‘Apo Kato Ketuo….’

  • Whatsapp
Grafis: radarcom.id

Oleh: Isbedy Stiawan ZS*)

Apo kato ketuo, uji wong Palembang, kito melok bae…”

Bacaan Lainnya

 

Itu dialog dua kawan sejak muda. Satunya pengusaha dan rekannya adalah politisi.

Sebagai rekan sejak muda, politisi yang ingin maju dalam pemilhan kepala distrik di suatu negeri tak bernama, tentu meminta bantuan amunisi dari pengusaha.

“Tanpa dana, apa mungkin aku bisa bertarung di pilkada distrik itu?” ujar sang politisi.

Semula, balas rekannya yang pemodal besar bagi perhelatan pilkada, aku ingin mendanaimu turun gelanggang lagi.

Tetapi, ketika aku sowan kepada pimpinan tertinggi negeri, tampaknya dia tak setuju brader maju. Dia menilai, kau terlalu tua memimpin distrik.

“Apa kato ketuo, ya aku melok bae. Kato ketua jangan ya jangan, kalau dibilang maju aku siap tempur,” ujar pemodal itu santai.

Mendengar itu, sang politisi itu terdiam. Wajahnya yang semula bercahaya, menjadi gelap. Padahal, semua orang tahu ia pemimpin sebuah partai politik bergengsi di negeri itu. Tetapi, ia punya peminpin lagi yang lebih tinggi di tingkat pusat.

“Ketuo partai di pusat pun, tampaknya setuju dengan sang penguasa. Jadi, mano pacak aku menepis sabda pandita!” lanjutnya.

Lalu sang pemodal dengan santai menambahkan, untuk sementara dia sarankan rekannya itu mengalir seperti air. Artinya, ikuti saja arus. Tentu jangan melawan gerak air karena makin terhanyut.

“Sementara ini saya tak berani mendukung, tapi tak juga menolakmu datang ke rumahku,” katanya kemudian.

Lalu hening. Makan siang yang sudah usai, sepertinya tak mengenyangkan sang politisi. Malah terasa cepat lapar lagi.

Begitulah cerita dua kawan di depan ring pilkada distrik. Keduanya tak bekutik jika berhadapan dengan kehendak sang pemimpin negeri. Kekuasaan di distrik jelas ada campur tangan kekuasaan di negeri. Kalau pemimpin  negeri atawa goovernor tak menyetejui seseorang maju untuk menjadi orang nomor satu di distrik, harus ditaati sebagai sabda.

Begitu. Lain lagi di distrik yang satunya. Sang politisi muda ini sangat yakin digandeng sang Mahkota menjadi wakil pada pilkda distrik Anu.  Sampai-sampai ke mana pergi sang Mahkota ia siap mendampingi.

Akhirnya sang Mahkota risih juga. Ke mana-mana ia diolok-olok menuntun tuyul. Karena itu, belakang Mahkota diam-diam kalau mau turun ke masyarakat. Kadang lewat pintu belakang, bahkan sering melompat jendela. Hanya untuk tak terpantau dan terkejar si tuyulnya.

Loyalis tuyul di mana saja sangat teruji. Ia siap mengawal, menjaga, dan melindungi majikan. Siapa berani mengkritisi majikannya, si tuyul segera bertindak. Tuyul akan mencuri uang pengganggu, melempar batu secara sembunyi, meludahi dari kegelapan, dan lain-lain.

Adalah ini cerita dari negeri yang bukan di Anuland. Bukan pula dalam komik-komik seperti cerita Batman, Joker, ataupun Hary Poter!

Entahlah..

 

*) Sastrawan berjuluk Paus Sastra, Pengampu Lamban Sastra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *