Kolom Payu Kidah Isbedy Mbakyu Sakti

Mbakyu Sakti

Grafis : Faisol Mursaid

Oleh : Isbedy Stiawan ZS

Entah sudah berapa jurus ia diserang, namun tak juga tumbang. Sudah berapa kembang silat yang diperagakan musuh-musuh di depannya, ia pun tak jatuh sebagai pecundang.

Akhirnya kami menduga mbakyu memang sakti. Perempuan yang sakti untuk ukuran masa kini. Berbagai ilmu batin dan teknologi begitu canggih.

Jika di era Wiro Sableng, Si Buta dari Goa Hantu, dan lain-lain, cerita kesaktian Mbakyu bukan aneh melainkan masuk akal. Tetapi ini saat zamannya canggih dan semua serbadigital serta cukup remote untuk mengganti sesuatu. Tanpa mantra dan puah!

BACA  Badak

Maka dugaan kembali ke kejayaan mantra muncul lagi. Dugaan kami Mbakyu pakai mantra, dijaga dan dilindungi ribuan aji-aji. Atawa para orang sakti kembali dipanggil untuk dimohon menjaga seluruh diri Mmbakyu.

Ini cara jitu. Bukan saja sakti dengan tidak mempan dihajar dan diserang, Mbakyu tampak makin cantik dan mempesona dalam berbagai penampilan.

Kala menghadapi para musuh, ia bergeming. Saat menunjukkan kepiawaian silatnya, tak pernah goyah. Bahkan pakaian yang dikenakannya tak goyang. Apalagi tubuhnya tiada doyong plus sempoyong!

Padahal Mbakyu diserang dari beragam arah, dibidik dari sejumlah titik paling mematikan. Ajibnya, ia bisa mengelak, menghindar, menampik serangan sangat piawai. Ia keluar dari gelanggang pertarungan dengan anggun. Berjalan seraya menabur senyum sumringah.

BACA  Badak

Bukan saja sakti dalam silat tubuh, Mbakyu sakti soal silat lidah. Bayangkan dengan bidikan dua soal mematikan, lalu sudah berulang masuk arena persilatan. Ia bisa pulang tanpa luka. Mbakyu “tak mati” menjadi pesakitan. Tiada bukti kalau Mbakyu melakukan kesalahan dalam pertandingan.

Akhirnya kami meyakini, untuk sementara hingga saat tulisan diturunkan, Mbakyu memang sakti. Tubuhnya dikelambui kekebalan. Kulitnya terlindung dari berbagai senjata yang bisa melukai serta merobohkan sebabai orang kalah.

BACA  Badak

Orang kalah? Ah, mungkin pula kamus itu tak ada dalam dirinya. Karena itu, ia bisa menang di tingkat pertama secara telak. Lalu naik ke tingkat lebih tinggi, ia pun jadi pemenang dengan nilai membanggakan.

Kini, jika pun ada sandungan, barangkali dianggapnya sebagai batu kecil di sepatu. Tetapi, bukan artinya ia remehkan. Sebab, bisa saja sesakti-saktinya pendekar, terjungkal lalu dikerangkeng oleh batu sebiji kelereng. Wallahualam.

*) Penyair Lampung Berjuluk Paus Sastra

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini