Opini Saatnya Menuju “Tuhan, Pulau, Kata-Kata”

Saatnya Menuju “Tuhan, Pulau, Kata-Kata”

Oleh Isbedy Stiawan ZS/Penyair Lampung

Sebuah even sastra bersekala internasional akan dihelat di Lampung, 24-26 Januari 2020.

Event ini bernama Tegal Mas Island Poetry International Festival yang digagas Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS dengan merangkul pemilik Tegal Mas, Thomas Azis Riska.

Festival Puisi Internasional ini mengusung tema Tuhan, Pulau Kata-Kata.

Berikut ini penjabarannya: Tuhan adalah pencipta alam semesta. Alam yang indah tanpa tandingan tersebut patut disyukuri. Oleh sebab itu, kegiatan ini mengacu pada rasa syukur manusia kepada Allah yang menjadikan kita dan semesta ini ada.

Indonesia memiliki ribuan, bahkan lebih, pulau. Termasuk di Provinsi Lampung. Pulau-pulau yang ada itu, sebagian dibiarkan tanpa sentuhan, sementara lainnya sudah dikelola untuk destinasi wisata maupun villa. Pengelolaan objek wisata itu dilakukan serius dan profit. Salah satunya Tegal Mas Island milik Thomas Riska di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, sehingga pulau tersebut penuh pesona, eksotis, dan puitis.

Jika Tuhan memulai firman-Nya dengan jadi (“Kun”) maka jadilah (“Fayakun”), manusia pun membaca (iqro) dan selanjutnya menulis. Pepatah Minang, “alam takambang jadikan guru” maka sunnatullah bahwa manusia harus belajar membaca dan menulis.

Kata-kata adalah sarana untuk mengatakan (mengucapkan) sesuatu perihal yang kasat maupun tersembunyi. Melalui kata-kata, sang begawan (penyair/sastrawan) mengungkap apa yang ada dalam benak, batin, dan penglihatan ihwal keindahan semesta dan peradaban manusia di alam ini.

Kemudian Tuhan menuntun manusia dalam berkata-kata. Mengajarkan apa-apa yang terdapat di alam semesta ini, untuk diresapi, dicecap, dan dimaknai secara benar dan berdayaguna (manfaat).

Kata-kata dapat menjadi peluru. Kata-kata pula bisa memuliakan peradaban manusia. Melalui kata-kata, sebagai mahluk Tuhan, kita saling berkasih dan mencintai. Kita saling mengenal satu sama lain, saling menghormati dan menghargai. Baik itu persamaan maupun perbedaan: suku, bahasa, negara, dan ideologi.

Dengan tema “Tuhan, Pulau, Kata-kata” kita dapat bersilaturahim, saling mengapresiasi, menghargai beragai kemungkinan perbedaan bernegara, bersuku, berideologi. Dan, Pulau Tegal Mas adalah salah sekian sumber inspirasi kita memulakan kata, memuliakan kemanusiaan. Dari event Festival Puisi Internasional 2019 di Tegal Mas kita mencoba menyatukan beda pandangan karena sekat-sekat kenegaraan.

Itulah tema yang digagas Tegal Mas Island Poetry International Festival (Tegal Mas Island Festival Puisi Internasiona) di sebuah pulau daerah Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung milik Thomas Azis Riska.

Pertemuan dengan pengusaha sejumlah destinasi wisata di Lampung ini, seperti Bukit Mas dan Puncak Mas, memang tidak direncanakan. Tetapi, ketika aku ajukan perlu digelar festival puisi/penyair sekala internasional di Tegal Mas Island disambut positif. Walaupun ia wanti-wanti, tak faham dengan gelar seperti ini apalagi menyinggung puisi (sastra) ataun kesenian.

Thomas Riska memang seseorang yang lama sekali bergelut di ranah ilmu hukum, juga pengusaha. Jadi amat jauh dengan berkesenian.

Ya! Tapi aku bersyukur, ia berkomitmen memajukan kesenian – khususnya sastra – di Lampung. Ia menyediakan tempat (Tegal Mas Island) dengan fasilitas lainnya selama acara berlangsung, plus jemputan dari Bandara Radin Intan II Lampung ke Bukit Mas lalu ke pulau.

Ia juga siap menerbitkan antologi puisi para penyair peserta yang diundang. Ini kurasa sudah lebih dari cukup.

Sebuah even internasional bagi Provinsi Lampung ini adalah yang pertama. Sebuah kebanggaan bagi pemerintah setempat dan seniman Lampung.

Lampung bukan provinsi kepulauan, namun di sini banyak pulau, walaupun kecil-kecil. Misalnga Pulau Tangkil, Pulau Pasaran, Pulau Pahawang, Legundi, Tegal Mas Island, dan masih banyak lagi.

Tegal Mas Island berada di sebagian Pulau Tegal. Karena pemiliknya adalah Thomas Riska, maka pulau itu bernama Tegal Mas Island.

Tegal Mas mengusung gaya Lombok. Rumah-rumah apung dan di pesisirnya bernuansa rumah tradisional Lombok. Berada di atas laut.

Di sini menarik bagi penyelam. Ada 3 orang instruktur menemani. Artis sinetron Olivia Zalianty telah dua kali diving di Tegal Mas Island.

Di pulau ini tersedia juga tempat seminar, toko souvenir dan kebutuhan lainnya bagi wisatawan yang bermalam. Ada orgen tunggal jika ingin bernyanyi. Disediakan pula kendaraan khusus untuk melihat-lihat Tegal Mas.

Karena itu, dari keindahan (eksotis) Tegal Mas Island itu panitia dari Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS memandang perlu kegiatan ini mengusung “Tuhan, Pulau, Kata-Kata”. Mengingat keindahan semesta ini merupakan ciptaan Tuhan (Allah). Indonesia memiliki banyak pulau, karenanya inspirasi ihwal itu amat membuncah.

Sebagai penyair, tentulah kata-kata adalah firman Tuhan yang perlu ditafsir kembali. Kata-kata juga merupakan kehendak untuk bicara.

Itulah, pikiran yang kami inginkan dari kegiatan sastra di Lampung. Aku dan penyair Syaiful Irba Tanpaka sebagai sekretaris bergerak ligat, karena festival ini dihelat tak lama lagi, yakni 24-26 Januari 2020.

Sekira 60 penyair, baik Indonesia maupun luar negeri (terjauh adalah Australia, Tasmania, dan India) sudah dikirim undangan untuk berpartisipasi aktif.

Sambutan positif dan riang berhamburan dari rekan-rekan penyair yang termuat di media sosial maupun langsung ke panitia. Dasar ini kami makin bergairah menyiapkan event tersebut.

Kami melibatkan untuk bantuan soal nama penyair dan lainnya, kepada Pam Allen (Australia), Anwar Putra Bayu, Heri Mulyasi untuk penyair India, Rida K. Liamsi, Abe (Timor Leste), dan lain-lain.

Sebab festival ini dihelat di Lampung, tentu saja penyair Indonesia dan terkhusus Lampung, disediakan kuota lebih banyak.

Tegal Mas Island Poetry International Festival direncanakan menerbitkan buku puisi, dan diharap dibuka oleh Gubernur atau Wakil Gubernur Lampung. (*)

 

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini