HTML Image as link Qries

Bara JP Desak Pemerintah Pusat Turun Tangan Tangani Sampah di Bendung Argoguruh Tegineneng

Ketua Bidang Mitigasi Bencana DPP Bara JP dr Relly Reagen (jaket merah) saat berbincang dengan Presiden Jokowi di sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. Foto Istimewa

radarcom.id – Adanya penumpukan sampah yang menggunung terlihat di pintu air bendungan Argoguruh Tegineneng, Pesawaran membuat program kerakyatan sektor pertanian yang gencar menjadi progran Presiden Jokowi terhambat.

Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) pun bereaksi atas hal ini. Ketua Bidang Mitigasi Bencana DPP Bara JP, dr Relly Reagen mendesak pemerintah pusat turun tangan untuk menangani hal ini.

“Pemerintah pusat kelalui Kementrian PUPR seharusnya menambah alat pengelak sumbatan sampah di lokasi Bendungan Argoguruh Tegineneng ini. Sebab, alat pengelak sampah ini sangat dibutuhkan mengingat hujan setiap hari yang memuat sampah dari hulu dan pinggir bantaran sungai,” kata politikus muda Lampung yang dikenal memiliki jaringan politik yang luas ini kepada radarcom.id, Rabu (29/1).

Diharapkan Reagen, agar sirkulasi air di Bendung Argoguruh lancar dan tak tersumbat di pintu airnya.

“Sehingga tak menimbulkan bencana dan pertanian bisa dialiri. Jadi harus cepat ditangani. Sebab membaca berita radarcom.id tadi, ini mengairi hingga 55 ribu hektar,” tandasnya.

Sebelumnya, Plt Kepala UPTD PSDA Wilayah II Metro Ir. Yeni Riyanto membenarkan kondisi tersebut. “Ya benar, itu setiap hujan dan banjir selalu menumpuk sampah kayu dari hulu. Bukan sampah buangan masyarakat, tapi dari hulu kayu-kayu yang terbawa air,” kata Yeni kepada radarcom.id, Rabu (29/1).

Dilanjutkan Yeni, lokasi bendung Argoguruh di Tegineneng menyuplai areal untuk Kota Metro, Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur. Dengan luas potensi 55.000  hektar.

“Persoalan bukan menyebabkan banjir namun air tidak masuk ke irigasi.. Jadi daerah Seputih Banyak sering kekurangan air untuk olah tanah. Tentu ini mengganggu sektor pertanian,” tuturnya.

Sejauh ini, kata Yeni, pihaknya kesulitan lantaran hanya menggunakan alat manual mendorong sampah ke pelimpas saja.

“Selama ini hanya manual hanya didorong ke pelimpas melalui menutup pintu intake. Maka kami berharap agar dibangun alat penangkap sampah atau bangunan pengelak sampah agar tidak mengganggu Intake,” terangnya.

Langkah yang dilakukan selama belum ada alat penangkap sampah, terus dia, setiap hari dilakukan pembersihan bisa sehari tiga sampai empat kali.

“Sehari bisa empat kali harus kita bersihkan agar tak ganggu intake,” pungkasnya. (rci/rci)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *