Berita Utama Negeri Badut

Negeri Badut

Grafis: radarcom.id/pinterest

Oleh Isbedy Stiawan ZS* 

 

+ Apa yang lucu?

– Aku sedang memikirkan sebuah lelucon

+ Bisa kau jelaskan lelucon itu?

– Kau tak akan mengerti

…………………….

 

Itu dialog antara Arthur dengan penyidik dalam film “Joker”. Kisah di sebuah kota bernama Gotham yang dipimpin Thomas Wayne (TW) yang dipenuhi demonstrasi berulang-ulang.

 

Bermula Arthur sejak anak-anak bercita-cita menjadi pelawak. Ia tak mau sekolah walaupun ibunya menginginkannya menempuh pendidikan.

 

Tekanan dan didikan sangat keras membuat jiwanya terganggu hingga besar. Arthur, sang Joker, kerap tertawa tanpa sebab. Ketika menjadi badut, ia diganggu dan dianiaya anak-anak berandal. Puncaknya di dalam perjalanan di kereta. Arthur yang dibekali senjata api untuk menjaga diri dari rekannya, tanpa berpikir panjang moncong pistol ia arahkan ke tubuh para berandal di kereta api itu. Mati! Seorang berandal lari dan di tangga peron stasiun ia tembak hingga mati di tempat.

BACA  Pimpinan Definitif DPRD Kabupaten Pringsewu Dilantik dan Diambil Sumpah

 

Kematian para berandal itu justru mendapat respon TW. Dalam pidatonya, ia sebut berandal-berandal itu adalah sampah dan layak mati.

 

Begitu pun kehadiran para warga yang berdemo mengenakan pakaian badut adalah perongrong dan sampah.

 

Akibat pernyataan Thomas Wayne tersebut, Kota Bogham  semakin kacau. Demo berlangsung sarkas. Di kereta yang sedang melaju, pihak keamanan mati di tangan para pendemo.

 

Walikota Bogham terancam. Rakyat mendesak agar Thomas turun dari jabatan. Thomas yang ternyata ayah Arthur, meski TW tak pernah mengakuinya bahkan dikatakan sebagai anak adopsi. Hal itu membuat Arthur Joker makin murka.

BACA  Hj. Mastuah Resmi Jabat Wakil Ketua DPRD Pringsewu

 

Sebelum membunuh ayahnya, Arthur mencekik ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit. Padahal sebelum ia mencuri baca surat ibunya kepada Thomas Wayne, ia sangat sayang dan merawat ibunya dengan cinta kasih.

 

Sepertinya, ia beranggapan: ibu yang melahirkan dirinya menjadi gila. Sedangkan ayah atau pemimpin, yang merawat kegilaannya.

 

Arthur yang Joker atau pelawak, ingin menjadikan hidup sebagai lelucon, sementara kematian adalah keindahan.

 

Tetapi, di mata rakyat yang badut, Arthur dielu-elu pahlawan karena mampu melengserkan TW. Berbeda 100 persen di mata hukum. Karena itu ia dijebloskan ke penjara.

 

Dalam penyidikan, ia selalu menertawakan hukum. Ia anggap lucu, seperti hidup ini.

 

Badut! Itulah kata kunci dalam bernegara. Di negara mana pun. Pemimpin merupakan kepala badut, dan rakyat adalah badut-badut. Hukum juga lelucon untuk ditertawakan.

BACA  Ketua PRSI Lampung: Untuk Jadi Juara, Jangan Lupakan Tuhan

 

Jika demonstrasi (unjuk rasa) dianggap permainan lelucon, maka yang memerintahkan pengamanan dengan cara-cara kekerasan, lebih daripada badut.

 

Jika unjuk rasa dilindungi negara sebagai hak warga bersuara atau berpendapat namun diterima kekuasaan sebagai ancaman, lantas siapa yang lebih lelucon dan badut?

 

Joker memang aktual pada kondisi saat ini dalam berbangsa dan bernegara. Di mana pun. Joker sebuah representasi manusia “sakit jiwa” di tengah-tengah masyarakat.

 

Ia halal mentertawakan keadaan, dan boleh ditertawakan.

 

Begitulah badut. Di balik topeng dan warna wajahnya, tersembunyi ironi dan duka!

 

Tabik.

 

*) Sastrawan berjuluk Paus Sastra, Pengampu Lamban Sastra

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini