Berita Utama Dan Rangkasbitung, Ingatan Multatuli

Dan Rangkasbitung, Ingatan Multatuli

Stasiun Rangkasbitung Lebak Banten, Jumat (6/9/19). Foto Isbedy Stiawan ZS for radarcom.id
Stasiun Rangkasbitung Lebak Banten, Jumat (6/9/19). Foto Isbedy Stiawan ZS for radarcom.id

Penyair Lampung, Isbedy Stiawan ZS, mengikuti La Tansa International Literary Festival (LILFEST) sebuah pertemuan penyair muslim dunia yang diadakan oleh Pondok Pesantren La Tansa, Lebak, Banten. Acara yang dibuka malam nanti akan diisi pembacaan puisi dari penyair yang diundang. Pengampu Lamban Sastra berjuluk Paus Sastra Lampung tersebut sudah di Lebak. Inilah laporannya. 

AKHIRNYA perjalanan dengan kereta api dari Merak ke Rangkasbitung terwujud.

Subuh kapal yang membawaku dari Bakauheni, Lampung, merapat. Pukul 05.45 kami melangkahi koridor dermaga ke stasiun KA Merak. Kereta berangkat pukul 06.30, 2 jam perjalanan. Tiket seharga Rp3 ribu. Wow! Murah sekali. Berbeda jauh ongkos KA Tanjungkarang-Kotabumi. Ternyata Jawa dan Sumatera soal ongkos transportasi perbandingan mencolok.

BACA  Penuhi Nazar, Warga Lambar Naik Sepeda Roda Satu Temui Jokowi di Jakarta, Dilepas Mukhlis Basri
Dua penyair senior Isbedy Stiawan ZS dari Lampung (kiri) dan Anwar Putra Bayu dari Sumatera Selatan (kanan) menuju LILFeST di Lebak Banten (6/9/19). Foto Istimewa

Apa yang kurindukan, mengenang era kolonial tercapai. Penyair Sumatera Selatan, Anwar Putra Bayu, juga berselera sama.

Kami nikmati perjalanan spoor selama 2 jam dengan bahagia. Apatah fasilitas pendingin (AC) yang bagus, ada alat ngecas HP, toilet yang baik. Sempurnalah 2 sang pribumi ini merasakan era kolonial di zaman modern.

Santai, rileks. Tak terasa stasiun demi stasiun kecil dilewati. Sampailah aku di Stasiun Rangkasbitung. Ini stasiun terakhir KA lokal. Dari sini ke Jakarta gunakan KRL.

Rangkasbitung. Ini daerah bagian dari Kabupaten Lebak, mengingatkan sang Multatuli/Max Havelaar/Dauwes Dekker. Lelaki Nederland yang datang ke Indonesia seharusnya membawa misi Ratu: penjajah. Decker ternyata tak bisa melihat kekejian, ketakadilan oleh kolonial. Boemi Poetra jadi sapi perah, injakan, dan lain-lain.

BACA  Dua Gempa Bumi Tektonik Terjadi di Laut Jawa, Tak Berpotensi Tsunami
Tiba di Rangkasbitung Lebak Banten. Foto Istimewa for radarcom.id

Buku Max Havelaar dengan tokoh Multatuli yang digambarkan selalu memakai sal. Juga Saija dan Adinda.

Decker juga membongkar terjadinya tindakan korupsi yang dilakukan oleh Bupati Lebak kala itu.

Segala kekejian kolonial dilaporkan secara tertulis kepada Ratu di Belanda. Pihak kerajaan di Belanda juga tahu dari tulisan-tulisan Dekker!

Malahan penulis Max Havelaar itu tak diterima di negerinya. Ia kemudian memilih kontrakan (sebuah kamar) di luar negeri Keju hingga wafat.

Di Rangkasbitung diabadikan nama Multatuli untuk sebuah jalan.

Ya! Aku ingin mengenang perjalanan kolonial dengan menggunakan KA. Transportasi produk Belanda.

BACA  Pegiat Literasi Geruduk Fraksi PKS Lampung, Ada Apa?

Tetapi, tentunya, aku tak hendak mengambil pelajaran dari sikap penjajah. Sekadar napaktilas sang priboemi. Si Boemi Poetra. Anak Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945.

Tak lupa aku pun menulis puisi…

Multatuli, Ini Pena!

..

ke rangkasbitung kami tuju
max havelaar di dada, tak
matimati. ingin jumpa bupati
lebak

hayo! multatuli, ini pena!

jangan panggil dekker
orangorang tahu havelaar
multatuli di lembarlembar
meski kemudian dibuang
ke pinggir kota

mati di kamar kontrakan

hayo! multatuli, ini pena!

saatnya cari tahu
bupati lebak itu

bukan sekarang

Merak-Rangkas, 6 09 19

* bersama Anwar Putra Bayu

 

Isbedy Stiawan ZS,

Pengampu Lamban Sastra

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini