Rapat Terbatas MAKN Bahas Soal Pahlawan Nasional, Ketahanan Pangan dan Budaya Sebagai Benteng NKRI

  • Whatsapp
Foto Istimewa
Foto Istimewa

radarcom.id – Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) sejumlah hal penting dalam pertemuan terbatas mulai dari pahlawan nasional, ketahanan pangan hingga ketahanan budaya.

 

Rapat terbatas dengan tema “Dengan Jiwa Dan Semangat Pahlawan Bangsa Kita Sukseskan Ketahanan Pangan dan Ketahanan Budaya Sebagai Benteng NKRI” itu digelar di Blue Saphire Room, Solo Paragon Hotel and Residence, Minggu (24-25/10) lalu.

Bacaan Lainnya

Foto Istimewa

Dipimpin oleh Ketua Harian MAKN Dr. KGP.  Eddy Wirabhumi, SH, MM (keraton Kasunanan Surakarta), rapat diikuti sembilan kerajaan MAKN atau DK 9+ (Dewan Kerajaan) yakni Kerajaan Puri Denpasar, Bali, Kepaksian Sekala Brak, Lampung dihadiri langsung Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H., Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 (DK-002 MAKN), Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat, Pura Pakualaman, Yogyakarta, Kesultanan Sumenep, Jawa Timur,  Kerajaan Kupang, NTT, Kesultanan Gunung Tabur, Kaltim, Kerajaan Gowa, Sulsel, Kesultanan Jailolo, Halmahera Barat, Maluku, Kesultanan Bima, NTB, Kesultanan Dompu, NTB, Kerajaan Adatuang, Sidendreng, Sidrap, Sulsel, Kesultanan Pakoe Negara, Sanggau, Kalbar, Keratin Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jateng, Kerajaan Nusak Termanu, Rote dan Kesultanan Kutawaringin, Kalteng.

Sultan Sekala Brak Pangeran Edward Syah Pernong mengatakan, rapat membahas mulai dari ketahanan pangan, ketahanan budaya sebagai upaya untuk tetap menjaga kedaulatan NKRI.

Untuk ketahanan pangan, ketersediaan pangan terkait kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Ketersediaan pangan adalah kemampuan memiliki sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Akses pangan adalah kemampuan memiliki sumber daya secara ekonomi maupun fisik untuk mendapat bahan pangan bernutrisi.

Sedangkan untuk ketahanan budaya, kekuatan dan keteguhan sikap suatu bangsa dalam mempertahankan budaya asli, termasuk budaya daerah dari pengaruh budaya asing yang kemungkinan dapat merusak atau membahayakan kelangsungan hidup bangsa. Ketahanan budaya harus dibangun agar budaya negeri sendiri tidak lemah. Sehingga akan mudah disusupi oleh negara lain atau paham-paham radikal yang lain.

Selain itu juga dibahas mengenai pahlawan pejuang kemerdekaan RI. DImana beberapa berasal dari kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Karena pada kenyataannya masih banyak pejuang kemerdekaan yang berasal dari kerajaan, yang belum dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

Dalam pembahasan mengenai ketahanan pangan, disampaikan bahwa pada saat ini Surakarta sudah menjadi Pilot Project, dalam pelaksanaan secara nyata di lapangan. Penggunaan tanah adat /tanah ulayat/tanah milik kerajaan  yang dipergunakan bagi kemakmuran masyarakat sekitar. Selanjutnya, Diharapkan kerajaan/kesultanan lainnya yang ada di Nusantara dapat mengikuti jejak langkah ini.

Namun, hal tersebut di atas juga hendaknya dilakukan dengan “menggandeng” pemerintah, Seperti juga kerjasama yang telah terbentuk antara MAKN dengan Kementerian Pertanian saat ini. Sayangnya, di beberapa kerajaan/kesultanan masih ada masalah dengan tanah adat/ulayat. Yaitu terkendala dengan kepemilikan atau sertifikasinya. Sementara, beberapa tanah adat juga banyak digunakan oleh pemerintah.

 

Sementara, dalam kaitan dengan Omnibus Law, masih terdapat beberapa hal yang cukup krusial menyangkut kepentingan masyarakat adat, antara lain isu pertanahan, isu lingkungan, isu manfaat ekonomi, inilah yang akan dicoba untuk disinergikan dengan pemerintah. Dimana pada akhirnya MAKN akan menjadi sebuah benteng pertahanan yang cukup kokoh dalam menjaga kedalulatan NKRI.

Dalam kaitan dengan ketahanan budaya, maka kerajaan/kesultanan melalui MAKN akan mencari terobosan untuk bekerjasama dengan pemerintah dalam mempertahankan adat istiadat, seni, budaya, tradisi leluhur, yang sudah berjalan turun-temurun.

Kerajaan/kesultanan selama ini tersebut berfungsi sebagai sumber kebajikan, sumber nilai, sumber kesejahteraan, sumber pengayom masyarakat.

Ketua Harian MAKN Dr. KGP.  Eddy Wirabhumi, SH, MM (Keraton Kasunanan Surakarta), menyampaikan bahwa budaya ini harus dijaga dan dilestarikan.  “Karena dari budaya tersebut dapat diminimalisir adanya pengaruh-pengaruh yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran,” terangnya.

Pada akhirnya, secara keseluruhan ketahanan pangan dan ketahanan budaya, akan menjadi fondasi yang kuat, dalam menjaga kedaulatan negara Indonesia. MAKN bukan hadir untuk mengembalikan sistem feodalisme di Indonesia, melainkan untuk menguatkan persatuan dan kesatuan Nusantara, dengan menyuguhkan program-program yang sudah dijalankan selama ini, untuk bisa dilaksanakan ke seluruh wilayah Nusantara dan ke semua lapisan masyarakat.

Semoga pada akhirnya nanti, Nusantara ini akan menjadi lebih baik dengan adanya kerjasama yang terjalin antara kerajaan/kesultanan di Nusantara dengan pemerintah daerah/pusat. (rci/rci)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *