Berita Utama Nilai dan Bukan Penilaian

Nilai dan Bukan Penilaian

Oleh : Isbedy Stiawan ZS

Bacalah media sosial. Ada banyak kita dapati masalah! Itu pesan kawan saya suatu senja.

Di media sosial, apakah itu FB, IG, Tweet, dan entah apa lagi, kau bisa masuk ke pribadi seseorang melalui status yang diposting (dishare) pengguna akun tersebut. Bisa sekadar mengabarkan bahwa ia berada di suatu tempat, sedang menyantap, keluh kesah, maupun kekeringan. Juga…

“Pendek kata kau bisa baca banyak hal. Juga berita-berita,” tekan kawanku lagi.

Begitulah. Suatu hari saya dapati cerita soal jual beli jabatan KPU, juga dari medsos. Lalu suatu senja, saya pun membaca status FB seorang kawan, bahwa ia ditelikung kawan sendiri di dekat finish. Katanya, ia dilambungkan amat tinggi kemudian dijatukan sesakit-sakitnya!

Soal apa? Di sini bukan kapasitas saya menerangkan. Yang saya ketahui, ia melamar di suatu lembaga yang valid dari pemerintah.

BACA  Senator Bustami Zainudin Apresiasi Seniman Lampung Peduli

Dari tahap demi tahap seleksi, ia lolos memuaskan. Nilai tertinggi dari peserta seleksi lainnya. Ia terbilang cakap dan mumpuni untuk lolos di lubang kecil terakhir sekalipun.

Tetapi lacur, di garis jelang finish dia ditelikung (disalip) oleh rekan sendiri. “Sakitnya tuh di sini!” kata anakku, Adel, menirukan seorang penyanyi yang sedang menyanyikan sebuah lagu.

Gaya Adel layaknya selebriti dangdut membuatku tersenyum geli.

Ini bukan soal lagu dangdut itu. Bukan pula artis dangdut, Adelia. Ini masalah seleksi untuk melaksanakan dan mengawal demokrasi. Politik kadang seperti hewan peliaran yang liar. Semakin tak dirawat makin berbahayalah. Kalau dijaga pun bisa macam-macam, apalagi…

Sengaja tak saya teruskan. Adelia pun “apalagi dilepas begitu saja. Akibatnya kan ada si Nila di susu sebelanga. Iya kan?”

BACA  Begawi Autofest 1.0 Sukses Digelar!

Terserahlah kau Adel!

Kembali ke soal nilai yang dikatakan kawan saya. Ia mengantongi nilai memuaskan setiap tahapan seleksi. Jika saya diakumulasi maka ia tertinggi dan ibarat menuju surga dengan ibadah bertumpuk-tumpuk, ia ligat tanpa halangan segera masuk dengan pintu yang sudah terbuka lebar.

Tapi, sekali lagi apa lacur, nilai yang sudah diperolehnya tidak menjamin ia melenggang aman-nyaman menyelesaikan tahapan menuju finish.

“Nilaiku tak berarti. Angka itu belum bisa menjamin aku lolos di finish dan meraih apa yang kupikirkan dari hasil nilai yang kudapati!” begitu kira-kira ia berujar.

Angka-angka itu harus pula disertai dengan angka yang lain. Nilai yang diperolehnya mesti dilampiri nominal lain pula.

BACA  Wabup Pringsewu Lantik 16 Pj Kapekon

Apakah kau punya uang selain nilai tesmu? Seperti juga adagium bagi seorang calon legislatif; siapa kau, berapa uang kau siapkan, dan terakhir dari partai apa mengusungmu? (Terakhir acapkali tak begitu penting).

Akhirnya NPWP pun memviral. Nomor Piro Wani Piro! Alamak, mengapa cara-cara semacam ini belum bisa ditinggal dan dihapus? Apakah ini sudah membudaya? Apakah ini kebudayaan? Saya menolak kalau cara-cara buruk ini menjadi produk budaya!

Sayangnya kawan saya itu sudah ada bukti dari hasil percakapan, namun dia tak ingin memerpanjang.

Biarlah ini bagian dari sejarah hidup ini, kata dia. Kawan dekat yang menujah, sama artinya musuh dalam satu selimut. Siapa bisa menduga? Kecuali dukacita sedalam-dalamnya untuk demokrasi ini. (*)

*) Penyair Lampung, Pengampu Lamban Sastra

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini