Menghidupkan Sumpah Pemuda

  • Whatsapp

Oleh Sunanto (Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah)

 

Bacaan Lainnya
banner 728x250

Ratusan Pemuda berkumpul di salah satu gedung di Jalan Kramat Raya nomor 106, Jakarta Pusat. Sekitar 750-an orang berkumpul dari berbagai unsur perwakilan daerah. Mereka berasal dari berbagai latar dan daerah diantaranya, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Katholikee Jongelingen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun dan masih banyak unsur pemuda lainnya.

 

Para Pemuda setelah Kongres Pemuda pertama yang berlangsung pada tahun 1926, dan setelah menggali substansi dengan pertemuan, rapat dan perdebatan akhirnya pada 28 Oktober mereka mengikrarkan sumpah bahwa sebagai Pemuda Indonesia mereka memiliki kesamaan pandang dan cita-cita bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yakni Indonesia.

 

Momen yang kemudian disebut sebagai Sumpah Pemuda. Perayaan sumpah pemuda biasanya ramai dibahas hanya saat jelang, saat atau setelah 28 Oktober di setiap tahunnya.

 

Dalam tulisan ini saya ingin menawarkan satu perspektif lain tentang bagaimana menemukembali nilai, isi dan makna Sumpah Pemuda bagi keberlangsungan para pemuda masa kini. Pikiran besar saya pemaknaan Sumpah Pemuda haruslah menjadi kekuatan moral yang dijadikan komitmen seluruh anak bangsa yang tersebar di berbagai pelosok negeri dengan latar belakang suku ras dan golongannya tanpa melihat perbedaan antar satu dengan yang lainnya.

 

Pendek kata, sejarah sumpah pemuda harus dapat menjadi obor dan oase dan padang gersangnya yang menghidupkan seluruh elemen bangsa meraih segala cita-cita negara yang telah dimandatkan oleh pejuang terdahulu.

 

Makna Sumpah Pemuda

 

Mengapa ini penting diulas di awal? Saya melihat selama ini momentum Sumpah Pemuda terkesan hanya menjadi ceremonial semata. Hari dimana lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan  di hadapan perwakilan utusan pemuda itu hanya dirayakan dengan meme, video singkat atau bahkan ruang diskusi semata. Tanpa aksi kolektif nyata yang kemudian menggerakkan seluruh elemen bangsa mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.

 

Padahal jika kita maknai secara jujur para ratusan pemuda kala itu berkumpul dimotivasi oleh kesamaan nasib, kesatuan cita bangsa yang merdeka dari penjajahan selama ratusan tahun. Bahkan tidak berlebihan jika disebutkan bahwa Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 menjadi fondasi dasar kesadaran kebangsaan yang menjadi bahan bakar pergerakan nasional hingga 17 tahun kemudian Negara kesatuan Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

 

Sumpah pemuda adalah manifestasi autentik dari persenyawaan Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi satu jua). Nilai positif tentang semangat patriotisme, gotong royong, musyawarah mufakat, kecintaan terhadap tanah air, kekeluargaan dan persatuan nasional sepertinya sudah banyak dipahami dan diperdebatkan oleh seluruh anak bangsa Indonesia.

 

Pertanyaanya kemudian apakah berbagai perangkat nilai itu dijadikan komitmen oleh seluruh elemen pemuda saat ini? Kalimat tanya inilah yang kemudian perlu kita renungkan bersama. Akhir-akhir ini justru saya melihat tak sedikit satu dua kelompok tertentu yang tanpa sadar menghilangkan nilai-nilai kenegarawanan yang diajarkan para tokoh sumpah pemuda. Satu per satu digerogoti dengan berupaya menawarkan satu ideologi selain Pancasila bahkan kesan menghapus dan menghilangkan sejarah pergerakan nasional secara nyata.

 

Satu catatan penting lainnya yang juga perlu dicermati, organ kepemudaan yang memiliki basis ideologi dan sejarah kuat justru kurang gigih dalam mengamalkan ajaran para negarawan terdahulu. Tentu hal ini menjadi otokritik bagi gerakan organ kepemudaan dari berbagai latar belakang.

 

Tantangan Bangsa Indonesia

 

Sudah menjadi pemahaman seluruh anak bangsa saat ini, bahwa Indonesia saat ini menghadapi problematika kebangsaan yang belum terselesaikan. Masalah kemiskinan, penyebaran narkoba, perilaku koruptif elite pemimpin di berbagai level, memudarnya nasionalisme masih menjadi pemandangan kita sehari-hari.

 

Massifnya disinformasi dan hoaks di tengah perkembangan cepat teknologi juga menjadi momok yang semakin menjadi benang kusut persoalan bangsa yang perlu segera dicarikan jalan keluar dengan cara bersama.

 

Tantangan bonus demografi, kerusakan lingkungan, menguatnya politik identitas, revolusi industri 5.0, masalah ketahanan pangan dan tak kalah penting adalah pergeseran paradigma pembangunan ekonomi juga menjadi pekerjaan rumah berat bagi seluruh rakyat Indonesia. Terkhusus para pemuda yang menjadi penentu masa depan kemajuan bangsa.

 

Rumitnya masalah itu semakin berat saat Indonesia dihadapkan dengan pandemi coronavirus disease (Covid-19). Bencana nonalam yang datang ke Indonesia sejak awal Maret lalu itu telah memporak-porandakan segala tatanan pembangunan dan struktur sosial. Hampir 8 bulan wabah Covid-19 telah mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang berdampak pada pertambahan jutaan pengangguran baru. Kelompok usaha kecil yang mengelola usahanya dari pendapat harian langsung gulung tikar.

 

Kondisi diperparah dengan kabar ada kelompok kecil yang menjadi penumpang gelap bansos,dan pengadaan alat kesehatan. Bahkan para pembantu Presiden Jokowi yang justru fokus bekerja untuk menyiapkan diri berkontestasi pada pemilihan presiden 2024 mendatang seperti menjadi fakta yang benar.

 

Ibarat jatuh tertimpa tangga, problematika kebangsaan yang rumit yang bersamaan dengan pandemi Covid-19 tak segera menyadarkan seluruh elemen bangsa ini segera bangkit bersama dari penjajahan baru ini. Nilai-nilai, ajaran dan warisan perjuangan para pejuang terdahulu sepertinya menjadi bahan informasi tanpa diimani secara total sebagai paradigma menjalankan perannya sebagai manusia Indonesia.

 

Resolusi Sumpah Pemuda

 

Menjawab problematika itu, nilai sumpah pemuda seharusnya tidak hanya sebatas jargon yang massif dituturkan dan diekspresikan setiap tanggal 28 Oktober. Sumpah pemuda harus diresolusi menjadi momentum melahirkan negarawan baru. Peran di ruang kebijakan politik, organisasi sipil, partai politik dan para pelaku usaha dengan senantiasa menempatkan kepentingan bangsa di atas kelompok kecilnya. Baik yang berbeda suku, ras, golongan, partai politik bahkan agama sekalipun.

 

Sumpah pemuda harus diresolusi dengan cara membangkitkan pola gerakan melahirkan pemimpin yang menempatkan rakyat sebagai tanggung jawab untuk mensejahterakan. Memerangi kemiskinan, ketimpangan ekonomi dan juga menyelamatkan kelompok marjinal yang  menjadi “korban” kebijakan negara.

 

Saat Selasa Malam di hadapan kader angkatan muda Muhammadiyah Sulawesi Selatan juga saya tegaskan bahwa Sumpah Pemuda harus menjadi resolusi kolektif memerangi gencarnya disinformasi, hoaks dan musibah informasi lainnya. Para pemuda jangan sampai menjadi pelaku pembodohan cara berpikir.

 

Implikasinya, kematangan para pemuda yang memiliki watak negarawan akan mampu menyaring informasi yang benar. Mendidik elemen masyarakat dengan pengayoman total dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

Yang tak kalah penting, berbagai masalah seperti lingkungan, ketahanan pangan dan masalah besar lainnya akan menjadi ringan apabila sumpah pemuda diresolusi sebagai kesadaran untuk mengajak, menggerakkan pemuda lainnya, organ kepemudaan lainnya untuk bersama-sama bangkit dari keterpurukan.

 

Resolusi Sumpah Pemuda dihidupankan dengan menjadi manusia yang memiliki visi berkemajuan sebagaimana yang pernah dilakukan para negarawan di masa lampau. Perubahan besar sebuah negara, kemajuan suatu bangsa tidak akan menjadi cita-cita kosong semata apabila diraih dengan kerja kolektif seluruh masyarakat Indonesia.

 

Resolusi Sumpah Pemuda harus dijadikan momentum melahirkan Sugondo Djojopuspito baru, Muhamad Yamin baru, Amir Syarifudin baru, Johan Mohamad Cai baru. Terlebih dalam situasi pandemi yang telah memakan ribuan nyawa rakyat.

 

Cukuplah jadi perenungan kita semua bahwa menjadi bangsa bersatu, memiliki kecintaan pada tanah air dan kesadaran persatuan nasional  adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri dengan penuh hikmah bahwa Indonesia adalah negara yang akan menjadi teladan bagi negara-negara lainnya di dunia. Wallahu’alam bisshowab

 

(*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *