpilih menjadi bupati Lampung Timur. Bilamana dia ingkar maka dia akan dapat risiko — jatuh martabatnya di titik nadir. (*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *