Berita Utama Satu Satu…

Satu Satu…

Grafis radarcom.id

Oleh: Isbedy Stiawan ZS

Itu bukan lirik lagu anak-anak yang pernah tenar: “satu satu aku sayang ibu…”

Ibu memang wajib disayang, juga ayah yang masuk urutan berikut.

Tetapi bagi pejabat dan kepala daerah plus anggota Dewan, bukan “aku sayang…” melainkan “disayangkan!”

 

Setelah Tanggamus, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Mesuji, teranyar Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara (bersama pejabat di kabupaten itu) dicokok KPK pada Minggu (6/10) malam.

Agung dan 7 pejabat plus swasta dibawa ke lembaga antirasuah melalui darat. Perjalanan menyeberangi Selat Sunda dan jalan beraspal, mungkin jadi pengalaman menarik.

Seorang kawan mengaku sedih, satu demi satu pejabat daerah ditangkap karena tindakan korupsi. Ini jelas akan membuat rakyat tak simpatik pada pemilihan kepala daerah, jika setelah memenangi Pilkada ternyata jauh dari harapan. Begitu cepat-cepat dan “serakah” mengumpulkan pundi uang/kekayaan.

BACA  Polisi Ungkap Urine 10 Terduga Diamankan di Karaoke King Pringsewu Positif Narkoba

Agung adalah Bupati Lampung Utara dua periode. Ia menang lawan pesaingnya. Logikanya dia mendapat dukungan masyarakat Lampura. Logikanya pula rakyat Lampung Utara akan membela habis-habisan bupatinya jika diduga melakukan korupsi.

Rakyat amat tak setuju dengan tindakan melanggar hukum. Negara ini membutuhkan uang demi mensejahterakan rakyat, bukan memperkaya para pejabat sendiri.

Tetapi, membaca status media sosial, saat OTT Bupati Lampung Utara, masyarakat bersukaria. Apakah benar?

Soal benar-tidak benar, tak perlu dibahas. Tidak ada warga yang menyetujui pemimpinnya korupsi. Bahkan, kawan akrab pun akan melepas tangan rangkulan, jika temannya terkena OTT KPK. Begitu pun pernyataan partai yang selama ini tempat bernaung pesakitan, dengan cepat mencabut keanggotan si pesakitan.

BACA  Pilkada Lamsel, TEC Kembali Daftar Penjaringan

Termasuk jika partai pendukung saat Pilkada, secepat kilat demi mengimbangi pemberitaan, menurunkan statemen: “padahal partai tak gunakan mahar….bla bla…”

Memang mahar mungkin tiada bagi calon kada, tetapi partai politik mahir memainkan istilah yang intinya sama dengan menyewa perahu dll yang jika dijumlahkan sama atau lebih dari biaya mahar.

Mahar dan mahir, memang dua kata yang berbeda makna. Namun, dalam era kini apa yang tak bisa didekat-dekatkan pemaknaannya?

Agung mungkin salah satu kepala daerah yang menjadi korban dari mahar, setoran ke sana ke sini, sehingga harus menggali sumber dana dari mana pun. Termasuk tidak dibenarkan undang-undang: korupsi, menerima setoran proyek, dan lainnya.

BACA  Kos-kosan Digerebek, Diamankan Dua Pasang Remaja

Satu satu aku sayangkan, kepala daerah ditangkap karena setoran. Ditangkap dalam OTT. Artinya, “tangkap basah” alias sedang pertemuan, transaksi, dan…

Sungguh, satu satu aku satu dan disayangkan. Jika begini, apakah kita masih meyakini kepala daerah produk pilkada benar-benar bersih dari KKN?

Semoga saja kelak, pilkada melahirkan kepala daerah yang antisetoran antikorupsi.

Duh Agung, lantas bagaimana aku menyebutmu? Lantas, aku harus mengucapkan apa? Dukalara atau kah sukacita? Tabik.. (*)

 

*) Sastrawan berjuluk Paus Sastra, Pengampu Lamban Sastra

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini