Berita Utama Award-Awutan

Award-Awutan

Grafis: Faisol Mursaid

Oleh: Isbedy Stiawan ZS

AWARD, biarpun itu diadopsi dari Inggris namun sudah lazim dipakai di Indonesia tanpa merasa bersalah pada pencetus Soempah Pemoeda 1928.

Award atau anugerah kerap kita dengar atau baca di hampir semua pemberian anugerah bagi orang-orang berprestasi.

Entah latah atau apalah nama yang pas, award pun dilaksanakan di sela-sela acara ulang tahun suatu lembaga dan hari jadi suatu daerah (provinsi atau kabupaten) dan lainnya.

Dengan menggunakan award (anugerah) seakan mudah memberi pengharhaan kepada indidividu dan lembaga. Istilah atau kategori bisa menyusul. Bahkan, anugerah macam ini bisa diindikasi suka-suka: award-awardan. Kecuali berdasar uji karya dan ketokohan.

BACA  Bebas Wuhan

Tetapi di dunia yang cenderung panggung opera, apakah uji kepatutan itu masih signifilkan?

Lha yang penghargaan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) bagi pemda/pemkab selama ini, kadang berujung kepala daerahnya kena OTT. Apatah lagi soal award-award tersebut.

Di rekor MURI yang masih dianggap prestise oleh sebagian pejabat kita, masih bisa dipertanyakan. Namun, keraguan pada pemilihan tokoh dalam award tak bisa dibantah. Lalu dianggap angin lalu.

BACA  Mahasiswa Desak Unila Ganti Kouta Internet dan Cashback UKT Semester Akhir

Yang memeroleh award juga kelihatan biasa-bisa saja. Membawa plakat turun dari panggung kemdian diletakkan di mana juga tak lagi kebanggaan.

Sebutan (kategori) juga bisa dikarang-karang. Anak saya wakfu PAUD/TK pernah ikut ajang lomba menggambar. Rupanya panitia demi masukan dana, meminta para orang tua agar menambah biaya selain pendaftaran, untuk pembelian piala. Nama piala itu adalah HADIAH FAVORIT. Artinya masih orang tua sudah menyiapkan hadiah/piala bagi anaknya.

Nah, bagaimana dengan para juara? Boleh jadi ada yang layak, ada pula seuaikan dengan anggaran yang diberi.

BACA  Rycko Menoza Sepakat Penundaan Pilkada 2020

Kawanku yang bersamaku keluar dari perhelatan pemberian anugerah bagi tokoh, menyeletuk: “Award-Award sekarang, kaya ‘award-awutan’ alias suka-suka!”

Awut-awutan seperti itu kalau sering dilakukan bisa membunuh kredibilitas award itu sendiri.

“Boleh-boleh saja sih, bukan berarti mengesahkan, pemberian award ada udang di balik uang. Tetapi, mbok yaow, diselipkan 1 atau 2 tokoh yang memang patut, layak, kredibel. Supaya gak telanjang amat!”

Ish parno!

*) Penyair Lampung, Pengampu Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini