Berita Utama Badak

Badak

Ilustrasi Faisal Mursaid

Oleh: Isbedy Stiawan ZS*)

Muka badak! Kiasan itu jika dialamatkan ke seseorang, misalnya kita, sakitnya tuh di sini!

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), muka badak merupakan kiasan. Artinya seseorang yang tidak memunyai rasa malu.

Badak adalah hewan bercula satu jika di Jawa dan bercula dua apabila di Sumatra. Dalam hidupnya, hewan besar ini hidup menyendiri kecuali saat musim kawin.

Ciri-ciri lain, badak tak ligat saat lari apalagi memburu mangsa. Ia cenderung tumbur, bentur, dan tentu saja konon tak bisa pula diatur.

Badak beda dengan gajah. Sebab itu, badak tidak bisa “sekolah” sebagaimana gajah. Tak bisa diajar agar pintar dan nurut keinginan pawang.

Selain kiasan muka badak, sebetulnya banyak kiasan lain dari tabiat badak untuk manusia. Tabiat negatif.

Apakah yang positif tiada dari hewan bercula satu dan dua ada ini? Karena tabiat itulah, badak dikenal kuat. Ia memertahankan hidup dari ototnya, konon bukan otak.

Meski kuat dengan kulit berlapis bagai bertopeng baja, badak juga dikenal pemalu dan soliter.

Badak akan menghindar jika melihat manusia. Namun ia segera berbalik andai merasa terganggung. Cuma itu ia bukan predator, alias hewan ganas dan pemangsa.

Seorang kawan saya, mungkin karena canda pada anaknya yang karena jika ditawari makan, langsung mengangguk. Tanpa ba(sabasi) bi(su = senyum) gaya kawan-kawannya.

Misalnya, silakan makan. “Aduh sudah kenyang ni, baru saja makan.” Tidak begitu; ditawar langsung angguk dan ambil. Cara makan juga tak beraturan alias tak bisa diatur.

Akhirnya, ayahnya yang kawanku, sejak itu memanggilnya: Badak.

Jika membuat malu, ayahnya langsung komentar: “dasar muka budak lu!” Kalau lambat menerima apa yang diperintah, ayahnya berteriak: “woy, badak! Kerja dulu! Pemalas kau kayak badak…”

Lalu si anak pun mulai dipengaruhi ulah badak. Selalu pendiam, pemalu, soloter alias menyendiri (kecuali ia melihat wanita seperti syahwatnya tumbuh).

Si Badak anak kawan saya itu, sampai besar melakukan hal-hal yang mirip badak. Diajak nonton sepak bola, ia sembunyi di bawah tribun. Ia seakan takut melihat rumput, karena selama ini biasa berlumpur ria.

Ketika remaja, ayahnya memasukkan ia ke sekolah sepak bola. Ampiyun! Di lapangan hanya lari dengan arah lurus. Tidak seperti pesepak bola lainnya: ke sana kemari, ligat, lincah, dan piawai menanduk, serta menendang.

Anak kawan saya ini, lari dari ujung gawang ke ujung gawang satunya, tidak mengocek bola. Bola di mana kau di mana? Buyan kau Badak! Pantas kau tak pernah dipakai. Layaklah tim dipecundang kalah terus.

Kawanku sebetulnya menyesal telah menyematkan Badak sebagai nama anaknya. Itu bagian dari doa, bukan?

Maka, hendaklah memberi nama hindari dengan sebutan badak. Bukankah masih banyak nama yang bisa dipakai.

Jangan badak, nanti diteriaki “dasar muka badak!” lantaran kalah melulu bertanding dan bersaing, namun tak pernah mawas serta berlatih mati-matian. (*)

*) Penyair Lampung, Pengampu Lamban Sastra

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini