Pelatihan Akselerasi Literasi Informasi Bagi Guru Relawan untuk SDM Unggul

radarcom.id – Training of Trainer (ToT) tatap muka offline dan online tanggal 4-5 Agustus 2020 berlokasi di Balai Pekon Podosari, Natar Lamsel. Acara dilanjutkan secara online via Zoom dan YouTube streaming dan monitoring 6-7 Agustus 2020. Terdiri dari dua gelombang peserta sebanyak 100 orang guru dari PAUD, SD, SMP, SMU.

Menghadirkan nara sumber Narasumber Andi Windah, S.I.Kom., MComn & MediaSt Ketua Tim Ketua Program Studi D3 Perpustakaan / FISIP, Purwanto Putra, S.Hum., M.Hum., Anggota D3 Perpustakaan/FISIP, Renti Oktaria, S.Pd.I., M.Pd., Anggota S1 PG-PAUD / FKIP dan Annisa Yulistia, S.Pd., M.Pd., Anggota S1 PG-PAUD/FKIP.

banner 300600

Ketua Tim dan juga Ketua Prodi D3 Perpustakaan Fisip Unila Andi Windah, S.I.Kom., MComn & MediaSt mengatakan berkembang pesatnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), telah membawa dampak bagi kehidupan masyarakat.

“Perubahan yang terjadi tidak hanya di kota-kota besar namun juga menjamah kehidupan masyarakat di berbagai daerah yang sudah tersentuh oleh keberadaan koneksi internet dan gawai canggih bertajuk ponsel cerdas (smartphone). Hal tersebut memiliki potensi besar untuk kemajuan dan peningkatan produktivitas di masyarakat dalam berbagai sektor, terutama pendidikan,” ungkapnya.

Lanjutnya, keberhasilan pendidikan selalu ditunjang oleh seluruh komponen pendidikan. Guru sebagai salah satu komponen pendidikan merupakan bagian dari sistem yang akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan.

“Hal ini berarti keberhasilan pendidikan terletak pada mutu pengajaran, dan mutu pengajaran tergantung pada mutu guru (Supartini, 2003). Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses interaksi belajar mengajar. Proses interaksi belajar mengajar adalah suatu upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Guru dan peserta didik adalah dua unsur yang terlibat dalam proses itu. Peran guru diperlukan untuk menciptakan interaksi belajar mengajar yang kondusif, maka sudah semestinya kualitas guru harus diperhatikan,” terangnya.

Fakta lain, sambung dia, yang dihadapi guru adalah selalu dituntut untuk kreatif, inovatif dan imajinatif dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran untuk anak usia dini di setiap kegiatan belajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

“Dalam praktek merencanakan pembelajaran misalnya, guru juga dituntut oleh pengelola pendidikan agar dapat menyusun kegiatan perencanaan pembelajaran dan bahan ajar dengan menggunakan fasilitas komputer,” tuturnya.

Lanjutnya, akan tetapi, kebutuhan di setiap sekolah atau setiap individu guru untuk memiliki sarana prasarana TIK juga menjadi faktor utama. Hal sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa yang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan TIK seseorang adalah ketersediaan sarana dan prasarana TIK itu sendiri (Saleh, 2015).

Guru juga dituntut untuk kreatif dalam membuat bahan ajar dan menyediakan lingkungan bermain dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, yakni guru dapat mencari referensi bahan ajar dengan menggunakan internet melalui situs google, atau guru juga harus dapat menggunakan LCD untuk menayangkan gambar atau film/video tentang pembelajaran. Pada dasarnya, penggunaan computer dalam proses belajar akan melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak. Seperti yang diungkapan pada penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui materi lebih jauh lagi, dan sisi baiknya akan menjadi lebih tekun dan terpicu untuk belajar berkonsentrasi (Dewantik, Mukminin, & Waluyo, 2016).

Dalam perspektif yang berbeda, selain untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, perkembangan teknologi juga dijumpai dalam beberapa kasus, di antaranya: (1) terdapat konten web di internet yang tidak mendidik dan  menyebarkan isu negatif; (2) pengguna internet khususnya   anak-anak   dan   remaja   terkena  dampak   negatif   dari perkembangan teknologi, seperti anak terperdaya dengan internet; (3) adanya   pelanggaran   etika   menyajikan   informasi,   mengakses   dan mengadopsinya;   (4)   internet   dianggap   oleh   sebagaian   kalangan sebagai  hal  yang  baru,  sehingga  hal  ini  menimbulkan  kecanduan internet; dan (5)   berbagai aktivitas illegal, yang bebas seakan tanpa aturan  pun  masih  marak  saat  ini.

Seperti halnya di Pekon Podosari Kabupaten Pringsewu, desa yang terkenal dengan kebun buah naganya ini memerlukan pelatihan dan pembinaan khusus bagi para gurunya dalam penggunaan sarana prasarana TIK yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Fakta lainnya juga minimnya pengetahuan akan literasi informasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Dalam pelaksanaannya, tuntutan pada guru untuk dapat kreatif dan inovatif dalam menciptakan lingkungan bermain dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi tidak selalu sejalan dengan kompetensi sesungguhnya yang dimiliki oleh guru tersebut.

Sementara masyarakat generasi terdahulu masih menganggap guru adalah sumber segala ilmu, meskipun generasi muda kita telah beralih pada gadget yang ada dalam genggaman tangan untuk dijadikan sebagai panutan. Akan tetapi, sosok guru di sekolah maupun di masyarakat masih memiliki peran penting sebagai garda terdepan untuk mentransformasikan pengetahun dan teknologi kepada peserta didik, orang tua dan masyarakat di sekitarnya.

“Maka tidak diragukan lagi bahwa pengabdian ini dirasa sangatlah penting untuk mengajak seluruh elemen guru PAUD dan Sekolah Dasar di Pekon Podosari Kabupaten Pringsewu menjadi relawan literasi sekolah dalam konteks penggunaan sarana prasarana teknologi informasi dan komunikasi dengan cara yang bijak agar terciptanya sumber daya manusia unggul,” pungkasnya. (rls/Iis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *