Jadi Polisi yang Dicintai Rakyat Ala Iptu M. Anis, Kuncinya Kerja Ikhlas dan Bersikap Positif

  • Whatsapp
Iptu Anis. Foto M. Agus Purnomo/radarcom.id
Iptu Anis. Foto M. Agus Purnomo/radarcom.id

Rambutnya putih dan kulitnya yang legam tak mengisyaratkan kondisi yang tua. Semangat dan jiwanya tetap muda dan selalu aktif dalam bertugas. Begitulah yang tampak dari Iptu M. Anis, Kanit Turjawali Satlantas Polresta Bandar Lampung. Hingga kini, Iptu Anis sudah 27 tahun bertugas dan akan memasuki pensiun tahun depan.

 

Bacaan Lainnya

Berbincang dengan radarcom.id, Iptu Anis blak-blakan soal kesannya selama bertugas sebagai Bhayangkara di korps baju cokelat selama 27 tahun. Selama waktu itu, Anis juga bertugas di bagian lalu lintas.

Di sela berbincang, Anis tetap menyapa ramah warga yang datang ke Satlantas Polresta Bandar Lampung menanyakan berbagai hal. Termasuk pengemudi Ojek Online yang menanyakan soal pelayanan SIM. Anis menjawab dengan ramah.

“Saya sudah bertugas sejak 1988 atau sudah 27 tahun di kepolisian. Sebagian besar di lalu lintas. Berbaur dengan berbagai kalangan masyarakat bawah sampai atas ya. Tahun depan saya masuk pensiun. Saya temukan berbagai hal, baik suka maupun duka. Dari situ saja juga belajar banyak hal. Misalnya, ketika kita mengerjakan tugas maksimal, maka akan terlihat hasilnya,” ungkap pria yang sudah banyak mendapatkan penghargaan diantaranya dari Kapolda Lampung itu.

Iptu Anis diketahui pernah mendapatkan penghargaan dari Kapolda saat itu, Irjen Suntana pada Rabu (14/4/2018). Anis dikenal polisi yang tak kenal lelah mengurai kemacetan di Kota Tapis Berseri.

Kapolda Lampung Irjen Suntana memeluk anggotanya Iptu Muhammad Anis usai memberikan penghargaan, Rabu (11/4/2018). FOTO: HUMAS POLDA LAMPUNG
Kapolda Lampung Irjen Suntana memeluk anggotanya Iptu Muhammad Anis usai memberikan penghargaan, Rabu (11/4/2018). FOTO: HUMAS POLDA LAMPUNG

Anis menegaskan, salah satu kunci untuk menjadi polisi yang dicintai rakyat adalah harus bisa menunjukkan sikap positif kepada rakyat.

“Kita harus tunjukkan yang positif ke rakyat. Bagaimana pun itu. itu harus bekerja dengan ikhlas, dan selalu bersikap positif. Namanya tugas di lapangan tentu banyak problemnya ya. Memancing emosi, terkadang tentu saja iya. Tapi tergantung pengendalian dari diri kita,” ungkapnya.

Terkait kisah paling berkesan selama 27 tahun menjadi polisi, Anis menyatakan bahwa banyak kisahnya. Seperti menjadi penengah antara beberapa pihak ketika pembangunan fly over simpang Mall Boemi Kedaton (MBK) Bandar Lampung.

Iptu Anis dikenal selalu ada di lapangan hingga tak sulit untuk menemukannya. Tampak Anis saat megatur lalu lintas. Foto Kumparan
Iptu Anis dikenal selalu ada di lapangan hingga tak sulit untuk menemukannya. Tampak Anis saat mengatur lalu lintas. Foto Kumparan

“Dulu banyak resistensinya. Ada beberapa pihak juga yang saling kontra. Polisi ada di tengah. Disitu dituntut kita bisa menjadi penengah. Akhirnya, baik yang pro dan kontra kita ajak dialog. Dengan dialog kita bisa selesaikan,” ucapnya.

Pengalaman lain yang paling berkesan, kata Iptu Anis, saat menangkap pelaku perampokan.

“Pada tahun 1993, saya mendapatkan info ada pelaku 365 atau rampok di Hayam Wuruk Kedamaian. Menggunakan mobil LGX lima orang pelaku. Saya kejar sampai sekitar Polsek Kedaton. Sempat saya lihat dia nembak saya yang mengejar di belakang menggunakan motor. Tapi saya terus saja maju. Beruntung, di depan ada gerobak sapi yang menghalangi. Akhirnya saya bisa memepet mobil pelaku tersebut. Namun, dia berbalik arah dan kabur ke Jalan Nusantara di persawahan,” katadia mengenang.

Saat itu, Anis ingat pesan salah satu komandannya bahwa dia menembak ban mobil jangan langsung ke bannya. Tetapi dipantulkan ke aspal dulu pelurunya.

“Saya ingat itu, saya tembak aspal, saya pantulkan peluru dan kena bannya. Dor.. akhirnya ban mobil pelaku tertembak dan masuk sawah. Saat itu, kelimanya kabur ke persawahan dan dikepung warga. Saya lalu pulang mengambil peluru yang sudah habis,” ucapnya.

Saat jalan ke arah lokasi, Anis bertemu tukang becak dan memberikan info bahwa pelaku rampok dia mengenalnya. Bersama tukang becak, Anis mengejar ke Jalan Sultan Agung Way Halim.

“Dulu masih belum ramai seperti sekarang tahun 1993. Banyak sawah dulu. Akhirnya di dekat rumah Pak Yusuf Barusman Way Halim saya dan tukang becak temukan dua orang pelaku yang kabur. Saya cegat dia melawan dan mencoba merebut pistol saya. Akhirnya, saya tembak ke udara dua kali, dia malah merangkul saya mau merebut pistol. Terpaksa saat bergulat saya nggak sadar itu, saya tembak dua kakinya. Dua pelaku diamankan berikut uang Rp 50 juta dan berbagai peralatan seperti linggis dan gunting besi untuk memotong gembok. Tiga pelaku lainnya kemudian diburu setelah dua ini tertangkap,” ujarnya.

Anis mengaku bahwa yang penting menjalankan tugas dengan maksimal. “Tapi tetap, semua harus kita hitung, bagaimana dengan keselamatan kita dan lainnya. Kalau kira-kira memungkinkan dan aman, ya lanjut saja dalam menjalankan tugas,” tutur bapak satu anak itu.

Menjelang pensiun, Anis mengaku sudah punya rancangan menghabiskan masa tuanya dengan sebuah kegiatan. “Saya sudah siapkan planingnya. Tapi belum bisa saya sebutkan ya hehe,” ujarnya menutup pembicaraan. (rci/rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *