Berita Utama 94 vs 72

94 vs 72

Apa yang terjadi di Malaysia sekarang ini bisa mengejutkan dan tidak mengejutkan.

Ahli sejarah sudah menulis: Setelah kejatuhan diktator pasti diikuti masa ketidakstabilan politik.

Ketidakstabilan hanya bisa ditampilkan. Bisa juga lama. Kian panjang kediktatoran itu berkuasa kian panjang pula ketidakstabilan yang mengikutinya.

Begitulah pula setelah diktator Orde Baru di Indonesia jatuh. Bahkan setelah Majapahit jatuh, Jawa sangat tidak stabil dalam kurun yang panjang.

Malaysia berada di bawah kediktatoran selama lebih dari 50 tahun. Yakni sejak koalisi Barisan Nasional berkuasa –dengan UMNO sebagai partai intinya.

Berarti sejak merdeka dulu rakyat Malaysia belum pernah merdeka. Mahathir Mohamad menjadi perdana menteri selama 20 tahun –yang sangat hebat itu.

Yang unik dari sejarah Malaysia adalah: yang berkuasa setelah kediktatoran itu juga yang pernah berkuasa di zaman kediktatoran.

Dalam kasus Malaysia mantan diktator sebaliknya ikut tokoh sentral gerakan prodemokrasi. Lebih berhasil pula menumbangkan kediktatoran yang pernah ia besarkan.

Semula saya pikir kali ini sejarah bisa salah. Saya pikir pasca kediktatoran 50 tahun pun Malaysia tetap stabil – oleh faktor siapa penguasa barunya itu.

Ternyata sejarah tetap sejarah. Tiba-tiba Mahathir mengirim surat pengunduran diri ke Yang Di-Pertuan Agong Malaysia. Senin pagi-pagi lalu. Pemerintahan koalisi Pakatan Harapan pun bubar.

Tapi persetujuan tidak ikut bubar.

Hanya saja tidak satu pun partai yang punya kursi partisipasi. Dengan demikian pasar sapi kini pindah ke reformasi.

Parlemen Malaysia terdiri dari 222 kursi. Kalau ada partai yang mendapat 112 kursi tidak perlu ada masalah. Tinggal partai yang menentukan siapa yang akan menjadi perdana menteri berikutnya.

Pun partainya Anwar Ibrahim, Partai Keadilan Rakyat (PKR), hanya mendapat 40 kursi. Padahal Anwar adalah tokoh utama yang disetujui selama UMNO berkuasa. Bahkan Anwar sudah sejak Mahathir masih berkuasa. Harus keluar harus keluar masuk penjara.

Perolehan kursi kelompok Anwar itu kalah dari Partai Tionghoa, Partai Aksi Demokrasi (DAP) –yang diperoleh 42 kursi.

UMNO sendiri di tengah badai kekalahan masih diperoleh 39 kursi –hanya selisih 1 kursi dari PKR. Hanya partai Tionghoa sekutu UMNO, MCA, yang disikat habis oleh DAP –tinggal menerima 2 kursi. Praktis semua suara Tionghoa boyongan ke DAP.

Saat Pemilu 2018 itu sendiri Anwar masih berstatus dipenjara. Tidak bisa ikut menjadi caleg. Itu benar-benar perlu tambahan untuk kali ini benar-benar bisa menumbangkan UMNO.

Melihat Anwar, musuh lamanya, Mahathir, juga lagi sangat membenci UMNO. Mahathir pernah jadi mentornya –yang kemudian menjadi lawan politiknya.

Apa boleh buat.

Demi mengalahkan musuh, musuhnya musuh pun bisa diajak menjadi teman –meski musuhnya musuh itu juga musuhnya sendiri.

Mahathir memang membentuk partai baru: Partai Pribumi Bersatu. Tapi partai ini juga hanya bisa mendapat 26 kursi.

Anwar pun, dari balik jeruji penjara, setuju jika Mahathir yang harus komandan setuju – memang perlu tokoh sepadan untuk melawan Perdana Menteri Najib Razak.

Bahkan, jika berhasil berhasil memenangkan Pemilu, Anwar pun setuju Mahathir-lah yang akan jadi perdana menteri. Dengan persyaratan:

1. Hanya dua tahun menjadi perdana menteri.

2. Memintakan pengampunan Anwar Ibrahim.

3. Istri Anwar dijadikan Wakil Perdana Menteri.

Mahathir pun setuju dengan komitmen itu.

Yang No. 2 sudah ia laksanakan: Anwar mendapat mengampunan raja.

Setelah menyelesaikan pengobatan sakit bahunya di Turki Anwar mendapat jalan politik. Seorang anggota DPR baru – baru saja menjadi anggota DPR – mengundurkan diri. Sekadar memberi jalan kepada Anwar untuk menjadi anggota DPR.

Tanpa menjadi anggota DPR Anwar tidak boleh menjadi perdana menteri.

Anwar pun berhasil menang di Pemilu sela di dapil Port Dickson itu. Dengan status baru sebagai anggota DPR Anwar langsung mendapat jabatan baru: PMTTW – Presiden Menteri Tinggal Tunggu Waktu.

Mahathir juga sudah memenuhi janji No 3: menjadikan isteri Anwar sebagai Wakil Perdana Menteri.

Tinggal janji No. 1 yang belum tiba tiba. Masih kurang dua bulan lagi.

Kian dekat masa penantian itu kian seru pula pergulatan politik. Tidak semua suka Anwar. Juga tidak semua suka Mahathir.

Anak buah Anwar terus meminta agar Mahathir segera memberi kepastian: Kapan saja akan menerima keputusan ke Anwar.

Mengundang, anak buah Mahathir agar tidak perlu memberikan jabatan perdana menteri ke Anwar. Janji politik, kata mereka, menyetujui UU –bukan pula konstitusi.

Bahkan anak buah Mahathir sudah menyiapkan langkah kuda. Siapa tahu Anwar mengeluarkan Mahathir dari koalisi Pakatan Harapan.

Mahathir – kata anak buahnya itu– bisa menggandeng UMNO ke dalam koalisi baru. Toh sama-sama berideologi Islam, Pribumi, dan Melayu. Daripada tetap dengan Anwar yang sudah disetujui juga mendukung ke partai Tionghoa, DAP.

Anak buah Mahathir ini sudah dihitung kekuatan kursi di parlemen. Mereka yakin koalisi Pribumi Bersatu dan UMNO – tambahan lainnya – bisa mengalahkan PKR plus DAP.

Tapi Mahathir tidak suka dengan langkah kuda seperti itu.

Langkah kuda anak buahnya dianggap Mahathir sebagai ‘kudeta internal’.

Mahathir marah besar.

Penting karena akan mengundang UMNO itu.

Reputasi Mahathir memang akan habis jika UMNO digandeng dalam koalisi-baru-menendang-Anwar ini.

Tapi sebenarnya Mahathir tidak marah jika dilakukan langkah bunglon. Tujuannya sama: menendang Anwar.

Ia lebih setuju jika anggota DPR dari UMNO yang bergabung ke Mahathir tanpa membawa bendera UMNO. Mereka harus keluar dulu dari UMNO –membawa kursinya ke Partai Pribumi.

Mahathir juga sudah menghitung: banyak yang mau dengan cara seperti itu.

Maka dari pada pada janji dua bulan lagi dan dari tersandera oleh UMNO Mahathir bikin langkah skak-mat: mengundurkan diri. Dihadiri oleh Ketua Umum.

Mahathir sudah berhitung: ia pasti ditunjuk sebagai perdana menteri sementara –tanpa didampingi menteri. Semua Menteri ikut.

Sebagai penguasa tunggal, Mahathir bisa berdagang politik lebih leluasa.

Mahathir sudah biasa menjegal siapa saja: dulu Mahathir-lah yang mengangkat Anwar sebagai wakil perdana menteri sekaligus calon penggantinya –lalu ia pecat dan penjarakan.

Alasan waktu itu: Anwar dianggap lemah terhadap IMF. Anwar memilih mengalah ke IMF untuk mengatasi krisis moneter 1998. Sedang Mahathir anti IMF – dan terbukti Mahathir yang benar.

Mahathir pula yang dibalik kejatuhan perdana menteri penggantinya, Pak Lah (Abdullah Badawi) karena dianggap sangat lemah menghadapi Singapura.

Mahathir menghendaki Perdana Menteri Malaysia yang kuat dan agresif seperti anak muda bernama Najib Razak.

Maka jadilah Najib disetujui Pak Lah. Tapi ternyata Mahathir juga tidak disukai Najib yang berlebihan korupsinya.

Dijatuhkanlah Najib dengan sangat sakitnya.

Jadi, siapa yang akan naik Perdana Menteri Malaysia berikutnya?

Terserah hasil perdagangan sapi di kompetisi. Pasar sapi itu berlangsung sejak Senin Pon lalu sampai Senin Kliwon akan datang.

Barulah jika tidak ada kecocokan harga di pasar sapi jalan terakhir yang diambil: pemilihan umum yang ke 15.

Sekarang inilah pertempuran yang sebenarnya antara Mahathir dan Anwar. Tua (94) lawan tua (72). (Dahlan Iskan)

Catatan: naskah telah dikoreksi pada bagian: usia Anwar Ibrahim dan tahun pemilihan. 

BACA  Lock Opo Tumon

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini