Berita Utama Tak “Yes Man” Juga….

Tak “Yes Man” Juga….

Grafis: Sandi Firly

Oleh Isbedy Stiawan ZS

DI negeri antahbarantah, politik adalah sukukata yang ligat. Bisa dipakai untuk apa saja, kepentingan apa pun. Ia juga dapat ditempatkan suai keperluan.

Politik jadi lincah layaknya sang penari di panggung. Ini saat kita bisa bersama, saat lain dapat pula berseberangan.

“Dalam politik, terpenting adalah lobi. Di luar meja rapat dapat dilanjutkan di ruang perundingan sambil ngopi, ngudut, bila perlu song ngesong,” kata kawanku, Matdoni, yang pernah masuk partai politik.

Tetapi, Matdoni mundur tanpa pamit. Ia merasa tak sesuai dan tidak mampu memobilisasi perpolitikan dalam dirinya.

Masih kata Matdoni, di politik kita siap mengatakan mendukung walaupun sebelumnya kita sungguh-sungguh menolak. “Khianat, gunting dalam sarung, tidur bersama namun mimpinya berbeda, tak dilarang dalam berpolitik,” katanya lagi.

BACA  Temu Pamit Dandim 0424/Tanggamus

Politik santun, tambah dia lagi, hiasan kiasan di larik pantun. ‘Jalan-jalan ke negeri jiran/bawa oleholeh kain tapis/saat ini kita berseberangan/siang nanti berpeluk manis’. Tak haram.

Eh! Memangnya dalam politik ada adab dan agama?

“Ya adalah. Tetapi kan adab maupun agama biasanya dipakai saat akad sumpah. Atau di kala politisinya beribadah…” katanya lagi.

Aku tak berani meneruskan pertanyaan yang bisa meracik-pihak “keimanan” politisi.

Hanya saja, dari sejumlah informasi dan “ajaran” dari pendidikan berpolitik di Negeri Antahbarantah, saya kadang miris. Apa yang dikatakan pejabat ataupun politikus kerap berbeda padahal hanya dalam hitungan waktu.

BACA  Kurang dari 24 Jam, Polsek Kalirejo Ungkap Kasus Curat, Residivis Masuk Bui Lagi

Terkadang pula ambiguitas. Satu sisi siap mendukung 100 persen program eksekutif: siap merawat dan mengawal hingga sisa darah penghabisan.

Tetapi, kataku pada kawanku itu, di sisi lain akan mengkritisi, memberi masukan dan saran jika menyimpang dari niat memajukan-mensejahterakan rakyat.

“Itu namanya bargaining. Kalau sudah terpenuhi keinginan politisi oleh ekesekutif, sakarallah dukungan buat pejabat tersebut,” ujar kawanku.

Dia menyebut, dalam politik ada deal-deal. Itulah tawar-menawar, bargaining, lobi di luar rapat hearing dan apa pun namanya.

Soalnya, partai politik harus makan agar tidak mati kelaparan. Politisi harus melunasi utang ataupun modal saat pemilihan raya, demi “menyangui” rakyat yang memilihnya.

BACA  King Karaoke Disegel, Planet Biliar Tak Berijin, Razia Juga Amankan Pasangan Mesum di Kosan

“Kau tahu? Banyak politisi yang sudah duduk di singgasana antahberantah, langsung menggadaikan SK dan pin-nya. Ini bukan rahasia. Sudah wajar.”

Terus? Ia meneruskan ucapannya. Berbuih-buih. Lingkis. Aku terlempar oleh gelombang dahsyat bernama Laut Politik.

Tak pernah tersadar. Aku berada bukan di Antahbarantah. Melainkan Indonesia, yang memiliki lagu wajib, yang diliriknya berbunyi: ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’.

Pertama-tama yang dibangun adalah jiwa. Sebab di dalamnya ada hati dan akal waras. (*)

*) Penyair Lampung, Pengampu Lamban Sastra

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini